
Karena baju turtle neck Tsamara tidak ada, terpaksa ia memakai baju seadanya. T-shirt berwarna merah dan celana hotpants berwarna cream.
Setelah mematut diri di depan cermin, Tsamara mendekati suaminya yang tengah duduk selonjoran di atas tempat tidur.
"Kak Thoriq, kamu pasti lapar. Turunlah ke bawah untuk mengikuti sarapan pagi bersama dengan keluarga."
"Kamu?" Tsamara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Masa aku ikut sarapan, sedangkan kamu tidak." Tolak Thoriq.
"Ya sudah, kita makan di dalam kamar saja." Tawar Tsamara, dan Thoriq pun menganggukkan kepalanya.
Tsamara segera menghubungi Farah, untuk meminta asisten rumah tangganya mengantarkan makanan ke kamar.
Tak lama kemudian setelah menghubungi Farah, pintu kamar Tsamara terdengar di ketuk. Wanita itu beranjak dari duduknya, tapi tangannya segera di tahan oleh suaminya.
"Biar aku saja. Kamu lupa tujuan kita makan di kamar?" Thoriq bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Permisi den, ini makanannya." Dua orang pelayan datang membawakan nampan yang berisi penuh makanan.
"Bibi tunggu di sini saja, biar Thoriq yang bawa makanannya ke dalam."
Pria itu mengambil alih makanan yang di bawa bibi, lalu membawanya ke dalam. Setelah meletakkan makanannya di atas nakas, ia kembali mendekati bibi yang satunya dan mengambil alih makanannya lagi.
Kini pasangan suami-istri itu tengah duduk di kursi balkon, sambil menikmati sarapan pagi bersama. Menu sayuran hijau tetap menjadi favorit Tsamara, meskipun badannya sudah langsing. Keduanya makan dengan lahap.
Setelah selesai makan, keduanya masih terlihat asyik menikmati suasana pagi dari atas balkon.
"Kesini lah." Thoriq menepuk pahanya sendiri.
__ADS_1
"Maksudnya, aku duduk di atas pangkuan kak Thoriq begitu?" Tanyanya ragu.
"Iya, memang kenapa?"
Tsamara yang melihatnya mengernyitkan dahi, lalu dengan ragu ia menuruti permintaan suaminya. Duduk di atas pangkuannya.
"A-aku merasa seperti anak kecil jika duduk di pangkuan seperti ini kak."
Thoriq sejenak memandang wajah istrinya sambil tersenyum. Lalu meletakkan tangan Tsamara di bahunya. Sedangkan tangan Thoriq sendiri melingkar di pinggang ramping istrinya.
Tubuh keduanya sangat rapat, deru nafasnya terdengar bersahutan dan tatapan mereka saling mengunci.
"Kamu ingin bulan madu kemana?" Tanya Thoriq.
"Bulan madu?" Ulang Tsamara sambil mengernyitkan dahi, karena sedang berpikir.
"Kemana saja, asal sama kakak aku mau."
"Hah? Seharian di dalam kamar? Apa ngga bosan?" Cerocos Tsamara sambil menatap suaminya yang terkekeh.
"Kenapa harus bosan? Kita kan jarang bertemu. Butuh banyak waktu untuk saling mengenal dan menyelami pasangan."
"Iya, tapi masalahnya seharian di dalam kamar, kita mau ngapain saja? Apa ngga capek cerita melulu?"
"Ya, apa saja yang bisa kita lakukan bersama. Produksi baby, main catur atau apa saja."
Tsamara terkekeh mendengar penjelasan suaminya, lalu menganggukkan kepalanya.
"Terserah kamu saja deh, kak." Balas wanita itu pasrah.
__ADS_1
Setelah percakapan itu, suasana kembali hening. Tapi tatapan keduanya saling mengunci. Lalu Thoriq memeluk Tsamara dengan erat, seolah tak mau berpisah. Istrinya membalas pelukannya dengan tak kalah erat.
Beberapa menit kemudian, keduanya saling mengurai pelukan. Morning kiss mereka lakukan dengan lembut.
Lama kelamaan, dada Tsamara mulai berdebar kuat. Karena was-was jika suaminya akan meminta jatah pagi. Rasanya perih di bagian bawah sana, belum sepenuhnya hilang. Tapi ia selalu mengingat janjinya dalam hati, untuk melayani suaminya dengan baik.
"Apa kamu takut, aku akan meminta jatah lagi?"
"Tidak. Siapa bilang?" Balas Tsamara berbohong.
"Masa? Tuh wajah mu sudah memerah." Thoriq semakin gencar menggoda istrinya.
Keduanya semakin larut dalam canda tawa, menikmati waktu berdua sebagai sepasang suami-istri.
**
Sementara di ruang bawah, Soffin sudah mondar-mandir di depan televisi sambil mendengus kesal. Karena sejak tadi pagi sampai hari menjelang siang, kakak kandung dan kakak iparnya tidak juga menampakkan batang hidungnya.
"Soffin, di pelankan dong volume televisinya. Kencang sekali sih. Boro-boro kalau televisinya di lihat. Ini malah ditinggal mondar-mandir." Farah yang melihat adiknya geleng-geleng kepala sendiri.
"Soffin baru kesal dengan kak Tsamara dan kak Thoriq, kak. Kenapa sampai sekarang belum juga keluar kamar? Tumben sekali. Biasanya kak Tsamara yang bangunin Soffin." Farah terkekeh mendengar celotehan adiknya.
"Mungkin mereka masih capek, Sof. Tahu sendiri, kemarin tamu yang datang banyak sekali."
"Tapi, kak. Soffin pengen main sepak bola dengan kak Thoriq."
"Halah. Kalau cuma main sepak bola, kak Farah juga bisa. Ayo, kita main sekarang."
"Ngga mau. Masa cowok lawannya cewek." Soffin bersungut-sungut kesal, dan berlalu pergi meninggalkan Farah.
__ADS_1
"Gila. Bisa-bisanya aku di cuekin sama adikku sendiri."