Gairah Wanita Kesepian

Gairah Wanita Kesepian
Bab 90. Rani Pindah ke Ruang Perawatan.


__ADS_3

( POV Dinda )


"Iya masih di ruang UGD pah,dan Rani baru selesai di jahit kakinya,kata suster mama di suruh ke bagian administrasi,dan di suruh milih kelas apa untuk ruang perawatan Rani pah" Ucap Dinda.


"Ada kelas apa aja mah?" Tanya Herman.


"Kelas ekonomi,VIP dan VVIP pah" Sahut Dinda.


"Ambil ruangan yang VVIP mah,papa mau Rani nyaman dan tidak berisik bergabung bersama pasien lainnya" Ujar Herman.


"Iya pah" Sahut Dinda.


"Mengenai asuransi Rani gimana mah?" Tanya Herman.


"Mama udah menghubungi agen asuransinya pah,kata agen asuransinya ia akan mengklaim asuransi Rani ke managernya" Sahut Dinda.


"Mudah mudahan asuransinya cepat cair ya ma,dan sekarang papa akan transfer uang ke rekening mama 35 juta,semoga cukup untuk biaya rumah sakit Rani ya ma" Ucap Herman.


"Iya pah,ya udah dulu pah,mama sekarang mau ke bagian administrasi dulu pah,mau membayar DP rumah sakit" Timpal Dinda.


"Iya mah,maafin papa ya mah,papa gak ada di samping kalian ketika kalian membutuhkan papa,sekarang papa masih di tengah laut ma" Ucap Herman merasa bersalah.


"Iya gak apa-apa pah,papa fokus ke pekerjaan aja,Rani biar mama yang urus disini" Sahut Dinda.


Dinda pun mematikan teleponnya,lalu ia pun bergegas berjalan menuju ke bagian administrasi,untuk membayar sejumlah DP dan memilih kamar ruang perawatan Rani.


"Bu,nanti ibu bawa dan kasihkan kertas ini ke bagian receptions UGD ya Bu" Ucap seorang pria yang duduk di kasir administrasi tersebut.


"Iya pak" Sahut Rani,kemudian ia pun berlalu menuju ke receptions UGD.


"Permisi Bu,ini saya mau menyerahkan kertas ini Bu" Ucap Dinda.


"Oke baik,mohon di tunggu sebentar ya Bu" Sahut seorang perempuan paruh baya tersebut.


Dinda pun duduk di kursi ruang tunggu,lalu ia membuka layar ponselnya.


"Tuuuuttttt.... Tuuuuttttt... Tuuuuttttt" Dinda menghubungi Ani.


"Hallo Bu Ani" Ucap Dinda.


"Iya hallo Bu Dinda" Sahut Ani.


"Masih kerja ya Bu?" Tanya Dinda.


"Iya Bu,tapi ini sebentar lagi udah mau pulang" Sahut Ani.


"Saya sekarang lagi di rumah sakit Bu" Ucap Dinda sambil terisak.


"Hah,siapa yang sakit Bu?" Tanya Ani kaget.


"Anakku Bu,dia kesenggol mobil angkot pas mau berangkat ke sekolah" Ucap Dinda.

__ADS_1


"Di rumah sakit mana Bu?sebentar lagi saya kesana Bu" Timpal Ani.


"Di RSUD Bu" Sahut Dinda.


"Sabar ya Bu,nanti saya dari tempat kerja langsung ke rumah sakit" Ucap Ani.


"Iya Bu" Dinda pun mematikan ponselnya.


"Rani" Panggil perempuan paruh baya yang duduk di receptions UGD.


"Ya Bu" Sahut Dinda seraya berdiri dan menghampiri meja receptions.


"Sekarang ibu boleh naik ke atas lantai 4 kamar nomor satu,ruang mawar VVIP ya Bu,tadi suster sudah membawa pasien naik ke lantai atas melalui lift" Ucap perempuan paruh baya tersebut.


"Oke baik Bu,terima kasih ya Bu" Ucap Dinda,lalu ia pun membalikkan badannya.


"Brukh!


Dinda menabrak kepala sekolah yang tengah berdiri di belakang Dinda sedari tadi.


"Eh,maaf pak,saya gak sengaja" Ucap Dinda,ia segera berjongkok mengambil ponselnya yang terjatuh.


"Iya gak apa-apa Bu" Sahut kepala sekolah tersebut,lalu ia pun membantu Dinda mengambilkan kertas yang tercecer di lantai.


