
"Iya, pa."
"Bagaimana ceritanya?" Kedua orang tua Olive bertanya bersamaan lagi, karena sangat penasaran.
Anggara pun menceritakan semuanya pada kedua mertuanya. Karena ia bingung dan cukup bersedih dengan masalah yang dihadapinya sekarang.
Sebenarnya kedua orang tua Olive awalnya juga tidak menyukai Anggara. Tapi setelah mendengar ceramah singkat saat menghadiri pesta pernikahan Thoriq kemarin, juga membuatnya perlahan sadar.
"Jadi, karena masalah ini, kamu ingin berubah menjadi istri yang baik seperti apa yang kamu bilang tadi, Liv?" Mama menatap sejenak ke arah putrinya yang tampak menganggukkan kepalanya.
"Kalau berubah jangan setengah-setengah. Tunjukkan dengan sungguh-sungguh, agar semua orang percaya pada kalian." Nasehat mama.
"Iya, ma." Balas Olive dan Anggara bersamaan.
"Papa ingin melihat kesungguhan kalian berubah, dengan hidup mandiri dan bekerja sesuai dengan usaha kalian sendiri." Pak Sanusi yang sejak tadi diam, kini angkat bicara. Yang membuat semua orang terkejut dengan ucapannya.
"Maksudnya, papa mengusir kami?" Naik bicara Olive mulai meninggi.
"Bukankah kalian sendiri yang berniat ingin berubah. Kalau berubah ya harus totalitas dong. Jangan setengah-setengah. Hidup mandiri, usaha sendiri."
Bergemuruh dada Anggara dan Olive, mendengar ucapan pak Sanusi. Bagaimana pun juga, keduanya masih naik turun emosinya. Sehingga butuh waktu untuk bisa meredamkannya.
"Baik, pa. Kami akan angkat kaki dari rumah ini." Tegas Anggara, yang membuat Olive dan mama menatapnya serius. Sedangkan pak Sanusi tampak santai.
Anggara bangkit berdiri diikuti oleh Olive. Keduanya berjalan beriringan menuju kamar.
"Mas, apa kamu gila? Kalau kita angkat kaki dari rumah ini, mau tinggal di mana kita?" Olive mencekal lengan Anggara.
"Liv, benar apa kata papamu. Kalau niat berubah jangan setengah-setengah. Kita bisa tinggal di rumah kontrakan atau kost-kostan."
"Apa! Rumah kontrakan? Yang benar saja? Pasti bakalan gerah di sana. Kamarnya juga sempit."
"Liv, aku ini suamimu. Kepala rumah tangga untukmu. Sekarang kamu mau ikut aku pergi dari sini, atau tinggal di sini tanpa aku. Terus terang, aku malu jika ada orang yang merendahkan harga diriku. Apalagi aku ini seorang laki-laki."
"Baiklah, aku ikut denganmu." Ucap Olive setelah terdiam sekian menit.
Bagaimana pun juga untuk mengambil keputusan dalam waktu yang singkat, sungguh sangat sulit dilakukan oleh keduanya. Butuh kelapangan hati dan kesabaran.
Keduanya kembali melanjutkan jalannya menuju kamar. Sesampainya di sana, keduanya memasukkan seluruh baju-baju dan perlengkapan lainnya yang dianggap penting bagi keduanya.
Anggara yang memang tidak membawa banyak barang, selesai lebih dahulu. Lalu ia pun membantu Olive yang belum selesai.
Sementara itu, di ruang makan.
Mama dan papa tengah beradu pendapat. Bagaimana pun juga, seorang ibu tidak akan tega jika melihat dengan mata kepalanya sendiri anak kandungnya di usir oleh suaminya.
"Pa, apa papa tega melihat anak kandung kita pergi meninggalkan rumah ini? Mau hidup dan tinggal di mana ia nanti?"
"Ma, mungkin kita sejak dulu terlalu memanjakan Olive. Akhirnya Olive tumbuh jadi anak yang manja. Papa juga salah terlalu mengejar karier, jadi abai pada anak sendiri.
Jika Olive bisa menikah dengan Thoriq, pasti pria itu bisa merubah anak kita menjadi wanita yang baik. Tapi kenyataannya mereka tidak berjodoh. Olive malah mendapatkan laki-laki yang tidak becus seperti Anggara.
