
( POV Deddy )
"Tas branded coach berwarna cokelat ini akan aku berikan buat Dinda.Aku sudah tak sabar ingin memberikannya,Dinda pasti suka sekali dengan tas ini"Batin Deddy.
"Tuuuuttttt... tuuuuttttt... tuuuuttttt" Deddy menghubungi Dinda.
"Hallo bang" Terdengar suara Dinda di ujung telepon.
"Dinda lagi ngapain,dimana dan sama siapa?" Tanya Deddy.
"Pertanyaan kamu itu loh bang,bikin aku kesal,kalau nanya itu satu persatu,jangan di borong semuanya" Timpal Dinda kesal.
"Loh kok di tanya baik baik,jawabnya ngambek sih?" Tanya Deddy.
"Jujur ya bang,aku gak suka dengan pertanyaan seperti itu,ngapain,dimana,sama siapa?seolah olah kamu itu tidak percaya sama aku! " Umpat Dinda kesal.
"Oh,oke baiklah,mungkin pertanyaan Abang salah,Dinda sekarang lagi dimana?" Tanya Deddy dengan lembut seperti sedang meledek.
" Di ruko! " Sahut Dinda kesal.
"Kenapa sih marah marah mulu,lagi datang bulan ya,kok bawaannya emosian mulu?" Tanya Deddy.
"Iya,gak suka aja dengan pertanyaan kamu itu" Sahut Dinda kesal.
"Din,Abang on the way ke ruko sekarang ya" Ucap Deddy.
Dinda tidak menjawab,ia langsung mematikan teleponnya.Lima belas menit kemudian Deddy datang dengan membawa paper bag dan kantong plastik besar.
"Assalamualaikum Bu,Dinda nya ada Bu?" Tanya Deddy.
"Wallaikumsallam,masuk sini bang,Dinda ada lagi di atas sama Shella dan Shelly.
"Rani gak ikut Bu?" Tanya Deddy.
"Rani gak ikut ke ruko,Rani sama mbak Siti di rumah" Ucap Bu Yanti.
Bu Yanti naik ke lantai atas dan memanggil Dinda,supaya turun ke bawah.
"Din,ada Deddy tuh di bawah" Ucap Bu Yanti.
"Iya Bu" Sahut Dinda.
Sesampainya di bawah,Deddy menatap Dinda dan tersenyum mengembang di bibirnya.
"Kenapa hari ini di telepon,bawaannya marah marah mulu?lagi dapat ya hehehe" Ucap Deddy terkekeh meledek Dinda.
"Gak apa-apa! " Timpal Dinda ketus.
"Ini Abang bawain kamu oleh oleh,kamu pasti suka" Ucap Deddy sambil menyodorkan paper bag dan kantong plastik besar.
"Kan aku udah bilang bang,gak usah beliin aku apa apa,kamu beliin aja oleh oleh untuk kedua istri kamu" Timpal Dinda.
"Ini di beliin oleh oleh bukannya terima kasih,malah ceramah pula" Sahut Deddy kesal.
"Bukan begitu bang,aku kasihan aja sama istri istri kamu, sekali kali kamu harus perhatian dan manjain mereka juga bang" Ucap Dinda menjelaskan.
"Kenapa sih,kok ngomongnya gitu?" Tanya Deddy kesal.
"Karena aku juga seorang istri,jadi tahu bagaimana perasaan kedua istri kamu di sana" Ucap Dinda.
"Tapi kenapa ya,setiap aku pergi keluar kota ataupun keluar negeri,yang aku ingat cuma kamu doang Din,bahkan aku tak mengingat kedua istriku sama sekali" Ucap Deddy.
"Gombal,Bulshit! " Timpal Dinda.
"Kamu gak kasihan apa sama mereka yang jauh di sana,mereka itu tidak hanya butuh makan saja,tapi mereka juga butuh perhatian" Ucap Dinda.
"Aku perhatian kok,buktinya tiap hari aku telepon mereka" Ucap Deddy.
"Tidak hanya cukup dengan basa basi sekedar tanya kabar tiap hari,tapi butuh tindakan juga" Ucap Dinda.
"Din,kamu kenapa sih?hari ini kamu kayaknya salah minum obat deh?" Timpal Deddy kesal.
Tiba tiba Bu Yanti turun ke bawah dengan menggandeng Shella dan Shelly.
"Hallo Shella dan Shelly,ini om bawain kalian oleh oleh loh,mau gak?ayo sini" Ucap Deddy ramah pada Shella dan Shelly.
Shella dan Shelly hanya diam,dan memegang tangan Bu Yanti,dan tidak menanggapi Deddy.
"Apa itu om,bilang" Ucap Bu Yanti mengajari Shella dan Shelly.
Deddy mengeluarkan banyak makanan dari dalam kantong plastik,lalu di kasihkan sama Shella dan Shelly.
