Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
155. Melahirkan


__ADS_3

Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, dan keadaannya pun juga sudah membaik, maka Olive diijinkan pulang.


Dengan diiringi oleh keluarganya, ia pulang menuju rumah kontrakan. Sesuai dengan niatnya kemarin.


Sebagai seorang ibu, mamanya Olive tidak tega jika membiarkan anaknya yang baru melahirkan hidup sendiri dengan suaminya saja, tanpa bantuan siapapun dalam merawat bayinya. Maka dari itu, ia pun menginap untuk membantu anak dan menantunya.


Tidak mau kalah saing dengan sang besan, mamanya Anggara juga menginap di rumah kontrakan anaknya untuk membantunya.


Karena istri-istri pak Sanusi dan pak Anwar menginap, maka mereka pun ikut menginap. Untung saja rumah itu memiliki tiga kamar tidur, jadi pas untuk di pakai mereka bertiga.


Mereka silih berganti menggendong bayi itu, ketika ia rewel.


Olive yang takut jalan lahirnya akan rusak, sangat hati-hati dalam bergerak dan beraktivitas. Urusan memandikan bayi, menjadi tugas Anggara.


Seperti pada pagi hari itu, Anggara berdiri di depan wastafel sambil menghadap bayinya.


"Duh, kenapa menggeliat seperti belut gini sih? Mana licin banget pula." Gerutunya dengan wajah yang memerah karena panik.


"Anggara, mana bayimu?" Tanya mamanya, ketika memasuki dapur.


"Ini, ma. Baru Anggara mandiin." Balasnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari sang bayi.


"Apa! Kamu mandiin di wastafel?" Mama terkejut dengan apa yang dilakukan oleh putranya.


"Iya, ma. Memang kenapa?"


"Ini tuh bayi, anakmu, darah daging mu. Harusnya dimandiin dalam bak mandi, bukan wastafel. Kamu kira dia piring kotor."


"Ya ampun, ma. Kayak gitu saja dipermasalahkan. Orang luar negeri mandiin bayinya juga seperti ini. Hemat tempat tahu ngga?"


Mendengar keributan di pagi hari, mamanya Olive mencari ke asal suara. Dan menemukan besan dan menantunya tengah berada di dapur. Karena penasaran, ia pun menghampiri keduanya.


Reaksi yang sama, juga ditunjukkan oleh mamanya Olive. Ia begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh anaknya.


"Anggara, apa yang kamu lakukan dengan bayimu?" Tanya mamanya Olive, dengan raut wajah memerah menahan amarah.


"Lagi mandiin bayi." Balasnya enteng.


"Ya ampun, tega sekali kamu memandikan bayi di dalam wastafel. Kamu pikir dia panci kotor?"


"Anggara capek mendengar mama semua ngoceh pagi-pagi." Setelah berkata seperti itu, ia segera berlalu pergi sambil membawa bayinya menuju kamarnya.


"Ada apa sih mas, ribut-ribut?" Tanya Olive yang samar mendengar keributan itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Mama kita di sini bukannya membantu anaknya malah bikin kerusuhan. Lebih enak hidup berdua." Balas Anggara sambil membalur tubuh anaknya dengan minyak telon, lalu bedak bayi. Setelah itu, ia mengenakan baju dan bedong pada bayinya.


"Kerusuhan seperti apa?"


"Sudahlah, ngga usah dijelaskan lagi. Nah, sudah selesai. Ganteng mirip papanya." Anggara tersenyum puas karena berhasil mendandani anaknya.


"Ya ampun, mas. Kayak gitu sih?" Protes Olive dengan muka ditekuk. Karena melihat wajah anaknya yang penuh dengan bedak. Belum lagi kain bedongnya terlihat tidak rapi.


Setelah menyelesaikan ributnya di dapur, kedua mama itu mencari keberadaan cucunya, yang ia yakini berada di dalam kamarnya.


"Ya ampun, Anggara!" Pekik kedua mama itu kompak, ketika melihat penampilan cucunya yang acak-kadut.


Mereka pun segera menghampiri cucunya, lalu merapikan bedak, baju dan kain bedong yang terlihat semrawut.


"Nah, kalau gini jadi lebih rapi." Ucap mamanya Anggara.


"Iya, kelihatan lebih cakep." Timpal mamanya Olive.


"Terima kasih, ma. Kalau ngga ada kalian, Olive ngga tahu bagaimana rupa anak Olive nantinya." Ucap Olive, sambil tersenyum ke arah ibu kandung dan ibu mertuanya.


