
"Kenapa sih, di saat penting seperti ini, malah ada saja halangannya." Gerutu Anggara kesal.
Pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kemudi. Ia harus memikirkan cara agar bisa segera sampai di tempat acara.
"Aha! Aku pesan taksi online saja." Serunya sambil menjentikkan jemari tangannya, yang disertai dengan binar bahagia.
Ia merogoh handphone dari dalam tasnya, lalu mencoba memesan taksi online. Namun berulang kali ia mencoba, tetap saja tidak ada driver yang nyangkut. Semuanya sedang sibuk.
"Astaga! Kenapa hidupku semenderita ini?" Gumamnya sambil memukul kemudi.
Setelah berselang beberapa menit, sebuah mobil lewat di dekat mobil Anggara, dengan kecepatan tinggi.
"Sialan tuh orang. Naik mobil seperti naik pesawat, main was-wus was-wus saja." Umpat Anggara sambil memperhatikan kendaraan roda empat yang baru saja melintas di dekat mobilnya.
"Eh, bukannya itu mobil Olive? Wah, istri tidak tahu diri dia rupanya. Tahu mobil suaminya berhenti di tepi jalan, bukannya berhenti dan bertanya ada apa. Ini malah lurus-lurus saja."
"Ya Udin, sebelum dia pergi menjauh harusnya aku segera menghentikannya." Anggara menoyor kepalanya sendiri. Lalu menekan nomor telepon, Olive.
"Liv, cepat kamu putar arah. Aku ada di jalan Anggrek." Tanpa menunggu jawaban dari Olive, Anggara segera memutus sambungan teleponnya.
**
Tentu saja Olive yang sebentar lagi akan sampai tempat tujuan, kesal ketika mendapatkan panggilan dari suaminya yang semena-mena terhadap dirinya.
__ADS_1
Dengan terpaksa ia memutar kemudinya, lalu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.
Setelah mobil Olive berhenti tepat di dekat mobil Anggara, pria itu segera turun dari mobil dan masuk ke dalam mobil Olive.
"Jalan." Titah Anggara, sambil menyandarkan punggungnya di kursi jok.
"Memang aku supir taksi, yang ketika mendengar perintah mu baru jalan gitu." Sungut Olive kesal, tapi ia tetap melajukan mobilnya juga.
"Katanya tidak mau ikut ke tempat hajatan. Tapi tahunya datang juga."
"Siapa yang bilang mau ke tempat orang punya hajat? Aku cuma mau ke rumah teman saja kok, untuk menghilangkan suntuk."
Anggara terkekeh mendengar pengakuan istrinya.
"Menikah."
Anggara kembali terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
**
Kini pak Anwar dan istrinya sudah tiba di tempat acara.
Setelah memastikan penampilannya rapi, keduanya keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat acara.
__ADS_1
Baru dari luarnya saja, keduanya sudah di buat syok berkali-kali. Karena banyak sekali petugas yang mengamankan acara di sepanjang jalan.
Di kanan dan kiri sepanjang ruas jalan, juga terdapat banyak karangan bunga ucapan selamat menempuh hidup baru bagi kedua mempelai, yang datang dari berbagai relasi dan instansi yang berbeda-beda.
"Oh, akhirnya kalian berdua datang juga." Ucap pak Abas dengan senyum sumringah, tanpa dendam.
"Jangan besar kepala. Kalau kalian tidak mengundang ku, aku juga tidak bakal datang." Pak Anwar menjawab dengan gaya bicara yang arogan dan sombong.
"Iya. Aku memang yang mengundang kalian. Agar kalian bisa melihat bahwa anakku bisa move on dari anakmu, dan justru mendapatkan laki-laki yang sangat baik."
"Tidak usah sombong. Kamu bisa bicara seperti itu, karena belum melihat kebiasaan dia seperti apa. Nanti kalau sudah berjalan beberapa Minggu, barulah ketahuan sifat aslinya."
"Aku tidak bermaksud sombong. Tapi hanya mengatakan yang sebenarnya. Okay tidak masalah, jika aku harus mengamati sikap dan tingkah laku menantuku selama beberapa bulan ke depan, atau bahkan selamanya. Semua juga demi kebaikan anakku. Terima kasih sudah diingatkan. Semoga pernikahan anakmu juga selalu langgeng. Sekarang, silahkan masuk dan nikmati acara yang sebentar lagi akan di mulai." Pak Abas menggerakkan tangannya, mempersilahkan pak Anwar dan istrinya masuk.
"Om, Tante, tunggu dulu. Ini ada souvernir untuk kalian berdua. Supaya ingat, pernah datang di acara pernikahan kakak kami yang paling cantik dan baik hati, dan sulit di cari di dunia ini." Ucap Farah panjang lebar, sambil menyerahkan mini gold yang berbetuk sepasang suami-istri.
Tentu saja, pak Anwar dan istrinya tidak menolak. Ia menerima souvernir yang harganya mahal itu dengan gaya sok tidak butuh. Padahal dalam hati keduanya berjingkrak bahagia.
Orang tua dari Anggara itu lebih terkejut lagi ketika memasuki tempat acara. Karena dekorasinya yang luar biasa indah dengan nuansa serba hijau muda.
Harum bunga segar yang sengaja di taruh di setiap sudut tempat, dan sepanjang jalan yang di lalui para tamu undangan.
"Benar-benar bukan pernikahan biasa. Harusnya dulu Abas juga menggelar pesta pernikahan yang seperti ini." Gumam pak Anwar, yang disetujui oleh istrinya.
__ADS_1