
( POV Deddy )
"Sudah tiga bulan aku tidak pernah bertemu dengan Dinda,sejak Rani kecelakaan dan masuk rumah sakit,sejak itulah Dinda berubah,kalau di WhatsApp gak pernah di balas dan kalau di telepon gak pernah di angkat,aku cek setiap hari rukonya pun tutup terus,sepertinya Dinda sudah tak berjualan online lagi" Batin Deddy.
"Assalamualaikum Bu" Ucap Deddy.
"Wallaikumsallam" Sahut Bu Yanti.
"Gimana kabarnya Bu,udah lama kita enggak ketemu ya Bu" Ucap Deddy sambil menyalami tangan Bu Yanti.
"Alhamdulillah baik bang" Sahut Bu Yanti.
"Dinda sama anak-anak gak ada kesini ya Bu?" Tanya Deddy.
"Enggak bang,Dinda sekarang lagi sibuk ngurusin bisnisnya" Timpal Bu Yanti.
"Bisnis onlinenya masih jalan ya Bu?" Tanya Deddy.
"Masih bang,malah sekarang dia udah punya gudang sendiri di sebelah rumahnya" Sahut Bu Yanti.
"Maksudnya Bu,gudangnya pindah ke sebelah rumah Dinda gitu?" Tanya Deddy.
"Iya bang,rumah tetangga yang di sebelah Dinda itu di jual dan di beli sama Dinda,jadi sekarang rumah itu di jadikan gudang tas branded" Sahut Bu Yanti.
"Jadi rumah tingkat yang baru di renovasi itu,yang di sebelah rumah Dinda itu milik Dinda ya Bu?" Tanya Deddy lagi.
"Iya bang,makan bang" Ucap Bu Yanti.
"Iya Bu,kebetulan lapar nih belum makan hehe" Deddy segera berdiri menuju ke meja prasmanan,lalu ia pun mengambil nasi dan lauk pauk serta sayur.
"Mau minum apa bang?" Tanya Bu Yanti.
"Teh tawar hangat aja Bu" Sahut Deddy.
"Teh tawar hangat satu mbak" Ujar Bu Yanti pada karyawannya.
"Baik Bu" Sahut karyawan tersebut.
Karyawan Bu Yanti pun segera bergegas ke belakang untuk membuatkan teh tawar untuk Deddy.
"Memangnya bang Deddy gak pernah ketemu lagi ya sama Dinda?" Bu Yanti pura pura bertanya,padahal ia sebenarnya sudah tahu kalau Dinda dan Deddy udah lama tidak pernah bertemu.
"Iya Bu,mungkin sekitar tiga bulan kami gak pernah ketemu lagi Bu" Sahut Deddy sambil menyantap makanannya.
"Oh,udah lama juga ya bang" Ucap Bu Yanti.
__ADS_1
"Iya Bu,udah tiga bulan gak pernah ketemu lagi,terakhir ketemu ya waktu di rumah sakit itulah bu,waktu Rani kecelakaan" Timpal Deddy.
Selesai makan di rumah makan Bu Yanti, Deddy langsung membayar di kasir,kemudian ia pun berpamitan pada Bu Yanti.
"Bu,aku pamit pulang dulu ya Bu" Ucap Deddy sambil menyalami tangan Bu Yanti.
"Iya bang,hati hati di jalan ya" Ucap Bu Yanti.
Deddy pun segera bergegas menuju ke arah mobilnya,ia pun segera menyalakan mesin mobilnya, lalu ia melajukan kendaraannya.
"Hmm,pantaslah aku cek setiap hari rukonya Dinda tutup terus,rupanya gudangnya udah pindah ke sebelah rumahnya" Batin Deddy.
Sesampainya di depan rumah Dinda,pintu pagar rumah Dinda yang tinggi itu pun tertutup rapat dan tak terlihat ada satu orangpun yang keluar dari dalam rumah itu.Deddy pun memperhatikan rumah tingkat berlantai dua yang di sebelah rumah Dinda tersebut,tampak mewah dan berpagar tinggi.
"Tuuuuttttt... Tuuuuttttt... Tuuuuttttt" Deddy menghubungi Dinda.
Deddy terus saja menghubungi Dinda berulang kali,namun sayang Dinda tidak mengangkat teleponnya.
"Bugh! " Deddy memukul setir mobilnya.
"Ah sialan! lagi lagi Dinda tak mengangkat telepon dari aku" Ucap Deddy kesal.
