
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Anggara kembali menyuruh sekretarisnya masuk ke ruangannya. Meskipun dongkol, sang sekretaris akhirnya tetap menemuinya.
Ia kembali membantu Anggara meneliti dan mengecek laporannya yang banyak terjadi kesalahan. Hingga waktunya pulang tiba.
Sang sekretaris meminta ijin pulang. Tapi tidak diperbolehkan oleh Anggara. Laki-laki itu memintanya untuk menemaninya sampai urusan pekerjannya selesai.
Sekretaris yang tidak terima, akhirnya diam-diam mengirimkan pesan pada sang atasan. Siapa lagi kalau bukan pak Anwar.
Brakk...
Anggara dan sekretarisnya tersentak kaget. Keduanya menoleh bersamaan melihat ke arah pintu, sambil mengusap dada.
Terlihat pak Anwar yang berdiri di ambang pintu.
"Amel, ayo pulang sekarang." Titah lelaki itu.
Sang sekretaris yang tadinya sempat khawatir akan di marahi, kini tersenyum lega. Ternyata bos nya berada di pihaknya, terbukti dengan menyuruhnya pulang.
"Pa, ini pekerjaan ku tinggal sedikit. Aku boleh sekarang kan?" Anggara menunjukkan tumpukan map yang mulai menipis. Jauh berbeda saat awal papanya memberikan padanya.
"Apa kamu lupa dengan apa yang papa ucapkan tadi?"
Anggara menelan saliva, mendengar penjelasan papanya. Sedangkan wanita yang ada dihadapannya, segera bangkit dari duduknya, lalu melenggang pergi.
"Lain kali, kalau dia menyuruh mu jangan mau. Biarkan dia mengerjakan tugasnya sendiri." Ucap pak Anwar, saat sekretaris melewatinya.
"Baik, pak." Ucap sekretaris dengan hati yang girang.
"Ingat baik-baik ucapan ku tadi." Ulang pak Anwar, lalu memutar tumit, dan berjalan menyusul sekretarisnya.
Anggara menatap dengan nanar, melihat papa dan sekretarisnya yang meninggalkannya sendirian di ruangannya.
Setelah bayangan papa dan sekretaris tidak lagi terlihat, Anggara kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya. Segala macam panggilan di handphonenya, ia abaikan. Yang penting ia bisa secepatnya pulang.
__ADS_1
Butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai, ia masih harus mengirim videonya ke papanya.
Sambil menunggu balasan pesan dari papanya, ia memutar kursinya sambil merentangkan kedua tangannya. Untuk merilekskan tubuhnya yang terasa capek dan pegal-pegal.
Tiba-tiba angin berhembus, yang menyebabkan tirai jendela bergerak berkibar-kibar. Apalagi di gedung yang tinggi dan besar itu, hanya tinggal dirinya seorang. Bayangan film horor mulai melintas di kepalanya.
"Ah, kenapa jadi horor begini sih? Lebih baik aku pulang saja. Dari pada ngga bisa tidur nanti malam." Gumam Anggara.
Laki-laki itu bergegas merapikan mejanya, lalu menyambar tas kerjanya. Dan segera berlari kencang menuju lift.
Ketika di dalam lift, ia juga menekan tombol liftnya berulang kali. Berharap cepat sampai di lantai bawah.
Karena rasa takut yang mulai menderanya, Anggara merasa lift itu berjalan sangat lambat. Bahkan kecepatannya kalah dari siput.
"Ini perusahaan bakal jadi milik ku. Aku tidak boleh takut." Gumam Anggara, untuk meyakinkan dirinya.
Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lift, dan melihat ke lantai tempat dirinya berpijak, juga mendongakkan kepalanya. Ia menghirup nafas lega, sambil mengusap dadanya karena tidak ada apa-apa.
Glek ...
"Ya ampun, kenapa aku jadi separno ini sih? Anggara itu laki-laki yang tampan, dan juga pemberani. Tidak boleh takut, tidak boleh cemen. Apa kata dunia nanti?" Gumamnya sambil melangkah keluar dari lift.
Ia melenggang melewati lobby sambil bersiul. Dan tak di duga, lampu lobby seketika padam. Laki-laki itu menjerit ketakutan, sambil berlari sekencang mungkin, menuju basement.
Di basement, juga tinggal mobilnya saja. Suasana begitu hening dan lengan. Ia segera memasukkan kunci mobilnya, lalu menstaternya tapi tidak kunjung bisa. Hingga akhirnya ia yang semakin ketakutan, pipis di celana.
Arghhh..
Kembali Anggara berteriak histeris.
"Sepertinya kantor ini harus di rukayah. Agar tidak horor lagi." Gumamnya, sambil terus berusaha menyalakan mesin mobil.
Setelah berusaha, akhirnya mesin mobil hidup. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Aduh, kenapa pintu gerbangnya sudah di tutup sih. Kemana security? Awas mereka, jika pekerjaannya tidak benar, akan aku potong gaji."
Anggara pun beringsut turun dari mobil, dan berniat membuka pintu gerbangnya.
Arghh...
Entah, untuk yang ke berapa kalinya Anggara berteriak. Badannya bergetar, hingga ia pipis lagi di celana, saat merasakan sentuhan dingin di bahu sebelah kirinya.
"Mas, kenapa teriak-teriak segala sih?"
Anggara seketika terdiam, dan perlahan menoleh.
"Kamu security?" Tanya Anggara dengan bodohnya.
Padahal sudah jelas terlihat laki-laki dihadapannya memakai seragam putih navy. Dan ia memang security yang bekerja sejak awal perusahaan berdiri, hingga sekarang.
"Iya, mas."
"Ah, dasar. Security sialun." Anggara memukul kepala laki-laki dihadapannya.
"Kemana saja? Kerja tuh yang benar. Jangan cuma tiduran. Sampai aku harus buka pintu gerbang sendiri."
"Maaf, mas. Tadi saya baru sholat Isya'."
"Ah, masa bodoh. Itu urusan mu, yang jelas kamu harus bekerja dengan baik."
Anggara melenggang pergi, menuju mobilnya. Tali batu beberapa langkah, ia memutar badannya.
"Kalau kamu bisa sholat, kamu pasti juga bisa rukayah. Tolong perusahaan ini di rukayah, agar tidak ada hantunya." Ucap Anggara.
"Rukayah?" Ulang security sambil garuk-garuk kepala.
"Ruqyah ya mas maksudnya?"
__ADS_1
"Ah, pokoknya yang untuk mengusir hantu. Terserah apa namanya." Anggara meninggalkan security yang masih terpaku memikirkan ucapannya.