
[Selamat sore calon istriku. Semoga acaranya nanti bisa sukses ya.
Jangan ragu untuk menularkan ilmu yang kamu punya pada banyak orang. Sesungguhnya ilmu yang kamu tularkan itu bisa mendatangkan manfaat di dunia dan akhirat untukmu.
Jangan pernah takut rezekimu akan berkurang, karena orang-orang mencontoh apa yang kamu lakukan demi bisa sukses. Rezeki itu tidak pernah salah alamat.
Setelah pekerjaan ku selesai, aku akan melihat mu dari tayangan televisi. Akan selalu ku ingat, dua puluh delapan hari lagi menuju halal.] Isi pesan Thoriq, yang disertai dengan emoticon tuyul tertempel daun, dalam jumlah yang banyak.
[Selamat sore juga, kak. Terima kasih atas doa dan nasehatnya.
Tsa akan berusaha menjalankan nasehat kak Thoriq dengan baik. Karena sombong bukan sifat Tsa.
Tsa tidak akan pernah melupakan hal itu. Karena dua puluh delapan hari lagi, Tsa akan menunjukkan wujud bakti Tsa pada kakak, sebagai seorang istri.] Balas Tsamara, dengan disertai emoticon tuyul tersenyum.
"Kak, ada apa sih? Kok senyum-senyum sendiri." Soffin menyenggol lengan Tsamara, sehingga membuatnya terkejut, dan tersadar dari lamunannya.
"Kenapa pakai acara tanya-tanya segala sih, Sof? Padahal sudah jelas jawabannya apa." Celetuk Farah.
"Memang jawabannya apa, kak?" Bocah kecil itu menoleh pada Farah.
"Ya siapa lagi jawabannya, kalau bukan karena kak Thoriq. Gitu saja kok susah banget mikirnya." Balas Farah dengan santainya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Oh, benar juga ya. Sebentar lagi kan kak Tsa sama kak Thoriq mau menikah." Soffin menepuk jidatnya sendiri.
Papa yang mendengarkan pertikaian kecil dari mulut anak-anaknya tampak tersenyum sendiri.
__ADS_1
Andai saja istrinya masih hidup, pasti ia sangat senang melihat kehebohan yang diciptakan oleh ketiga anak-anaknya.
Tidak hanya itu saja, pasti ia juga akan bahagia karena sebentar lagi putri sulungnya akan menikah.
Sungguh sebuah perjuangan yang tidak mudah, menjadi single parents yang membesarkan ketiga anak, dan bisa mengantarkan anaknya ke jenjang yang tertinggi, yakni sebuah pernikahan. Mata pak Abas sampai berkaca-kaca.
Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, akhirnya mereka sampai di gedung stasiun televisi.
Mereka pun segera keluar dari mobil, dan sejenak mengedarkan pandangannya di pelataran dan gedung yang tinggi menjulang.
"Keren juga ya kak gedungnya." Celetuk Soffin, yang tampak selalu antusias dalam menilai suatu hal.
"Keren dong. Kalau ngga keren, mana mau kak Tsa di undang kesini." Sahut Farah.
"Ish, sukanya memfitnah orang deh. Padahal aku kesini tuh karena memang niat serius ingin berbagi ilmu."
"Kalian sudah besar, malu dong kalau ribut melulu. Ayo masuk ke dalam." Ajak papa.
"Siap, pa." Balas ketiga anak itu kompak.
Mereka berempat pun berjalan memasuki gedung itu. Sesampainya di lobby, mereka meminta informasi terkait acara live untuk Tsamara, pada resepsionis.
Setelah mendapatkan informasi, mereka dipersilahkan duduk di lobby, sambil menunggu seseorang yang bertanggungjawab dengan acara live itu.
Tak berselang lama, setelah mereka duduk, terlihat seorang laki-laki yang berjalan dan berhenti tepat di depan keluarga Tsamara duduk.
__ADS_1
"Selamat sore, Tsamara." Sapa pria itu ramah, pada sang pemilik nama. Lalu ia pun mengulurkan tangannya mengajak untuk berjabat tangan.
"Selamat sore juga, kak Fahmi." Tsamara bangkit dari duduknya, dan membalas jabat tangan itu. Keduanya sama-sama menyunggingkan senyum.
Setelah berjabat tangan dengan Tsamara, Fahmi juga menjabat satu persatu keluarganya Tsamara yang berada disitu.
Tak lebih dari lima menit, mereka bercakap-cakap. Lalu mereka pun berjalan bersama masuk ke lift, yang akan membawa mereka menuju tempat acara.
Keluarga Tsamara di persilahkan duduk di kursi tunggu, yang ada di tempat syuting. Sedangkan Tsamara sendiri di ajak oleh Fahmi menuju tempat make up.
Mereka yang ada di ruang make up, sempat kagum melihat Tsamara dari dekat. Tubuhnya benar-benar indah, dan wajahnya juga terlihat bersinar. Sehingga begitu membuat para wanita mengiri. Sedangkan para laki-laki pasti akan meneteskan air liur. Termasuk Fahmi.
Pria itu mengajak Tsamara lebih mendekat pada karyawan wanita, yang tengah berdiri sambil mendandani seseorang yang ada dihadapannya.
"Ra, tamu kita sudah datang. Tolong dandani Tsamara dengan semaksimal dan sebaik mungkin." Ucap Fahmi pada Ara, sang MUA.
"Siap, bos." Balas Ara sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah itu pandangan Fahmi beralih pada wanita yang berdiri di dekat standing rak yang berisi deretan kostum yang berwarna warni.
"Rita, kamu siapkan kostum yang cocok untuk Tsamara."
"Siap, bos." Rita pun menganggukkan kepalanya juga.
"Tsamara, aku tinggal kamu disini ya. Tenang saja, semua karyawan ku adalah orang baik."
__ADS_1
"Iya, kak. Tidak apa-apa. Aku berani kok, kan bukan anak kecil lagi." Balas Tsamara yang disertai kekehan kecil. Membuat wajahnya semakin terlihat cantik.