Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
37. Bertemu Thoriq


__ADS_3

"Jangan suka membentak anak kecil. Suaramu yang seperti kaleng rombeng itu sungguh tidak enak didengarkan." tegur seorang laki-laki, yang tak sengaja melintas di tempat kejadian Soffin menabrak seseorang, hingga ia justru terjatuh.


"Ayo, Sof. Bangun." ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya untuk membantu adik dari Tsamara itu.


"Terima kasih, kak." balas Soffin. Bocah kecil itu merasa senang dengan kehadiran seseorang yang membantunya. Yang tak lain adalah Thoriq.


Sementara itu, gadis yang bajunya basah, terkena tumpahan air minum, yang tak lain adalah Olive, begitu terkejut. Kenapa bisa tiba-tiba laki-laki yang ia cintai itu selalu muncul dihadapannya, saat ia sedang jalan bersama Anggara.


Olive yang tadi hendak marah pada adiknya Tsamara, kini mengurungkan niatnya. Karena tidak mau di cap buruk oleh Thoriq.


"Lain kali, kalau jalan pelan-pelan ya, dek. Tidak usah lari-lari." ucap Olive, menasehati adik dari Tsamara itu, dengan lembut. Kedua tangannya, ia letakkan di bahu, Soffin.


Soffin merasa aneh, melihat wanita yang seumuran kakaknya itu tiba-tiba berubah lembut. Padahal tadi wajahnya sudah merah padam, siap mengeluarkan tanduk.


Soffin lebih memilih menganggukkan kepalanya pada wanita itu. Karena memang sadar, dirinya lah yang bersalah.


Tidak hanya Soffin saja yang terkejut dengan perlakuan baik Olive. Karena Anggara pun juga terkejut.


Tak lama kemudian, keluarga Soffin sudah berada di dekat mereka. Papa, Tsamara dan Farah, sudah tahu apa yang tengah terjadi diantara mereka.


Tapi mereka lebih memilih acuh pada Anggara dan teman wanitanya. Dan justru melihat keadaan Soffin.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa kan, Sof?" tanya papa.


"Tidak, pa. Ada kak Thoriq yang menolongku. Terima kasih ya, kak." Soffin memandang papanya, lalu beralih memandang Thoriq yang tersenyum simpul.


"Syukurlah. Sekali lagi, terima kasih ya, nak Thoriq."


"Sama-sama, om." balas Thoriq sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Ayo kita segera masuk ke dalam. Kamu mau ikut bersama kami juga, nak Thoriq." ajak papa.


"Em, boleh. Karena saya juga baru datang."


Keluarga Tsamara pun berjalan beriringan masuk mall, tanpa mengindahkan keberadaan Anggara dan Olive. Mereka hanya ingin menghemat tenaga, dengan tidak mau ribut dengan keduanya. Toh, Soffin juga sudah di tolong oleh Thoriq.


"Hei! Harusnya kalian itu minta maaf dulu. Bukan malah seenaknya main tinggal saja."


Olive memegang sebelah tangan Anggara. Agar pria itu tidak meneruskan perdebatannya. Karena ia sangat malu, jika sampai Anggara berkata atau berbuat macam-macam. Yang tentunya akan dinilai oleh Thoriq.


Sementara itu, rombongan pak Abas, segera berhenti, mendengar suara teriakan Anggara. Mereka menatap pria itu dengan sorot mata tajam. Lalu pak Abas mendekat ke arahnya.


"Hanya sebuah kecelakaan kecil. Tidak sampai membuat kalian berdua rugi. Kenapa harus minta maaf?

__ADS_1


Aku rasa itu tidak ada apa-apanya. Jauh berbeda ketika kamu dengan seenaknya membatalkan pernikahan dengan anakku.


Tidak hanya kerugian materiil, tapi juga moril yang kami tanggung. Bahkan kata maaf, juga tidak terucap dari bibirmu. Pria macam apa kamu ini, hah?"


Setelah berkata seperti itu, pak Abas langsung meninggalkan Anggara yang diam terpaku. Salah sendiri. Sudah bersalah, malah merasa sok paling benar.


"Sudah. Tidak usah dibahas lagi. Tidak enak dilihat banyak orang. Malu." bisik Olive sambil mengusap pelan, tangan Anggara.


Sebenarnya Olive adalah tipikal gadis yang temperamental. Tapi ia terpaksa mengatakan hal itu pada Anggara. Hanya karena ada Thoriq. Bukan yang lainnya.


Gadis itu pikir, bahwa pacarnya tengah jengkel, karena ucapan pak Abas tadi. Hal itu memang benar adanya. Tapi, ada yang lebih menggelitik hati Anggara.


Ia cukup terkejut ketika melihat badan Tsamara mulai menyusut. Bahkan baju yang dipakainya terlihat kedodoran.


'Kenapa badannya terlihat kurus?' batin Anggara, sambil menatap lekat punggung Tsamara.


"Sayang, ayo kita pergi dari sini." ajak Olive, karena melihat Anggara yang masih mematung. Laki-laki itu pun mengangguk, lalu keduanya berjalan keluar.


Sementara itu, rombongan pak Abas, kembali berjalan. Mereka menuju ke store baju. Tsamara dan Farah berjalan beriringan menuju baju khusus wanita. Keduanya memilih-milih baju yang sesuai dengan ukuran dan selera mereka.


Tsamara hanya mengambil selusin baju. Karena ia yakin, berat badannya masih bisa menurun lagi. Farah pun, juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Puas berkeliling di store baju, mereka pun segera membayar total tagihan nya. Pak Abas berniat menyodorkan kartu ATM nya.


Tapi Tsamara mendorong kartu itu ke dada papanya. Karena ia ingin membayarkan semua belanjaan keluarganya. Sebagai tanda syukurnya, sudah memiliki penghasilan sendiri.


__ADS_2