
Hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa sudah hampir satu tahun Tsamara melakukan program dietnya.
Sekarang berat badannya sudah menunjukkan angka empat puluh lima. Dari berat badan awal sembilan puluh kilogram. Itu artinya ia sudah kehilangan setengah berat badannya.
Ia ingin mempertahankan berat badannya diangka itu. Ia pun tetap melakukan aktivitasnya sebagaimana biasanya. Mengkonsumsi lebih banyak sayur, buah, air mineral, multigrain, olahraga, serta naik sepeda kemana saja.
Hal itu terlihat dari perubahan bentuk badannya yang langsing bak gitar Jawa. Karena dibeberapa bagian penting pada tubuhnya, justru tampak menonjol. Ditambah dengan kulitnya yang tampak putih bersih, rambut hitam panjang dan legam, serta memiliki lesung pipi. Membuatnya seperti gadis berusia tujuh belas tahun.
Keluarganya juga turut senang, akhirnya Tsamara berhasil melakukan dietnya.
**
Sore itu, seperti biasanya Tsamara akan mengayuh sepeda untuk mengantarkan Soffin les. Gadis gendut yang berubah menjadi langsing itu mengenakan stelan kaos putih polos, dan celana hitam di atas lutut. Rambut panjangnya ia ikat ke belakang, lalu di selipkan di antara lubang topi berwarna hitam yang ia kenakan.
"Ayo, dek. Kita berangkat." ucap Tsamara sambil mengetuk pintu kamar adiknya.
"Ayo, kak." balas Soffin sambil membukakan pintu kamarnya.
Mereka pun berboncengan menuju ke tempat les. Sepanjang perjalanan, banyak mata laki-laki yang memandang ke arah Tsamara. Karena badannya begitu molek.
Tak jarang dari mereka bersiul sambil menatap serius ke arah gadis itu. Sebenarnya hal itu sudah sering sekali Tsamara rasakan. Tapi ia hanya cuek saja.
__ADS_1
"Belajar yang pintar ya." ucap Tsamara pada adiknya, ketika si bocah akan masuk ke ruangannya.
Setelah adiknya masuk ke ruangannya, seperti biasa Tsamara akan duduk di kursi taman sambil menulis. Hasilnya menulis sungguh sangat lumayan. Ia tak menyangka, dari yang awalnya sekedar hobi, malah menjadi ladang uang untuknya.
Thoriq, laki-laki itu baru saja keluar dari mobilnya. Ia tersenyum melihat Tsamara yang sedang duduk di kursi taman seperti biasanya. Lalu ia pun menghampirinya.
"Hai."
Tsamara mendongakkan kepalanya, lalu menatap Thoriq. Gadis itu membulatkan matanya, ketika melihat penampilan laki-laki yang ada dihadapannya itu tampak jauh berbeda.
Biasanya, pemuda itu berpenampilan casual. Tapi kali ini ia memakai kemeja biru muda, celana dan jas berwarna senada, hitam. Penampilannya tampak sangat formal.
"Kenapa bengong?"
"Eh, ti-tidak apa-apa kok, kak." Tsamara terlihat salah tingkah, lalu menyelipkan anak rambutnya ke telinga sebelah kanan. Lagi-lagi Thoriq tersenyum melihat tingkah gadis itu.
"Aku butuh bantuan mu."
"Hah, ban-bantuan? Bantuan apa kak?" Tsamara menatap wajah Thoriq.
"Produk vitamin diet ku terus mengalami peningkatan. Aku ingin kamu menjadi brand ambassador untuk produk ku itu. Karena sejak awal foto mu lah yang sering aku promosikan."
__ADS_1
"Br-brand ambassador?" ulang Tsamara sambil mengerjapkan matanya. Terlihat indah dan cantik sekali. Hingga membuat debaran aneh di hati pemuda yang ada disamping.
"Iya, brand ambassador. Kamu mau kan membantuku? Aku sudah menyiapkan surat kontraknya. Kamu bisa baca dulu poin-poin penting yang akan kamu dapatkan." Thoriq mengulurkan map hijau yang tadi ia bawa.
Dengan ragu Tsamara menerima map itu. Lalu mulai membacanya. Ia menelan saliva ketika melihat nominal royalti yang akan didapatkan selama dua tahun ke depan. Cukup untuk membeli sebuah mobil baru Pak Jero.
"I-ini ngga terlalu kebanyakan ya kak? Nanti kalau kakak rugi bandar gimana?" Tsamara bertanya dengan suara parau. Rasanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"In shaa Allah, tidak. Aku sudah memperhitungkannya matang-matang. Bagaimana, kamu mau tidak?"
Sesaat Tsamara diambang kebingungan. Karena ia masih tidak percaya menerima tawaran semenarik itu.
"Apa aku boleh mempertimbangkan dengan papaku dulu, kak? Soalnya ini menyangkut uang dan konsekuensi kerja. Apalagi aku ini tidak memiliki pengalaman apa-apa. Pekerjaan ku hanya mengurus rumah dan mengantar jemput adikku sekolah dan les. Makanya aku tertinggal jauh dari sebuah pergaulan." ucap Tsamara dengan wajah sendu.
Tatapannya menerawang jauh, membayangkan hari demi hari yang telah ia lewati. Sebenarnya ia juga ingin kuliah seperti teman-temannya yang lain, tapi ternyata Soffin benar-benar mengalahkan semua cita-cita Tsamara.
Thoriq merasa iba mendengar curahan hati gadis disampingnya. Maka dari itu, ia juga ingin mengajaknya untuk bekerja sama dengannya.
Selain mendapatkan uang, Tsamara juga bisa bersosialisasi dengan banyak orang. Perlahan ia juga ingin memperkenalkan gadis itu dengan dunia bisnis.
"Tidak apa-apa, jika kamu ingin menyampaikannya dengan keluarga mu. Justru itu lebih baik. Karena kamu bisa meminta doa dan restu dari mereka. Bagaimana pun juga, doa saudara itu sangat penting."
__ADS_1
Tsamara tersenyum senang, mendengar penjelasan laki-laki disampingnya. Thoriq pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manis pula.