
"Apa? Jadi brand ambassador?" ucap papa, Farah dan Soffin bersamaan. Saat mereka tengah menikmati makan malam bersama.
"Iya. Bagaimana tanggapan kalian?" tanya Tsamara setelah sebelumnya menganggukkan kepalanya.
"Brand ambassador itu apaan sih?" celetuk Soffin yang memang masih kecil.
"Brand ambassador adalah seseorang yang mempromosikan sebuah brand atau produk untuk meningkatkan brand awareness dan mendorong penjualan." jelas papa mereka.
"Maksudnya gimana sih? Soffin masih tidak mengerti, pa." Soffin sambil meringis bertanya. Papanya pun geleng-geleng kepala.
"Artinya, foto kakakmu akan ada dimana."
"Apa! Jadi terkenal dong." wajah Soffin seketika berbinar.
"Mau saja, kak. Soffin dukung pokoknya." si kecil itu berkata berulang kali sambil menggoyang-goyangkan lengan tangan Tsamara.
"Iya, kak. Setelah kakak terkenal, pasti Anggara bakal menyesal. Sudah mengecewakan kakak." imbuh Farah.
Tsamara menoleh pada adik perempuannya itu sesaat sambil berpikir.
"Betul apa kata adikmu. Terima saja tawaran itu. Biar tuh buaya buntung menyesal." kini papa ikut bersuara.
Tsamara tersenyum dan mengangguk. Ia sangat senang, ternyata semua keluarganya mendukungnya.
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka kembali duduk di depan televisi. Saat itu, Tsamara gunakan untuk menghubungi Thoriq. Ia ingin mengabarkan jika dirinya mau menerima tawaran itu.
Thoriq yang sedang online, segera membalas pesannya. Tsamara mengernyitkan dahi, ketika pemuda itu mengirim sebuah alamat. Agar ia besok bisa datang ke alamat yang dikirim.
__ADS_1
Setelah berpikir sekian detik, akhirnya Tsamara pun mengiyakan.
**
Keesokan harinya, setelah mengantarkan Soffin ke sekolah. Tsamara mengayuh sepedanya menuju alamat yang dikirim Thoriq semalam.
"Wah, ternyata lumayan jauh juga ya. Tapi, tidak apa-apa lah." gumamnya sambil terus mengayuh sepeda.
Setelah hampir satu jam, akhirnya ia sampai di alamat yang dituju. Sepedanya berhenti tepat di sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi.
"Ini kak Thoriq ngga salah kah, kasih alamat ke aku?" gumamnya sambil mengernyitkan dahi.
Akhirnya ia pun memfoto gedung tersebut, dan mengirimkan pada Thoriq. Tak berselang lama, Tsamara sudah mendapatkan pesan balasan.
"Iya? Jadi, kak Thoriq bekerja di perusahaan ini?" gumamnya lagi setelah membaca pesan balasan itu. Wajahnya sampai ia dekatkan ke layar handphonenya.
Sesaat Tsamara merasa tidak percaya diri untuk masuk ke kantor itu. Tapi karena ia sudah bilang jika bersedia, maka mau tak mau harus memberanikan diri masuk ke kantor.
Tsamara segera mendekati security yang sedang duduk di depan pos nya, dan menyampaikan maksud kedatangannya.
"Permisi, pak. Saya kesini mau bertemu dengan kak Thoriq. Dia bekerja di bagian mana ya, kalau boleh tahu?"
"Kak Thoriq?" ulang laki-laki berseragam putih navy.
"Pak Thoriq ya maksudnya?"
"Hah! Setahu saya kak Thoriq belum menikah, pak."
__ADS_1
"Di kantor ini cuma ada satu orang yang bernama Thoriq. Yaitu direktur utama nya."
"Di-direktur?" ulang Tsamara sedikit terbata.
Gadis itu merasa tak percaya, jika perusahaan sebesar itu adalah milik Thoriq. Laki-laki yang selalu berpenampilan casual dan apa adanya.
Di saat Tsamara sedang kebingungan dengan identitas asli Thoriq, indera penglihatan security menangkap bayangan pimpinan perusahaannya tengah berdiri di depan lobby.
"Itu kan yang, mbak maksud?" ucap security sambil menunjuk dengan sopan pimpinannya. Tsamara pun menoleh mengikuti jari telunjuk security dihadapannya.
"Iya, pak. Saya kesana dulu ya." Tsamara tersenyum lega, ketika melihat Thoriq tersenyum kearahnya. Lalu bergegas menghampirinya.
Tampak gadis itu berlari kecil, sehingga bagian tertentu tubuhnya untuk bergerak naik-turun. Yang menjadi sebuah pemandangan indah bagi setiap mata yang memandang.
Para laki-laki menatap penuh damba kearahnya. Sedangkan para wanita menatap dengan penuh rasa iri. Karena melihat body yang jauh lebih indah dari yang mereka miliki.
Sementara Thoriq sendiri, seketika menelan saliva dengan susah payah. Bagaimana pun juga ia pria normal. Dan jiwa kelaki-lakian nya muncul seketika.
"Kak." seru Tsamara, ketika sudah berada di dekat Thoriq.
Gadis itu tersenyum dengan manis sekali seperti gula kapas. Membuat laki-laki itu semakin berdebar dadanya. Lalu mengusap tengkuknya. Entah kenapa ia merasakan perasaan yang aneh di dadanya.
"Ha-hai. Ayo masuk ke dalam." ucap Thoriq, sambil merangkul punggung gadis dihadapannya.
Ia buru-buru mengajak Tsamara masuk ke dalam. Karena melihat beberapa karyawannya menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang aneh.
Sementara Tsamara sendiri, juga merasa ada yang aneh dengan laki-laki didekatnya. Karena baru kali ini Thoriq merangkulnya.
__ADS_1
"Ka-kak, kenapa kamu merangkul ku?"
"Eh, maaf. Tidak sengaja." Thoriq meringis menyadari kekhilafannya. Lalu segera menjauhkan tangannya dari punggung Tsamara.