
Olive dan Anggara bersungut-sungut kesal ketika keluar dari gedung WO. Hingga pria itu tidak mau membukakan pintu untuk pasangannya.
Olive pun cemberut dan menutup pintu mobilnya dengan keras, hingga Anggara yang sudah masuk terlebih dahulu sampai berjingkat kaget.
Anggara segera melajukan mobilnya, menuju ke gedung WO yang lain. Sepanjang perjalanan, keduanya saling terdiam. Karena masih jengkel dengan keributan yang terjadi tadi.
Hingga akhirnya keduanya tiba di pelataran gedung WO yang lain.
"Tunggu dulu." Anggara mencegah Olive sebelum turun.
Gadis itupun mengurungkan niatnya, laly menatap ke arah Anggara.
"Apa?"
"Kita buat kesepakatan terlebih dahulu. Aku tidak mau hal seperti tadi terulang kembali."
Olive terdiam sekian detik, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Harus seperti keinginan ku." ucap gadis itu kemudian.
"Saat acara pesta pernikahan di rumahmu, kita pakai tema internasional. Sedangkan untuk acara di rumahku, kita pakai tema lokal. Kamu tidak boleh egois. Ingat, kalau kamu tidak mau mengikuti apa kataku, kita tidak jadi menikah saja." Ancam Anggara.
Olive tersentak kaget, dan sangat jengkel. Karena Anggara sudah berani mengancamnya. Tapi tidak ada pilihan lain, selain ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Okay, aku setuju. Sekarang, bukakan pintu untukku." Ucap Olive, yang membuat Anggara terkejut juga. Pasalnya ia melihat tangan Olive masih menempel di knop pintu, bisa-bisanya dia meminta untuk membukakan pintu.
"Hei, bukan kah kamu sudah membuka pintu itu? Kenapa masih memintaku membukakan pintu untukmu?"
__ADS_1
Olive menoleh ke sebelah kiri. Seketika ia menyadari kekhilafan dirinya. Tapi bukan Olive namanya, jika tidak bisa mengerjai Anggara. Gadis itu kembali menutup pintu mobilnya dengan kuat.
"Nah, masih tertutup kan? Sekarang kamu bisa membukakannya untukku." Balas Olive enteng, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dasar gadis aneh." Gumam Anggara sambil turun, dan mengelilingi mobilnya, lalu membukakan pintu untuk calon istrinya yang memang aneh.
Olive memasang kaca mata hitam untuk menutupi matanya, agar tidak silau terkena cahaya matahari. Lalu turun dari mobil.
Kedua orang itu berjalan masuk ke dalam gedung WO dengan gaya sok sosialita dan sok tampan.
Karena hanya berfokus pada penampilan, tak sengaja Olive terpeleset saat kakinya menginjak teras gedung yang licin.
Tangannya spontan memegang tangan Anggara. Namun, karena pria itu terlalu membusungkan dadanya dan kurang seimbang, akhirnya keduanya justru jatuh dan berguling-guling di lantai teras.
Hal itu spontan mengundang tawa orang-orang yang kebetulan melihatnya. Warga negara halu yang memiliki kebiasaan menyimpan berbagai momen, segera mengabadikan hal itu dalam handphonenya. Bersiap untuk dibagikan ke media sosial.
"Siapa yang mau main tarik ulur? Aku itu terpeleset lantai ini, yang sungguh licin." Balas Olive dengan muka masam.
Gadis itu pun juga melakukan hal yang sama dengan Anggara. Ia menepuk dress yang dikenakannya. Karena takut kotor terkena debu.
"Bantuin." Pinta Olive sambil mengangkat tangan kanannya, dihadapan Anggara, dengan gaya manja.
Pria itupun mendengus kesal, lalu menarik tangan Olive.
"Hei! Apa lihat-lihat?" Gertak Anggara pada beberapa orang yang masih sibuk merekamnya.
"Memang kamu pikir kami ini aktor dan aktris? Pakai di video segala lagi." Celoteh pria itu lagi, yang membuat mereka justru terkikik geli.
__ADS_1
'Sial! Niat hati ingin terlihat seperti pasangan yang serasi, mirip-mirip artis di televisi itu. Yang ada malah gulang-guling di lantai.' batin Olive dengan kesal, lalu menarik tangan Anggara masuk ke dalam.
Setelah memastikan penampilannya kembali rapi, keduanya masuk ke dalam gedung itu.
**
Kini Olive dan Anggara sudah duduk berhadapan dengan karyawan WO. Keduanya mulai menyampaikan maksud kedatangannya.
Karyawan itu manggut-manggut mendengar permintaan kliennya. Setelah itu ia membuka note, untuk melihat jadwal yang masih kosong.
Setelah diteliti dengan seksama, tanggal pada bulan itu, semuanya sudah terisi. Jadi tidak bisa menyewa ditempat itu.
Anggara dan Olive pun mendengus kesal. Apalagi hari pernikahan keduanya semakin dekat. Terpaksa keduanya keluar dari gedung itu, dengan langkah gontai. Keduanya beralih menuju gedung WO selanjutnya.
Sebenarnya keduanya cukup kecewa, mengingat kedua WO itu memiliki kualitas yang bagus. Selainnya hanya standar dan cenderung jelek dekorasinya.
Tapi keduanya tidak bisa berbuat banyak, karena para klien itu pasti sudah memesan jauh-jauh hari.
"Kemana lagi kita?" Tanya Anggara.
"Aku tidak tahu." Balas Olive dengan lesu, sampai-sampai ia menyandarkan tubuhnya di kursi. Bibirnya terlihat pucat, karena tidak memakai make-up.
"Kamu sakit?"
"Laper." Olive mengusap perutnya yang masih datar.
"Okay lah, kalau begitu kita cari makan dulu." Anggara melajukan mobilnya menuju ke restoran terdekat.
__ADS_1