"Maaf pak,saya gak lihat kalau bapak ada di belakang saya" Ucap Dinda.


"Engga apa-apa Bu,sekarang Rani sudah di ruang perawatan ya Bu?" Tanya kepala sekolah tersebut.


"Boleh kami ikut Bu?" Tanya wali kelas Rani.


"Boleh pak" Dinda berjalan dan masuk ke dalam lift,di ikuti oleh kepala sekolah,wali kelas dan tiga orang guru lainnya.


Sesampainya di lantai empat,lift rumah sakit pun terbuka,Dinda segera bergegas keluar dari dalam lift tersebut dan mencari ruang mawar kamar nomor satu VVIP.


"Maaf suster,saya sedang mencari ruang mawar,kamar nomor satu,di sebelah mana ya sus?" Tanya Dinda pada suster yang lewat.


"Ini Bu,di depan pas pintu masuk sebelah kiri itu ruang mawar kamar nomor satu" Suster menunjukkan tangannya ke arah kamar tersebut.


"Oke baik terima kasih suster" Dinda segera bergegas menuju ke kamar tersebut dan di ikuti oleh lima orang guru di belakangnya.


"Assalamualaikum" Ucap Dinda,saat memasuki ruangan ber-AC tersebut.


"Wallaikumsallam" Sahut suster yang sedang membetulkan posisi tiang infus.


"Suster,anak saya belum sadar juga ya sus?" Tanya Dinda pada suster.


"Belum Bu,kemungkinan nanti malam baru sadar Bu,ini effect obat bius,jadi ibu jangan khawatir ya" Ucap suster.


"Terima kasih suster" Ucap Dinda.


"Iya sama-sama Bu,permisi Bu" Suster pun berlalu dari ruangan.

__ADS_1


"Bu,ibu yang sabar ya,saya selaku wali kelasnya Rani,beserta guru guru lainnya,turut bersedih atas kejadian ini,semoga ibu bisa tabah menghadapi ini semua" Ucap wali kelas Rani.


"Iya,terima kasih bapak dan ibu,karena sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari" Ucap Dinda.


"Kalau begitu,kami pamit dulu ya Bu" Timpal kepala sekolah.


"Iya pak" Sahut Dinda.


Setelah berpamitan kelima orang guru guru itu pun keluar dari ruang perawatan Rani.


"Assalamualaikum" Ucap Ani.


"Wallaikumsallam" Sahut Dinda.


"Bu,bagaimana kondisi Rani sekarang Bu" Tanya Ani.


"Iya seperti yang ibu lihat,kondisinya belum sadarkan diri Bu" Sahut Dinda.


"Ini kakinya kenapa di perban Bu?" Tanya Ani.


"Luka di kakinya cukup parah Bu,jadi Rani tadi habis di jahit sama dokternya" Sahut Dinda.


"Berapa jahitan Bu" Tanya Ani.


"21 jahitan Bu" Sahut Dinda.


"Ya Allah,wajahnya penuh luka,memar dan lecet lecet ya Bu" Ucap Ani sedih sambil meneteskan air matanya.


"Iya Bu,untung kakinya tidak patah,itu aja udah syukur Alhamdulillah Bu" Sahut Dinda sedih.


"Yang sabar ya Bu" Ucap Ani sambil memeluk Dinda.


"Iya,terima kasih Bu" Sahut Dinda sambil terisak.


"Assalamualaikum" Terdengar suara ramai di balik pintu.


"Wallaikumsallam" Sahut Dinda dan Ani.


"Bu,kami teman teman sekelasnya Rani dan kakak kelasnya Rani ingin menjenguk Rani,bolehkah kami masuk Bu?" Ucap seorang anak remaja di depan pintu.


"Oh iya,silahkan masuk" Dinda mempersilahkan teman temannya Rani untuk masuk ke dalam ruangan.


"Ya Allah Ran,cepat sembuh ya" Ucap salah seorang teman Rani.


Wajah teman temannya Rani tampak bersedih melihat kondisi Rani yang tak sadarkan diri itu.


"Ran,lekas sembuh ya Ran" Ucap temannya sambil mengelus-elus tangan Rani.


Setelah lima menit berada di dalam ruangan, teman temanya Rani yang berjumlah sepuluh orang itu pun keluar,hanya tersisa satu orang anak remaja laki-laki tinggal di dalam ruangan.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


******


__ADS_2