Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
52. Pagi-pagi heboh


__ADS_3

Dalam sekejap saja, kabar Tsamara yang menjadi seorang brand ambassador telah menyebar luas ke daerah tempat tinggalnya. Baik yang sekarang, maupun yang dulu.


Awalnya semua orang tak menyangka jika itu adalah foto Tsamara. Hingga mereka memperhatikan dengan lebih teliti pada bagian wajahnya.


Setelah meneliti, akhirnya mereka baru benar-benar percaya, jika itu memang Tsamara.


Mereka benar-benar dibuat terkejut dengan perubahan besar-besaran yang terjadi pada Tsamara. Gadis itu tidak hanya mengalami penurunan berat badan saja.


Tapi badannya juga berubah menjadi langsing, dan dibeberapa bagian tubuhnya seperti bamper dan dadanya terlihat lebih padat dan menonjol.


Membuat para wanita iri, dan ingin sekali memiliki tubuh seperti Tsamara. Sedangkan para lelaki, otaknya sudah berkelana kemana-mana.


Bahkan di kediamannya yang lama, para tetangganya menyerbu rumahnya untuk meminta foto bersama.


Security nya memang tidak mengetahui jika majikannya tengah menjadi artis dadakan. Gara-gara fotonya terpampang di berbagai tempat. Sehingga ketika para tetangga menyerbu rumah majikannya, ia tampak cengo.


"Ada apa ini? Kalian mau minta sumbangan, atau demo. Hah?" Tanya security sambil berkacak pinggang.


"Kami mau minta foto sama tanda tangan nya Tsamara."


"Hah? Buat apa?" Security itu masih terlihat kebingungan, hingga mengernyitkan dahi.


"Ya buat di upload di media sosial lah." Jawab salah satu warga.

__ADS_1


"Bukan kah dulu kalian menghina majikan ku? Kenapa sekarang justru mau minta foto?"


Security itu tersenyum mencemooh. Sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Laki-laki berseragam navy, yang bernama pak Ujang itu, tahu bagaimana dulu para tetangga mencemooh Tsamara, yang berbadan gendut. Dan menghinanya seperti ibu-ibu yang sedang hamil. Padahal belum menikah.


Apalagi ketika Tsamara gagal menikah. Semua orang tanpa di komando, sudah berlomba-lomba saling menghinanya.


Para asisten rumah tangga, juga merasa tidak senang dengan kelakuan para tetangga yang julid seperti itu. Mereka begitu kasian melihat majikannya yang baik hati, harus diperlakukan demikian.


Para asisten rumah tangga itu, mendoakan Tsamara, semoga ada laki-laki baik hati yang mau menerimanya apa adanya. Meskipun ia berbadan gendut.


"Pak! Bukain pintunya dong." Teriak salah satu ibu-ibu yang ngebet ingin sekali berfoto dengan Tsamara.


"Tidak bisa. Non Tsamara baru keluar kota. Dia sibuk pemotretan." Dusta security itu.


Padahal Tsamara pindah ke sebuah rumah kontrakan yang sederhana. Dan tetangganya tidak ada yang mengetahuinya sama sekali.


"Kapan pulangnya?"


"Tidak tahu. Non Tsamara kan baru naik daun. Jadi pasti jadwal pemotretannya padat." Balas security, yang tentunya hanyalah sebuah dusta belaka.


Karena tidak mendapatkan apa yang dicari, akhirnya kerumunan itu bubar. Satu persatu dari mereka meninggalkan kediaman Tsamara dengan gurat kecewa yang terlihat di wajahnya.


Sementara itu, pak Ujang segera berlari ke dapur. Untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi di luar.

__ADS_1


Laki-laki berseragam navy itu menceritakan semuanya, hingga seujung kuku pun tidak ada yang terlewat dari pantauannya.


Para asisten rumah tangga yang mendengarnya, saling beradu pandang dengan mulut menganga. Rasa penasaran mereka semakin membuncah, dan ingin melihat sendiri kebenarannya.


"Bagaimana kalau kita datangi di kontrakannya?" Celetuk salah satu dari asisten rumah tangga itu.


"Betul itu. Aku setuju."


"Iya. Aku juga setuju." Balas yang lainnya.


"Aku berharap non Tsamara memang benar-benar bisa berubah. Terus balas dendam tuh ke calon suami yang menggagalkan pernikahannya. Biar tahu rasa dia."


"Setuju. Enak saja, main batal-batalan. Mana pak Abas sudah keluar uang banyak lagi."


"Iya. Benar tuh. Aku sumpahin tuh laki yang nyakitin hati non Tsa, perkututnya buntung."


"Haish, kenapa seram sekali doa mu. Ganti yang lain dong." Protes security, ia yang tadi terlihat santai, justru bergidik ngilu, membayangkan hal itu terjadi pada senjatanya. Tanpa sadar mengusap senjatanya sendiri.


"Kata yang sudah keluar. Tidak dapat ditarik lagi. Memang kita ini lagi tarik tambang." Sengit salah satu asisten rumah tangga. Ia ikut terbawa suasana. Membayangkan dirinya berada di posisi Tsamara.


"Eh, by the way. Kita kesana nya sebaiknya sore saja. Ini sudah pukul tujuh, pasti non Tsamara juga sedang mengantar mas Soffin sekolah."


"Ah, sejak kapan kamu bicara sok british. Pembantu saja belagu." Seloroh asisten rumah tangga yang lain, pada temannya yang mengucapkan kata by the way.

__ADS_1


"Sejak non Tsamara jadi artis. Kita sebagai asisten rumah tangganya juga harus sedikit lebih maju. Lebih gaul."


Mereka pun terkekeh bersama, mendengar ucapan temannya yang terdengar seperti sebuah candaan.


__ADS_2