"Terima kasih om" Ucap Shella dan Shelly bersamaan.
"Bu,ini saya bawakan oleh oleh dari Malaysia" Ucap Deddy pada Bu Yanti.
"MasyaAllah banyak banget ini bang,habis dari Malaysia ya bang?" Tanya Bu Yanti.
"Iya Bu,kemarin tiga hari di Malaysia,biasa ada tugas dari kantor Bu" Ucap Deddy.
"Terima kasih banyak ya bang, semoga rezekinya di lancarkan" Ucap Bu Yanti.
"Aamiin,makasih Bu" Ucap Deddy.
"Din,ini bukalah,pasti kamu suka" Deddy menyodorkan paper bag pada Dinda.
Dinda diam saja tak merespon perkataan Deddy dan hanya melihat ke arah Shella dan Shelly yang sedang asik makan roti.
"Dinda,kalau ada yang ngasih rezeki itu jangan di tolak,pamali" Ucap Bu Yanti.
"Iya Bu" Sahut Dinda.
Dinda pun akhirnya membuka paper bag tersebut dan di dalamnya terdapat tas branded yang sangat simple dan elegan.
"Gimana Din,kamu suka gak?" Tanya Deddy sambil tersenyum.
Dinda hanya menganggukkan kepalanya,lalu memasukan kembali tas branded tersebut ke dalam paper bag.
"Terima kasih ya" Ucap Dinda datar.
"Sama sama,tapi kamu suka kan dengan tas nya Din?" Tanya Deddy lagi.
__ADS_1
"Iya suka" Timpal Dinda.
"Kalau suka,tiap jalan sama aku,tas nya di pakai ya hehehe" Ucap Deddy.
"Iya" Sahut Dinda.
"Wah bagus banget tas nya bang,pasti mahal ya bang?" Tanya Bu Yanti.
"Gak apa-apa mahal Bu,yang penting Dinda suka Bu hehehe" Timpal Deddy.
"Makan bang,udah makan belum?" Tanya Bu Yanti.
"Belum Bu" Sahut Deddy.
"Mau di ambilkan?atau mau ambil sendiri?" Tanya Bu Yanti.
"Biar aku ambil sendiri aja Bu" Sahut Deddy.
Deddy pun berdiri dan berlalu menuju meja prasmanan,kemudian mengambil piring,nasi lauk pauk serta sayur.
"Mantap banget masakan Ibu nih,top banget deh" Ucap Deddy memuji.
"Ah,itukan bukan saya aja yang masak bang,di bantu sama karyawan juga hehehe" Ucap Bu Yanti.
"Iya,tapi ibu yang mengarahkan,mereka hanya mengikuti sesuai yang ibu suruh kan hehehe" Timpal Deddy.
"Iya,saya gak bisa kalau gak terjun langsung ke dapur,maklum empat karyawan semuanya masih muda,jadi semuanya masih harus di ajarin" Ucap Bu Yanti.
Sementara Deddy sedang makan,Dinda sedang mengangkat telepon dari suaminya di lantai atas.
"Assalamualaikum Mama,apa kabarnya?" Tanya Herman suami Dinda.
"Wallaikumsallam pah,Alhamdulillah baik Pah" Sahut Dinda.
"Ma,tadi barusan ada pesan masuk,nanyain nomor handphone Mama" Ucap Herman.
"Siapa pah?" Tanya Dinda penasaran.
"Katanya,namanya ino" Timpal Herman.
Degh!
Dinda hanya terdiam mendengar nama Ino di sebut oleh suaminya.Dinda baru ingat kalau nomor handphone yang di pakai Herman sekarang adalah nomor ponselnya Dinda dulu.Karena Herman di tengah laut terus menerus hingga nomor pribadinya hangus.
Jadi waktu Dinda berangkat ke Singapore untuk menemui Herman pada waktu itu,Herman sempat meminta nomornya Dinda untuk ia pakai,karena ia di Singapore tak bisa membeli kartu Indonesia.
"Ma,kok diam aja,siapa itu Ino?" Tanya Herman.
"Oh,Ino ya pah?dia itu sepupu Mama Pah" Jawab Dinda asal.
"Oh sepupu Mama ya" Timpal Herman.
"Terus,Papa balas pesan dia?" Tanya Dinda.
"Iya Papa balas,maaf ini dengan siapa?Papa balas begitu ma" Sahut Herman.
"Terus dia balas apa pah?" Tanya Dinda cemas.
"Oh begitu ya pah,terus Papa kasih nomor Mama sama dia?" Tanya Dinda penasaran.
"Iya Papa kasih aja,kan katanya itu saudara Mama" Sahut Herman.
"Oh ya sudah kalau begitu, Papa kapan pulangnya?" Tanya Dinda.