{ Din,tolong angkat dong teleponnya,please }
{ Din,coba kamu buka pintu pagar rumah kamu,aku ada di depan rumah kamu loh Din }
Deddy pun mengirimkan pesan tersebut pada WhatsApp Dinda,namun lagi lagi pesannya itu tak di respon oleh Dinda.
{ Din,kamu kok gak keluar sih,aku nungguin kamu di depan rumah kamu,aku disini udah 3 jam loh Din }
{ Din,maafkan aku ya,kalau aku ada salah sama kamu Din }
{ Salahku apa Din?kok kamu sampai cuekin aku kayak gini sih Din? }
{ Baiklah,kalau kamu tidak mau keluar,maaf aku udah mengganggu waktu kamu Din }
Deddy pun mengirimkan pesan tersebut pada WhatsApp Dinda,lalu ia pun segera berlalu dan meninggalkan rumah Dinda.
Sementara itu di dalam rumah Dinda,ia tengah sibuk merekap orderan yang masuk dari customer.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Deddy menghubungi Dinda.
"Hmm,mau ngapain lagi sih nelepon,gak penting banget,ganggu aja deh,berisik" Batin Dinda,lalu ia pun meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Tak berselang lama kemudian ada beberapa pesan masuk dari Deddy di WhatsApp nya.
__ADS_1
"Hadeeuuh,panjang amat pesannya" Dinda hanya membaca pesan dari Deddy,lalu ia pun langsung menghapus pesan tersebut.
"Mbak Tia,gimana udah di packing semuanya mbak?" Tanya Dinda.
"Udah Bu" Sahut Tia.
"Oh ya udah,setelah di tempel alamat rumahnya di semua paketnya,nanti kamu langsung masukkan aja ke dalam karung yang besar itu mbak" Ujar Dinda.
"Iya Bu" Sahut Tia.
"Tuuuuttttt...Tuuuuttttt... Tuuuuttttt" Dinda menghubungi pak Ari tetangganya yang membuka kantor JNE.
"Assalamualaikum pak,paket udah siap ya pak" Ucap Dinda.
"Wallaikumsallam,oke baik Bu Dinda,sebentar lagi kami jemput ke rumah Bu Dinda" Sahut Pak Ari.
Tak berselang lama kemudian,mobil pak Ari telah tiba di depan rumah Dinda yang berlantai dua itu.
"Ting tong...ting tong" Bel rumah pun berbunyi,Tia segera bergegas membukakan pintu pagar.
"Mbak,paketnya udah siap?" Tanya pak Ari pada Tia.
"Udah pak,itu yang di karung besar ya pak" Tia menunjukkan tangannya pada karung besar tersebut.
"Hii pak,seperti biasa nanti resi nya kirim melalui WhatsApp aja ya pak" Ucap Dinda sambil tersenyum.
"Oke baik Bu Dinda hehe" Ucap pak Ari.
"Dan seperti biasa,pembayaran ongkirnya nanti saya transfer melalui M-banking aja ya pak" Ucap Dinda lagi.
"Siap Bu,aman itu Bu hehe" Pak Ari pun berpamitan,ia dan karyawannya mengangkut karung besar tersebut dan memasukkannya ke dalam mobil miliknya.
"Alhamdulillah bisnis jualan online ku bertambah pesat dan laris manis,semenjak Rani keluar dari rumah sakit,aku kini benar-benar fokus pada bisnisku,bahkan customer yang order melalui Instagram itu ada yang dari Singapore,Malaysia,Taiwan dan Hongkong,customerku sekarang bukan hanya dari Indonesia saja,sekarang sudah lintas luar negeri,terima kasih atas nikmat rezeki dan karunia-Mu ya Allah" Batin Dinda.
Sementara itu di tempat lain,Deddy berpikir bahwa Dinda sudah mempunyai pengganti dirinya,makanya sekarang Dinda sangat susah sekali untuk di hubungi.
"Jangan jangan dia punya gebetan baru,atau jangan-jangan dia telah kembali lagi sama Ino" Gumam Deddy.
"Bugh! ah sialan,kenapa juga aku harus patah hati,bukankah perempuan masih banyak di luaran sana" Gumam Deddy.
"Iya,banyak sih perempuan di luar sana,tapi nyari yang kayak Dinda susah dan tidak ada duanya" Gumam Deddy.
BERSAMBUNG
*****
__ADS_1