
( POV Dinda )
"Lalu Endang,gimana ceritanya kok dia bisa kabur dari rumah?" Tanya Dinda penasaran
"Kalau Endang dia kabur dari rumah setelah kami bertengkar hebat" Timpal Deddy.
"Bertengkar karena apa?" Tanya Dinda.
"Kan semenjak aku talak Kokom,ketiga anakku yang di Garut aku bawa kesini semuanya dan sebelum aku membawanya kesini,aku izin dulu sama Endang,mau gak kamu ngurusin ketiga anakku yang dari Kokom,jawab dia mau katanya" Deddy berhenti sejenak,lalu ia pun menghisap rokoknya.
"Namun setelah sebulan ketiga anakku tinggal bersama disini,dia mulai berubah, pagi-pagi ia mencuci piring dengan cara di banting-banting,jujur aku gak suka dan merasa kesal pada waktu itu" Ucapnya.
"Lalu aku menghampirinya dan bertanya, kenapa kok cuci piring di banting-banting begitu?" Curhatnya.
"Kata dia sih kesal dan capek setiap hari mencuci piring sebanyak itu,ia merasa menjadi pembantu di rumah sendiri,ia tidak ikhlas mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga" Jelasnya.
"Hmm,terus?" Dinda penasaran.
__ADS_1
"Yang lebih fatal lagi,udah tahu hari itu hari senin dan Zidane masuk sekolah pagi dan akan upacara di sekolahnya,tapi celananya Zidane baru di cuci dan masih basah tergantung di jemuran" Terangnya.
"Lalu" Tanya Dinda penasaran.
"Ya otomatis aku ngamuk lah,udah tahu hari senin,kenapa baru mencuci celana pagi itu,aku kan jadi geram sama dia,tapi dia gak mau di salahkan dengan alasan capek! " Jelas Deddy.
"Hmm,begini ya bang,bukanya aku belain istri-istri kamu,tapi yang jelas keduanya tidak bisa di salahkan sepenuhnya bang,kamu juga harus introspeksi diri" Ucap Dinda.
"Lah kok aku yang harus intro diri,jelas-jelas mereka yang berbuat salah" Timpalnya kesal.
"Begini bang,pertama Kokom bisa jadi dia merasa kesepian dan butuh tempat curhat karena kamu jarang pulang,cuma setahun sekali kan pas lebaran doang?" Tanya Dinda.
"Iya,bisa jadi karena kesepian dan kurang kasih sayang dari kamu,makanya dia jadi belok gitu bang,jadi kamu juga disini patut di salahkan,ada sebab pasti ada akibat dong?" Ucap Dinda.
Deddy hanya terdiam,ia pun menghisap rokoknya dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Kedua Endang,mungkin Endang merasa capek mengurus kamu dan ke tujuh anak kamu,belum lagi harus masak,membereskan rumah serta mencuci,itu pekerjaan berat loh bang,kamu seharusnya cari pembantu untuk meringankan pekerjaan Endang" Ucap Dinda.
__ADS_1
"Tapi dia selama ini gak pernah minta di carikan pembantu,aku pikir dia bisa mengerjakan semuanya sendiri" Timpalnya.
"Hey,kamu sebagai suami juga harus peka dong sama istri kamu,mungkin memang selama ini dia tidak pernah mengeluh,lalu setelah sebulan kemudian ia luapkan kekesalannya dia di pagi itu,harusnya kamu peka dari awal bang,bukannya tidak capek loh mengurus orang banyak sendirian,belum lagi mungkin malamnya kamu garap dia,apa dia gak lelah tuh" Ucap Dinda.
"Iya juga sih,tapi kenapa aku gak kepikiran sampai kesitu ya?" Timpal Deddy.
"Ya karena kamu gak peka,coba kamu peka terhadap istrimu,mungkin Endang tidak sampai kabur dari rumah" Ucap Dinda.
"Ya kini semuanya sudah terlanjur menjadi bubur,aku sekarang menjadi single parents dan setiap pagi aku bangun subuh untuk menyapu,mencuci piring dan menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak" Keluhnya.
"Jadi begini bang,Endang itu ada benarnya juga,cobalah kamu ajarkan anak-anak kamu belajar mandiri,contohnya anak-anak di bagi tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah" Ucap Dinda.
"Hmmm" Deddy mengangguk anggukan kepalanya.
"Anak-anak kan udah pada besar-besar,contoh Zidane kan udah SMA seharusnya dia sudah bisa mencuci pakaiannya sendiri,iyakan?" Tanya Dinda.
BERSAMBUNG
__ADS_1
****