"Kemungkinan dua bulan lagi ma,sabar ya ma" Ucap Herman.
"Iya pah" Timpal Dinda.
Herman pun menutup teleponnya dan Dinda pun segera turun ke bawah.
"Siapa yang telepon Din?" Tanya Deddy.
"Suami" Sahut Dinda.
"Oh" Timpal Deddy.
"Shella Shelly kita mandi di atas yuk,ini udah sore" Ajak Bu Yanti pada Shella dan Shelly.
Bu Yanti pun mengajak Shella dan Shelly untuk naik ke lantai atas.
"Din,kita nonton bioskop yuk,ada film bagus loh" Ajak Deddy.
"Film apaan?" Tanya Dinda.
"Film kungfu panda,lucu banget,pasti kamu suka,aku aja sampai ketawa ketawa mulu" Ucap Deddy.
"Ya kalau udah nonton,ngapain nonton lagi?" Tanya Dinda.
"Iya,tapi pengen nonton lagi sama kamu Din" Timpal Deddy.
"Aku gak suka film kungfu panda" Ucap Dinda.
"Ya udah,kita nonton film yang lain aja,film apa aja yang kamu suka" Ucap Deddy.
"Oke" Sahut Dinda.
Kemudian Dinda pun ke lantai atas berpamitan pada Bu Yanti.Setelah berpamitan Deddy dan Dinda pun berangkat menuju ke studio XXI.
Namun di tengah perjalanan ponselnya Dinda berdering dan ada panggilan telepon masuk.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Panggilan telepon dari nomor tak di kenal.
"Siapa ya,kok nomor baru?" Gumam Dinda.
"Telepon dari siapa Din?" Tanya Deddy.
"Engga tahu, nomor baru tak di kenal" Sahut Dinda.
"Angkat aja dan loud speaker! " Ujar Deddy.
Dinda sempat ragu untuk mengangkat telepon tersebut,tapi ponselnya terus terusan berdering,hingga akhirnya Dinda memutuskan untuk mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo" Terdengar suara Ino di ujung telepon.
Degh!
Dinda seketika itu juga langsung mematikan teleponnya dan membulatkan matanya dengan sempurna.
"Telepon dari siapa sih,kok di matiin?" Tanya Deddy.
"Engga tahu deh,kayaknya orang salah sambung mungkin" Jawab Dinda asal.
Deddy langsung menepikan mobilnya,lalu langsung merebut ponsel Dinda dan mengecek nomor panggilan yang masuk.
"Nomor siapa ini,kok gak ada namanya?" Tanya Deddy sambil mengernyitkan dahinya.
"Engga tahu,mungkin orang salah sambung" Ucap Dinda mengelak.
"Gak mungkin kamu gak tahu,tadi ekspresi kamu saat mendengar suara laki-laki itu langsung berubah" Ucap Deddy sambil menatap tajam ke arah Dinda.
"Oh itu,kayaknya teman sih" Sahut Dinda gugup.
"Teman yang mana,siapa namanya?" Tanya Deddy.
"Atau mungkin tukang servis AC kali" Jawab Dinda asal.
"Tinggal di mana dia?" Tanya Deddy penuh selidik.
"Ya tinggal di dekat rumahku" Jawab Dinda beralasan.
"Engga mungkin! kamu terlihat sekali sedang menyembunyikan sesuatu dari aku,aku tahu kamu sekarang lagi berbohong" Deddy meninggikan suaranya sambil melotot.
"Iya,kayaknya itu tukang servis AC deh,soalnya kemarin aku pesan sama dia suruh bersihin AC di kamar depan yang udah mulai kotor" Ucap Dinda panik.
"Dinda,aku kenal kamu itu bukan sebulan dua bulan,tapi sudah enam bulan,nampak sekali dari gesture tubuh kamu,kalau kamu sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu dari aku" Ucap Deddy tegas sambil menatap tajam ke arah Dinda.
Dinda hanya diam tak berkata apapun,ia sudah kehabisan alasan untuk berdebat sama Deddy.
"Jawab Dinda,aku tahu ini pasti nomor mantan kamu kan?" Tanya Deddy dengan suara tinggi.
"Aku tahu,ini bukan nomor Palangkaraya,tapi ini nomor Jakarta,jadi kamu jangan coba-coba untuk bohongin aku ya !
"Brugh!
Deddy memukul setir mobil dengan kencang, Dinda pun ketakutan dan berusaha membuka pintu mobil untuk kabur.
"Percuma di buka pintunya,gak akan kebuka juga,pintunya sudah aku kunci !" Deddy berteriak sambil melotot.
"Aku mau keluar! " Dinda berteriak.
"Dinda,sekarang kamu jawab jujur,ini nomor mantan kamu kan?" Tanya Deddy.
