
Anggara dan Olive berjalan menuju pelaminan, dengan diiringi oleh kedua orang tuanya. Tapi hal yang tak diinginkan terjadi, yakni pak Anwar menubruk tubuh Anggara.
Hal itu terjadi karena mempelai pria menghentikan langkahnya tiba-tiba, ketika melihat penampilan Tsamara yang sungguh memukau.
Sontak saja, kejadian tidak terduga itu membuat tamu undangan menahan tawanya. Tapi ekspresi yang berbeda jelas ditunjukkan oleh kedua orang tua Olive. Yang duduk agak jauh dari pelaminan, sesuai arahan MC.
Kedua orang tua Olive mendengus kesal seraya menepuk jidatnya. Mereka tak habis pikir, bisa memiliki besan dan menantu yang luar biasa somplak.
"Ini bukan sebuah anugerah. Tapi sebuah musibah." Lirih pak Sanusi, menahan geram.
"Anggara, kamu apa-apaan sih? Kenapa berhenti tiba-tiba?" Bisik pak Anwar.
"Maaf, pa. Mata Anggara kelilipan bidadari."
Olive tersipu malu, ketika mendengar jawaban Anggara. Padahal yang di maksud bidadari oleh suaminya bukanlah dirinya, tapi Tsamara.
"Sudah bertemu sejak kemarin, apa belum cukup? Ayo jalan lagi." Titah pak Anwar. Anggara menganggukkan kepalanya, lalu kembali berjalan.
Kini kedua mempelai telah sampai di pelaminan. Anggara semakin menatap lekat wajah Tsamara, sambil tersenyum lebar.
Dan, ketika melihat ada Thoriq di sampingnya, wajahnya berubah masam. Apalagi melihat pria itu tampak akrab dengan pak Abas.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Olive tampak berjalan menyusul mereka di pelaminan. Lalu berfoto bersama.
"Fokus lihat saya, ya." Ucap sang fotografer, ketika melihat Anggara kurang memperhatikannya.
Beberapa kali mereka melakukan foto bersama, lalu dipersilahkan duduk untuk mengikuti acara selanjutnya.
Ketika mereka duduk, barulah Olive menyadari jika ada Tsamara dan Thoriq yang menghadiri pesta pernikahannya.
__ADS_1
Ia sangat iri dengan kecantikan dan bentuk tubuh yang Tsamara miliki. Ia juga merasa tak nyaman, ketika Thoriq ikut hadir dalam acara itu.
Padahal ketika acara pesta pernikahan di kediamannya saja, sengaja tidak diundang. Untuk menyembunyikan hal itu darinya.
Hampir dua jam, pesta pernikahan itu berjalan. Hingga akhirnya, kini tiba di penghujung acara. Satu persatu tamu bangkit berdiri, dan berjalan menuju ke pelaminan, untuk memberi ucapan selamat pada keluarga mempelai.
Tsamara mengulurkan tangannya, untuk bersalaman dengan Olive. Dengan enggan mempelai wanita itu menerima uluran tangannya.
"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga rumah tangga kalian selalu harmonis, mampu menyelesaikan setiap masalah dengan bijak. Do'akan aku segera menyusul." Doa Tsamara, dengan tulus. Setelah itu, ia bersalaman dengan Anggara.
'Wow. Tangan Tsamara lembut sekali.' batin pria itu.
"Anggara, jadilah suami yang baik untuk istrimu. Dan jadilah panutan bagi anak-anak mu kelak."
"Eh, iya. Tentu saja, aku akan melakukan hal itu. Jangankan memimpin untuk istriku, untuk istri orang lain saja aku juga bisa." Balas Anggara dengan jumawa.
"Mas." Olive menyenggol lengan suaminya, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bocah kecil, tahu apa sih?" Sungut Anggara kesal.
"Soffin. Sudah, jangan ingatkan dia lagi. Biar Tuhan sendiri yang mengingatkan dia langsung." Ucap Thoriq menasehati calon adik iparnya.
Setelah Tsamara bersalaman dengan kedua mempelai, kini giliran Thoriq. Pria itu juga melakukan hal yang sama dengan Tsamara, yakni mendoakan kebaikan untuk keduanya.
Olive merasa tidak nyaman ketika bersalaman dengannya. Rasanya sedih, karena mendahuluinya menikah.
Setelah bersalaman dengan Olive, Thoriq bersalaman dengan Anggara. Suami dari Olive itu tidak hanya sekedar bersalaman, tapi juga sampai mereemas dengan kuat tangan Thoriq.
Thoriq pun membalasnya dengan lebih kuat lagi, hingga Anggara menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Kamu suka sekali main kekerasan." Seru Anggara.
"Kak Thoriq itu orangnya lembut, dan tidak suka kekerasan. Tidak seperti kamu. Lagian tadi Soffin lihat sendiri kok, kalau kamu duluan yang meremaas tangan kak Thoriq. Makanya kak Thoriq membalas." Tutur Soffin, dengan polosnya.
Mereka yang mendengar ucapan Soffin, sampai geleng-geleng kepala, karena merasakan sikap Anggara yang sungguh kekanak-kanakan.
"Semoga kalian berdua bahagia ya. Aku sangat bersyukur, kakakku tidak jadi menikah denganmu. Coba kalau jadi menikah..."
"Pasti akan sangat memalukan sekali. Hi, Soffin tidak mau ah." Soffin meneruskan ucapan kakaknya, Farah.
Kini tiba giliran pak Abas yang bersalaman dengan pak Anwar.
"Kamu suka kan menghadiri acara pernikahan anakku?"
"Tentu saja aku sangat senang. Sangat mewah."
"Hem, tentu saja." pak Anwar melipat kedua tangan dengan bangganya.
Tapi bukan pak Abas namanya, kalau tidak bisa membungkam mulut temannya yang kurang ajar itu. Segera ia merogoh sesuatu dari saku jasnya, lalu menyerahkannya pada pak Sanusi.
"Tenang saja, aku dan keluargaku kesini bukan untuk mengemis minta makanan padamu. Tapi justru ingin berbagi rezeki. Semoga uang ini, cukup untuk membantu membayar biaya pesta pernikahan anakmu yang begitu megah ini."
Pak Anwar begitu syok, hingga mulutnya menganga, melihat pak Abas menyerahkan amplop coklat yang tebal padanya.
"Ini isinya uang atau daun?"
"Buka saja sekarang, agar kamu bisa mengetahui isinya."
Tanpa rasa malu, pak Anwar segera membuka amplop dari pak Abas. Mulutnya kembali menganga, ketika melihat isi dalam amplop itu, berupa lembaran uang.
__ADS_1
Rombongan Tsamara geleng-geleng kepala melihat kelakuan pak Anwar. Sedangkan pak Sanusi geleng-geleng kepala, melihat kelakuan besannya yang mata duitan.