Maka dari itu, mumpung keduanya berniat berubah, kita harus mendukungnya. Harus dengan cara yang tegas dan mungkin sedikit keras, agar keduanya benar-benar melaksanakan niatnya dan tidak hanya sekedar bualan belaka.
Bagaimana pun juga, Anggara itu suami Olive. Ia harus bisa memimpin perusahaan, jika nanti papa sudah tidak ada.
Seorang pemimpin harus memiliki mental yang kuat, pemikiran yang luas dan strategi yang hebat. Kalau Anggara dibiarkan hidup enak melulu, bisa-bisa keduanya terlena dan tidak mau mengembangkan dirinya." Tutur pak Sanusi panjang lebar.
__ADS_1
Walaupun sulit untuk diterima, tapi mama membenarkan juga ucapan pak Sanusi. Anak-anak jaman sekarang, memang terlalu di manja, sehingga kurang memiliki sifat mandiri dan kurang bisa mengeksplor bakat mereka.
Keduanya beranjak dari duduknya, dan saat melewati ruang keluarga, mereka melihat Anggara dan Olive yang berjalan sambil menenteng koper.
Mata mama berkaca-kaca melihat hal itu. Tapi ia berusaha untuk menahannya.
"Pa, ma, kami ijin keluar dari rumah ini. Do'akan agar kami baik-baik saja." Ucap Anggara. Sedangkan Olive tidak mampu berkata-kata. Bahkan matanya tampak berkaca-kaca, tapi sekuat mungkin ia juga menahannya, agar tidak terlihat lemah di hadapan kedua orang tuanya.
"Hem, jangan kembali kesini sebelum kalian bisa membuktikan ucapan kalian pada kami."
"Pa." Mama menoleh pada suaminya.
"Kami akan berusaha, pa." Balas Anggara sebelum ia mengulurkan tangannya pada kedua mertuanya. Setelah itu, giliran Olive mengulurkan tangannya pada mereka.
Setelah hening sejenak, Olive dan Anggara melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Papa sebagai seorang laki-laki berusaha menunjukkan sikap tegasnya. Sedangkan mama, bergetar bibirnya karena menahan tangis, menyaksikan kepergian putri semata wayangnya.
Olive masuk ke mobil Anggara. Ia menatap kedua orang tuanya yang berdiri di ambang pintu rumah megahnya.
"Kamu yakin kan, akan ikut bersamaku?"
Anggara menoleh menatap wajah istrinya, untuk sekedar memastikan. Olive pun menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan persetujuan, Anggara melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mertuanya.
Keduanya saling terdiam selama di dalam mobil, dengan pikiran masing-masing yang berkelana. Sesekali Anggara tampak celingukan memperhatikan kanan dan kiri jalan, untuk melihat info rumah kontrakan atau kost-kostan. Tapi belum kunjung menemukannya juga.
Anggara berhenti di depan sebuah mini market. Ia segera turun dan masuk ke bangunan itu. Tak lama kemudian, ia keluar sambil menenteng plastik putih.
"Nih, kamu makan atau minum dulu. Pasti kamu kehausan atau kelaparan." Anggara menyodorkan plastik itu pada Olive, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
"Apa masih lama?"
"Aku tidak tahu. Sepanjang jalan aku sudah melihatnya, tapi tidak ada info kontrakan ataupun kost-kostan."
"Huft... Apa kita akan berakhir tidur di dalam mobil?" Olive mendengus kesal.
"Yah, kalau kepepet. Kita bisa apa."
Setelah menempuh hampir setengah jam perjalanan, akhirnya samar terlihat tulisan rumah dikontrakkan. Sehingga membuat wajah Anggara berbinar.
"Liv, tuh lihat. Ada tulisan dikontrakkan." Ucap Anggara, sambil menunjuk rumah bercat hijau muda.
"Coba kamu hubungi nomor yang tertera itu."
Anggara menganggukkan kepalanya, lalu segera menghubungi nomor yang tertera.
"Hallo pak, saya melihat ada tulisan rumah dikontrakkan. Kira-kira berapa harga sewanya ya? Boleh saya lihat-lihat dulu?" Tanya Anggara tampak bersemangat.