"Aku gak tahu,mungkin iya" Ucap Dinda sambil menangis terisak karena ketakutan mendengar nada suara Deddy yang sangat menggelegar.
"Kok mungkin,pasti kamu sengaja kan,nomor dia gak kamu save,karena takut ketahuan sama aku kan? Tanya Deddy.
"Iya memang aku gak tahu,kalau itu nomornya Ino,kami kan udah lama loose Contact" Timpal Dinda sambil terisak.
"Jawab dengan jujur,kamu selama ini sering telponan sama dia di belakang aku kan? Deddy meninggikan suaranya dan membentak Dinda.
Dinda makin histeris menangis,karena selama ini ia tak pernah mendapat perlakuan kasar dari siapapun,bahkan dari suaminya ia tak pernah di bentak kasar seperti itu.
"Dinda,maafkan Abang Dinda,Abang khilaf, Abang kesal dan lagi emosi,maafkan Abang ya" Deddy memeluk Dinda dan mengelus-elus punggung Dinda.
"Din,udah dong,jangan nangis terus,Abang tadi kesal karena Abang lagi emosi" Ucap Deddy sambil menenangkan Dinda dan membelai rambut Dinda.
"Aku mau pulang ke ruko sekarang,aku gak mau nonton,dan aku gak mau kenal lagi sama kamu" Ucap Dinda sesenggukan.
"Sayang,maafkan Abang ya,tadi Abang cemburu, Abang takut banget kehilangan kamu sayang" Deddy memeluk Dinda dengan erat,namun Dinda berusaha melepaskan pelukannya.
"Pokoknya aku mau pulang,aku gak suka di bentak,suamiku aja gak pernah bentak aku, ibuku aja gak pernah bentak aku huhuhu" Dinda menangis sesenggukan.
"Dengarkan Abang dulu sayang,Abang minta maaf ya,tadi Abang benar benar lagi emosi,Abang khilaf,Abang mengaku salah,Abang janji gak akan bentak Dinda lagi,asalkan Dinda jujur ya?" Ucap Deddy dengan suara pelan dan lembut.
"Sebenarnya aku gak tahu,kenapa tiba-tiba Ino bisa menghubungi aku lagi,soalnya aku kan udah lama banget gak pernah komunikasi sama dia huhuhu" Dinda menangis sesenggukan .
"Udah ah,jangan menangis lagi,tuh keluar ingus dari hidung,sini Abang bersihin ingusnya" Deddy mengambil tissue di atas dasboard,lalu mengelap ingus Dinda.
"Sebenarnya tadi sebelum kita berangkat suamiku telepon di atas dan mengatakan bahwa ada pesan masuk dari Ino,dan Ino menanyakan nomor aku ke suamiku" Ucap Dinda menjelaskan.
"Kok Ino bisa tahu nomor suami kamu?" Deddy mengernyitkan dahinya.
"Iya,jadi nomor yang di pakai suamiku sekarang itu adalah nomorku yang dulu,karena nomor dia mati dan hangus gak pernah di isi pulsa, namanya juga berbulan bulan di tengah laut,kadang sampai setahun,jadi sim card dia mati, kebetulan aku punya dua sim card,terus suamiku minta sim card punyaku yang satu itu,begitu ceritanya" Ucap Dinda menjelaskan.
"Oh begitu ya,ya sudah sekarang blokir aja nomor Ino,gak usah komunikasi lagi sama dia ya,awas kalau diam diam di belakang aku masih berkomunikasi" Ancam Deddy.
Dinda hanya diam menyandarkan kepalanya ke jok mobil,kepalanya berat karena banyak menangis.
"Ya udah jangan nangis lagi ya cup" Deddy mengecup pipi Dinda.
Dinda diam saja tak merespon apapun,ia hanya merasakan kepalanya sangat berat dan pusing.
"Oke,sekarang kita berangkat nonton ya" Ucap Deddy sambil mengelus kepala Dinda.
"Aku gak mau nonton,aku mau pulang aja" Ucap Dinda.
"Tapi ini udah dekat ke studio XXI loh Din, katanya tadi mau nonton,kok jadi malah pulang?" Tanya Deddy.
"Engga mood" Ucap Dinda kesal.
"Atau kita ke hotel aja,gimana sayang?" Tanya Deddy.
"Engga mau,kepalaku berat dan pusing,aku mau pulang aja" Sahut Dinda.
"Ya udah kalau begitu,besok aja kita nontonnya ya sayang?" Ucap Deddy.
Dinda hanya diam saja dengan tatapan mata lurus kedepan,sambil sesekali mengelap ingus yang keluar dari hidungnya.
Deddy pun memutar arah mobilnya,menuju ke arah ruko Bu Yanti,dan rencana untuk nonton hari itu pun gagal karena terjadi pertengkaran.
BERSAMBUNG.....
********
__ADS_1