
Cukup lama pak Sanusi, Olive dan Thoriq berbincang-bincang. Hingga akhirnya, mereka pun mengakhiri perbincangan itu, karena hari sudah mulai sore.
Setelah perbincangan itu selesai, Thoriq menghubungi Tsamara. Sekedar ingin menyampaikan, jika rapat tadi berjalan dengan lancar, dan banyak yang mengajaknya bekerja sama.
Tsamara yang berada di ujung sana, juga tampak senang dan kegirangan. Karena temannya mendapatkan suatu kebaikan.
**
Di luar perusahaan Thoriq, Olive menunjukkan muka masam. Apalagi penyebabnya, kalau bukan karena ocehan papanya yang mengatakan wanita itu cocok menjadi istri idaman.
Bibit iri pun mulai tumbuh di hati Olive. Ia yang tidak sepenuhnya kenal dengan Tsamara merasa tersaingi. Karena gadis yang dulu terlihat gendut itu kini badannya semakin padat dan berisi. Dan Thoriq mendapat banyak pujian berkat gadis itu.
"Apa maksud papa bicara seperti tadi? Bilang istri idaman?"
"Lhoh, papa ini kan masih muda. Wajar dong kalau punya istri lebih dari dua."
"Papa mau, Olive bilangin ke mama?" ancam gadis itu.
"Ngga perlu. Papa bisa bilang sendiri."
"Papa!" Olive memukul lengan papanya dengan keras.
Belum hilang rasa iri di hati Olive. Kini ia sudah disuguhkan dengan gambar Tsamara. Yang tampak cantik dan menarik dalam balutan gaun panjang berwarna hijau muda, dan terdapat belahan panjang di bagian pahanya. Rambutnya disanggul ke belakang, dan bibir tipis Tsamara memakai lipstik warna merah. Terlihat cantik, menarik, dan membuat jakun pak Sanusi naik turun.
__ADS_1
"Tutup mata, papa. Jangan di lihat!" seru Olive sambil menutup mata papanya.
"Apa-apaan sih. Sayang tau." sungut pak Sanusi, kesal dengan kelakuan putrinya. Hingga ia menjatuhkan tangan Olive dari pandangannya.
'Lihat saja. Aku nanti akan menyuruh orang untuk menurunkan banner itu.' batin Olive dalam hati.
**
Di jalan lain, Anggara juga melihat banner promosi. Yang menampilkan foto Tsamara. Ia langsung menegakkan badannya dan melihat dengan seksama, gambar Tsamara yang begitu cantik dan menarik. Bahkan ia sampai memfoto banner itu.
"Hah, dia memang cantik dan menarik." dengan terang-terangan Anggara memuji Tsamara.
Pak Anwar pun menoleh sekilas ke arah anaknya, yang tampak tertunduk sambil memperhatikan foto di handphonenya dengan seksama.
"Pa, tiba-tiba Anggara jadi menyesal. Kenapa dulu harus membatalkan pernikahan dengannya. Tahu gitu aku bakal beliin dia vitamin kurus, biar cepat kurus dan aku bisa memilikinya selamanya."
"Iya juga sih." gumam Anggara sambil garuk-garuk kepala, menyadari kebodohan dirinya yang hakiki.
**
Farah sedang dalam perjalanan pulang kuliah. Ia mengendarai mobilnya dan tengah berhenti karena traffic light. Gadis manis itu cukup terkejut, lalu menyunggingkan senyum. Ketika melihat spanduk yang menampilkan gambar kakaknya begitu cantik dan menarik.
"Kak Tsa, memang hebat. Semoga dia bisa sukses. Biar Anggara itu menyesal tujuh turunan dan tujuh tanjakan. Karena sudah tega mencampakkan kak Tsa." gumam Farah dengan berapi-api.
__ADS_1
Meskipun ia tidak mengalami ujian hidup yang dialami oleh kakaknya, tapi setidaknya ia juga ikut merasakannya. Dan ia merasa itu sangat menyakitkan.
Jika itu terjadi padanya, mungkin ia akan memilih terjun ke sungai, atau melompat gedung yang paling tinggi.
Gadis itu lalu memfoto banner itu, dan menjadikannya story' WhatsApp.
Tak lupa ia membubuhi caption. 'Sukses terus ya kak. Doakan, semoga adikmu ini juga bisa menyusul seperti dirimu.'
**
Saat makan malam Farah bercerita, bahkan ia juga memperlihatkan foto Tsamara, yang ada di banner persimpangan jalan, pada keluarganya.
Soffin menjadi yang paling antusias. Dan benar saja, bocah kecil itu langsung menganga mulutnya. Melihat penampilan kakaknya yang tampak jauh berbeda. Sangat cantik dan begitu menarik.
Pak Abas pun juga tak kalah bahagianya. Melihat anak sulungnya, yang dulu disia-siakan oleh calon suaminya, kini menjelma menjadi gadis yang sangat cantik.
"Bagus, sayang. Papa sangat bangga dengan prestasi yang kamu miliki. Semoga rezeki mu tidak berhenti sampai di sini saja. Melainkan lebih banyak lagi kejutan-kejutan manis untuk mu ke depannya. Semoga adik-adik mu juga bisa seperti mu. Papa menasehati kalian, agar terus semangat dan pantang menyerah."
"Iya, pa. Kami akan berusaha meraih cita-cita kami, dan pantang menyerah." kata Farah.
"Soffin juga gitu, pa. Mau ikut-ikutan seperti kakak ku semua."
"Apa? Mau jadi apa? Ikut-ikutan jadi model juga, ha? Mau pakai baju kayak punyanya kak Tsamara. Pakai lipstik juga?"
__ADS_1
Farah menggoda adiknya. Sehingga membuat mereka sekeluarga terkekeh. Tapi tidak dengan Soffin, yang justru cemberut dan melipat tangan di depan dadanya.
"Sudah, sudah. Kakak mu hanya bercanda. Jangan mudah marah. Ntar langsung tua lho." Bukannya menenangkannya anaknya, papa malah menambah-nambahi.