"Silahkan tunggu di depan rumah kontrakan itu sebentar, pak. Saya akan segera kesitu." Balas suara di seberang sana.
Belum sempat Anggara membalas, panggilan telepon itu sudah di tutup. Ia dan istrinya harap-harap cemas menunggu kedatangan sang pemilik kontrakan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil terlihat berhenti di depan rumah kontrakan. Lalu handphone Anggara terdengar berdering. Pria itu pun segera mengangkat teleponnya.
"Hallo, pak." Sapa Anggara.
__ADS_1
"Ini saya sudah sampai di depan rumah kontrakan. Anda di mana?" Balas suara di seberang.
"Mobil bapak warna merah?"
"Iya."
"Saya, di dalam mobil warna hitam. Tunggu sebentar, saya turun dulu." Anggara segera mematikan teleponnya.
"Liv, kamu mau ikut?"
Sejenak Olive memperhatikan kanan dan kiri, lalu menganggukkan kepalanya. Keduanya turun bersamaan dan mendekat ke arah laki-laki yang sudah turun dari mobil merah duluan.
"Pak. Perkenalkan, saya Anggara. Yang tadi menelpon bapak." Suami dari Olive itu, menjabat tangan pria di hadapannya.
"Saya Sidiq, pemilik rumah ini. Mari masuk, saya perlihatkan isi dalamnya."
"Terima kasih, pak." Ketika orang itu pun masuk ke pekarangan rumah kontrakan.
Olive terus saja memperhatikan sekelilingnya, sambil mengeratkan pelukan di lengan Anggara. Apalagi saat itu, jam digital di handphone telah menunjukkan pukul dua belas malam. Pengalaman mistis yang ia dan suaminya alami sebelum menikah, masih membekas di kepalanya.
"Silahkan, masuk." Pak Sidiq mempersilahkan Anggara dan Olive masuk.
"Liv, ayo. Kamu lihat apaan sih?" Anggara mengejutkan Olive.
"Eh, tidak apa-apa kok." Olive pun mengikuti Anggara masuk.
Keduanya memasuki rumah itu dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Lalu pak Sidiq memperlihatkan setiap kamar yang ada di dalam rumah itu. Bangunannya tampak bagus dan masih terawat.
"Bagaimana Olive, apa kamu suka?" Tawar Anggara.
"Kenapa kita tidak cari yang lantai dua saja? Yang ada AC nya."
"Liv, ingat. Kita ini baru belajar hidup mandiri. Tidak seperti dulu lagi." Bisik Anggara. Olive pun mendengus kesal.
"Berapa harga sewanya, pak?"
"Satu tahun sepuluh juta."
"Sepuluh juta?" Ucap Anggara dan Olive bersamaan, karena terkejut.
"Iya, itu termasuk murah mas. Karena rumah ini sudah lengkap fasilitasnya. Kalian tinggal menempatinya saja. Rumah saya tidak jauh dari sini. Rumah dua lantai di ujung kanan jalan ini. Jika butuh apa-apa kalian bisa datang ke rumah saya."
Sejenak Olive dan Anggara saling beradu pandang. Lalu Anggara kembali menatap pak Sidiq.
"Apa boleh bayarnya di angsur tiap bulan, pak?" Tanya Anggara ragu-ragu.
"Boleh."
"Baiklah, pak. Saya mau sewa rumah ini. Ini saya bayar untuk satu bulan ke depan dulu ya."
Anggara segera merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar merah, pada pak Sidiq.
"Terima kasih. Ini kuncinya, semoga kalian betah tinggal di sini."
"Iya, pak. Saya juga mengucapkan terima kasih."
Setelah pak Sidiq berlalu pergi, Anggara memarkirkan mobilnya di pekarangan. Lalu memasukkan koper-kopernya ke dalam rumah. Tak lupa ia juga mengunci pintunya.
__ADS_1
"Liv, tolong kamu jangan keberatan tinggal di rumah ini. Karena mulai sekarang, susah senang kita akan memulai semuanya di sini."
Anggara meletakkan kedua tangannya di bahu Olive, sambil menatapnya lekat. Tidak ada pilihan lain bagi Olive, selain hanya menganggukkan kepalanya.