Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
81. Menjemput Tsamara


__ADS_3

"Thoriq, kamu rapi sekali. Mau kemana?" Tanya Bu Husna pada anaknya, yang berdiri di hadapannya.


Terlihat pemuda itu memakai kemeja lengan panjang berwarna merah dan celana panjang berwarna cream. Alas kakinya, ia mengenakan sepatu kets berwarna senada dengan kemejanya.


"Ma, Thoriq pamit ya. Mau makan malam dengan Tsamara." Pemuda tampan itu mengulurkan tangannya pada mamanya.


"Iya, mama ijinkan. Katakan perasaan mu padanya. Jika dia setuju, nikahi secepatnya. Agar tidak menanggung dosa karena berpacaran."


"Baik, ma. Terima kasih atas nasehat dan dukungannya. Kalau begitu, Thoriq pamit sekarang ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah mencium punggung tangan mamanya, Thoriq berlalu keluar. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Tsamara, hatinya terus berdegup kencang.


**


Sementara itu, di kediaman Tsamara. Anak sulung dari pak Abas itu tengah menghadap meja riasnya. Ia memoleskan lipstik berwarna merah menyala, senada dengan dress selutut yang dikenakannya.


Setelahnya, ia memakai sebuah kalung berlian pemberian almarhum mamanya. Rambut panjangnya di sanggul. High warna cream menopang badannya yang tinggi dan langsing.


Ia berdiri dan memindai bayangan dirinya dari pantulan cermin. Cantik berseri dan terlihat seksi. Ia pun mengambil hand bag nya yang berwarna cream, lalu melangkah keluar kamar.


Soffin yang keluar kamar, hendak ngambil air minum ke dapur, dan kebetulan melihat Tsamara keluar kamar terperangah kaget.


"Kak Tsa." Gumam Soffin sambil menutup mulutnya dan matanya membulat.


"Kenapa Sof?" Tsamara mengulas senyum pada adiknya.


"Kak Tsa cantik banget, harum pula. Mau kemana?"


Belum juga Tsamara menjawab, papa yang membawa secangkir kopi untuk menemani mengerjakan pekerjaan, juga kaget melihat penampilan Tsamara. Mirip seperti almarhum istrinya dulu.

__ADS_1


"Ka-kamu cantik sekali, nak. Mau kemana?"


"Malam, aku pulang." Ucap Farah yang masuk, lalu menutup pintu ruang tamu.


Ketika ia memutar badannya, ia juga sama terkejutnya seperti adik dan papanya. Karena melihat penampilan Tsamara.


"Kak, cantik banget sih." Gumam Farah.


Tsamara kembali mengulas senyum, melihat keluarganya berkata bahwa dirinya cantik.


"Terima kasih kalian sudah memujiku. Karena kalian tadi bertanya sama, maka aku akan menjawabnya jadi satu. Malam ini, aku mau pergi..."


Belum selesai Tsamara menjawab, terdengar suara ketukan pintu yang diiringi ucapan salam. Farah yang masih berdiri di dekat pintu, segera membukakan pintu itu.


Terlihat pemuda tampan memakai baju berwarna sama dengan yang di pakai Tsamara tengah menyunggingkan senyum.


"Permisi, kak Tsamara ada?" Tanya Thoriq dengan sopan. Meskipun itu pada orang yang umurnya berada dibawahnya.


"A-ada kak." Farah menoleh dan menatap kakaknya.


Farah membuka pintu lebih lebar, sehingga keluarganya bisa tahu siapa yang datang. Termasuk Tsamara dan Thoriq yang langsung saling bersitatap.


Jantung keduanya berdegup kencang tak beraturan. Dalam hati keduanya, saling memuji penampilan orang yang mereka tatap.


Keluarga Tsamara melihat apa yang terjadi diantaranya dan Thoriq, lalu menyunggingkan senyum dan berdehem.


Sehingga suara deheman mereka yang cukup keras, menyadarkan sepasang insan yang tengah memendam perasaan.


Thoriq segera mengalihkan pandangannya pada pak Abas sambil menyunggingkan senyum lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Selamat malam, om."

__ADS_1


"Selamat malam nak Thoriq. Ada apa? Ayo masuk dulu."


Pak Abas memberi ruang agar Thoriq bisa masuk. Mereka pun masuk terlebih dahulu, dan duduk di ruang tamu.


"Ada apa nak?" Tanya pak Abas lagi.


"Saya mau mengajak putri om, Tsamara. Untuk makan malam."


"Aku ikut, kak." Seru Soffin sambil mengangkat tangan dan menunjukkan jari telunjuknya.


Thoriq terpaksa menyunggingkan senyum, karena si kecil itu menyela pembicaraan.


"Soffin, yang diajak cuma kak Tsamara saja. Kamu tidak boleh ikut. Mau nanti jadi obat nyamuk?" Tegur Farah dengan tegas.


"Mana ada nyamuk di restoran." Balas Soffin, yang seperti tidak tahu apa maksud kakaknya.


"Soffin, betul apa yang dikatakan kak Farah. Kalau kamu mau, nanti kita makan malam bersama. Kamu mau makan apa?" Tanya pak Abas.


"Tidak mau." Soffin mengerucutkan bibirnya.


"Maaf ya nak Thoriq, maklum. Dia sangat dekat dengan Tsamara, jadi kemana-mana ingin ikut. Kalau om sendiri mengijinkan kamu mengajak Tsamara untuk pergi makan malam. Asal pulangnya jangan malam-malam. Dan jaga baik-baik putri om."


Thoriq mengulas senyum lega, akhirnya papa Tsamara mengijinkannya untuk membawa putrinya keluar berdua.


"Terima kasih, om. Kalau begitu kami berangkat sekarang ya."


"Hem, berhati-hatilah."


"Baik, om. Soffin, maaf ya, kali ini kakak tidak mengajakmu dulu. In shaa Allah lain kali kakak akan mengajakmu keluar makan atau jalan-jalan."


"Janji ya kak?"

__ADS_1


"In shaa Allah kakak akan usahakan. Kalau begitu, kakak pamit dulu ya."


"Okay, kak." Soffin mengacungkan kedua ibu jarinya.


__ADS_2