**


Empat telah berlalu, Olive dan Anggara tentunya sudah cukup terampil merawat bayinya. Usaha laundry yang mereka buka, juga sudah mulai berjalan normal.


Namun perlahan keduanya juga menyadari bahwa, mereka lah satu-satunya pewaris dalam keluarganya. Sehingga mau tidak mau, dituntut harus bisa memimpin perusahaan kedua orang tuanya dengan baik.


Maka dari itu, Anggara menerima ajakan papanya untuk kembali ke perusahaan. Walaupun hanya sesekali saja.


Kali ini pria itu lebih fokus mengerjakan pekerjaannya di kantor. Ia ingat dengan anak, istri, kedua orang tuanya dan nasib para karyawan yang bergantung dengan perusahaannya. Ia coba mengingat itu semua sebagai motivasi diri untuk bekerja dengan lebih baik lagi.


**


Sementara itu di kediaman Thoriq.


Pria itu selalu setia menemani istrinya jalan-jalan pagi. Karena semakin mendekati hpl, harus banyak-banyak bergerak. Agar proses persalinannya nanti bisa berjalan lancar.


Tsamara pun tidak merasa senang, karena selain bisa menghabiskan waktu bersama dengan suaminya, ia juga mendapat bonus. Yakni udara segar di pagi hari. Karena belum banyak tercemar oleh asap kendaraan.


"Kak, istirahat dulu yuk." Ajak Tsamara, sambil berjalan mendekat ke arah pohon besar yang ada di pinggir jalan dan duduk di sana.


"Kamu kenapa? Tumben sekali, baru juga sebentar, sudah mengeluh capek." Thoriq ikut duduk di samping Tsamara dan memperhatikannya.


"Wajar dong, kak. Perutku kan sudah semakin besar. Sebentar lagi juga mau lahiran." Tsamara mengusap perut buncitnya.

__ADS_1


"Iya, sayang. Maafin aku yang kurang peka. Sekarang, mana yang paling terasa capek? Biar aku pijitin."


"Kedua pahaku sangat capek dan pegal-pegal."


Thoriq pun benar-benar memijit kedua paha istrinya secara bergantian. Ia tidak memedulikan orang yang kebetulan melintas di hadapannya.


Namun semakin lama, Tsamara semakin merasakan capek dan pegal-pegal yang menjalar sampai ke pinggangnya, hingga ia meringis kesakitan.


"Kak, pulang aja yuk. Aku mau istirahat di rumah." Pinta Tsamara dengan wajah yang memerah menahan rasa tidak nyaman.


"Okay."


Thoriq bangkit dan membantu Tsamara berdiri dengan hati-hati. Saat perjalanan pulang, ia sudah beberapa kali mengajak suaminya untuk istirahat.


"Kak, aku kebelet pipis."


"Iya, sebentar lagi sampai kamar kok."


Namun baru saja keduanya menginjak teras rumah, Tsamara merasakan sesuatu yang keluar di bawah sana.


"Yah, aku ngompol. Bagaimana ini, kak?"


"Tidak apa-apa. Nanti biar aku bersihkan lantainya."


Thoriq memapah Tsamara dengan hati-hati.


"Lhoh, apa yang terjadi denganmu, nak?" Bu Husna yang baru saja menuruni anak tangga, terkejut ketika melihat menantunya berjalan tertatih sambil meringis.


"Cuma kecapekan saja kok, ma. Tadi habis jalan-jalan." Balas Tsamara sambil menyunggingkan senyum. Bu Husna manggut-manggut mendengar jawaban menantunya.


"Ma, nanti kalau lewat depan hati-hati ya. Mungkin lantainya licin, belum sempat Thoriq pel."


"Memang semalam habis hujan?" Mama mengernyitkan dahi.


"Bukan, ma. Tadi Tsamara tidak tahan ingin pipis, jadi terlanjur ngompol deh."


"Ngompol?" Ulang Bu Husna dengan raut wajah heran dan terlihat seperti sedang berpikir.


"Ya Tuhan, jangan-jangan itu bukan pipis. Tapi air ketuban yang sudah pecah, karena mau melahirkan."


Bu Husna berjalan mendekati menantunya, dan menyingkap sedikit baju bagian bawahnya. Lalu mengamati sejenak bekas air yang ada di bagian kaki Tsamara.


"Tidak salah lagi, ini memang benar air ketuban. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Sebentar lagi, istrimu akan melahirkan Thoriq."

__ADS_1


"Me-melahirkan?" Ulang Thoriq, lalu sejenak beradu pandang dengan Tsamara.


__ADS_2