
Pak Abas tersenyum melihat kesombongan mantan temannya yang semakin jelas terlihat. Padahal dulu ia tidak sesombong itu. Mungkin memang benar, harta, tahta dan kedudukan bisa membuat manusia berubah.
Sedangkan Thoriq, ia begitu terkejut ketika melihat perlakuan pak Anwar pada pak Abas. Ia merasa perlakuan laki-laki yang rambutnya sudah ada beberapa helai yang memutih itu terlalu berlebihan, dan terkesan tidak sopan.
"Anwar. Kenapa kamu menjadi orang, terlalu sombong sekali?"
"Cih. Aku tidak sombong, hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Keluargamu kan sudah jatuh miskin, mana bisa menyaingi keluargaku. Apalagi sekarang aku sudah berbesan dengan orang kaya, kekayaan ku akan semakin bertambah."
"Anwar Anwar, aku tidak menyangka bisa memiliki sahabat yang mata duitan seperti kamu." Pak Abas menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jaman serba susah, semua orang butuh uang. Jangan munafik."
"Iya, aku tahu kamu salah satu orang yang sedang kesusahan dan butuh banyak uang itu kan? Nah maka dari itu, kedatangan ku kesini adalah untuk membantu keuanganmu."
Pak Anwar tertawa terbahak-bahak, mendengar pak Abas berbicara seperti itu. Dan setelah beberapa detik berlalu, barulah ia diam.
"Mungkin pikiranmu sudah oleng, Bas. Mana ada orang susah membantu orang kaya? Ya sudah, kalau begitu kalian langsung masuk saja. Anggap saja, kali ini aku sedang bersedekah pada kaum miskin." Ucap pak Anwar disertai kekehan kecil.
Walaupun pak Abas geram dengan sikap temannya, ia tetap berusaha sabar. Belum saatnya ia mempermalukan temannya itu. Sehingga ia hanya bisa menatap serius ke arah pak Anwar, lalu berjalan menuju ke tempat duduk yang tersedia.
__ADS_1
"Hei, Bas. Tunggu dulu." Seru pak Anwar. Sehingga pak Abas yang baru dua langkah berjalan, terpaksa menghentikan langkahnya, lalu menengok ke belakang.
"Kenapa kamu tidak membawa anakmu yang gendut? Apa kamu malu? Dan sekarang malah mengajak wanita lain. Apa ia anak angkat mu atau justru calon istrimu? Hem, cantik juga." Pak Anwar menatap penuh damba pada Tsamara.
"Pa." Mamanya Anggara langsung menyikut lengan suaminya, karena ketahuan sudah memuji wanita lain di hadapannya.
"Ini maksudnya?" Pak Abas melingkarkan tangannya di bahu Tsamara. Lalu pak Anwar mengangguk.
"Dia bukan anak angkat atau calon istriku. Tapi anak kandungku, Tsamara. Wanita yang ditinggal kabur calon suaminya, tepat di hari pernikahannya. Dan calon suaminya adalah anakmu.
Oh iya, aku sudah tua Anwar. Tidak ingin menikah lagi. Biar anak-anakku saja yang mencetak generasi baru di keluargaku.
Aku tidak seperti pria lain, yang ketika ditinggal istrinya meninggal, sudah mencari wanita lain." Ucap pak Abas dengan suara keras, sehingga membuat beberapa tamu undangan yang mendengarnya begitu terkejut dengan ucapannya.
Apalagi Tsamara kini terlihat sangat cantik, anggun dan terlihat seperti wanita berkelas. Jauh berbeda dengan yang dulu.
Meskipun Tsamara wajahnya beberapa kali muncul di layar televisi, pak Anwar tidak pernah mengetahuinya. Karena dia memang jarang melihat siaran televisi, kecuali berita tentang bisnis.
"Pa! Matanya dikondisikan. Jangan jelalatan seperti itu." Ucap mama sambil memukul lengan suaminya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalian boleh duduk." Pak Anwar mengibaskan tangannya.
Karena rombongan pak Abas datang terlambat, akhirnya mereka mendapat tempat duduk yang paling depan.
Para tamu undangan yang melihat Tsamara, sejak tadi berlomba-lomba mengambil fotonya dari dekat. Mereka begitu terpukau akan kecantikan dan badannya yang sangat bagus.
Sedangkan Tsamara yang merasa diambil fotonya, tampak menyunggingkan senyum ke arah mereka. Ia begitu ramah dengan para tamu undangan yang lainnya.
Tak lama kemudian, acara pun di mulai. Seorang MC membacakan susunan acara. Lalu pesta pernikahan itu pun dimulai.
Tibalah saatnya, kedua mempelai tampil ke depan. Kedua orang tua Anggara menjemput mempelai di ruang ganti. Setelah itu, mereka berjalan beriringan menuju tempat acara.
Setelah tadi perhatian para tamu menghadap pada Tsamara, kini perhatian mereka beralih pada sepasang pengantin baru.
Wajah dan penampilan sang pengantin, menjadi hal nomor satu yang selalu dibicarakan oleh para tamu undangan.
Termasuk saat itu, mereka rata-rata berkomentar tentang wajah kedua mempelai yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak manglingi sama sekali.
Karena tidak hanya satu atau dua orang yang berbicara seperti itu, sehingga keluarga pak Abas mendengarnya. Tapi mereka tidak begitu mempedulikannya dan hanya menyunggingkan senyum ironi.
__ADS_1
Tuhan itu memang maha Adil. Tanpa perlu manusia capek-capek untuk membalas setiap perbuatan, Dia sudah menyiapkan balasannya duluan.
Seperti yang terjadi pada Tsamara. Dulu ia di ejek karena gendut, sekarang ia justru di puja. Sedangkan Olive dan Anggara yang dulu di puja, kini mereka di remehkan.