
( POV Dinda )
"Iya ma,terima kasih atas dukungannya" Timpal Herman sambil tersenyum.
"Silahkan pak,bu" Ucap pelayan sambil menata piring makanan di atas meja.
"Makasih mas" Ucap Dinda.
Dinda dan Herman pun menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Pantaslah ramai pengunjung,satenya enak ya ma" Ucap Herman.
"Iya pah,disini tuh emang tiap hari ramai terus pah" Timpal Dinda.
Setelah selesai makan keduanya pun segera bergegas menuju ke hotel yang tak jauh dari warung sate kambing tersebut.
Sesampainya di lobby hotel Herman langsung memesan satu kamar deluxe room pada receptions.
"Long time apa short time pak?" Tanya seorang perempuan yang duduk di receptions tersebut.
"Short time aja dek" Timpal Herman.
"Oke baik pak,ini lock card nya,kamar lantai dua nomor 209 ya pak" Ucapnya.
"Oke baik,terima kasih dek" Ucap Herman.
"Ayo ma,kita naik ke atas" Ajak Herman pada Dinda lalu keduanya pun masuk ke dalam lift.
Sesampainya di kamar hotel,Herman pun langsung bergegas ke kamar mandi,ia segera menggosok giginya yang bau sate kambing.
__ADS_1
"Ma,ayo kita sikat gigi bareng" Ajak Herman.
"Oke" Sahut Dinda.
Setelah selesai menggosok gigi Herman pun mengambil haknya sebagai suami.
Seperti biasa Herman yang tak pandai ritual ciuman ataupun foreplay,ia pun langsung saja memasukkan senjatanya ke dalam goa milik Dinda.
Lima menit kemudian Herman sudah mencabut senjatanya,ia pun melakukan pelepasan.
"Maafin papa ya ma" Ucap Herman merasa bersalah.
"Iya pah" Jawab Dinda datar.
"Mama pasti marah dan kecewa ya sama papa?" Tanyanya sambil membaringkan tubuhnya di sebelah Dinda
"Ya mau bagaimana lagi,mungkin ini udah menjadi takdirku pah,mempunyai suami yang memang kemampuannya hanya sampai disitu aja,mama sekarang ini lagi belajar menerima kekuranganmu pah" Timpal Dinda.
"Ya,mungkin aku harus menerima kenyataan dan harus bisa berdamai dengan keadaan" Timpal Dinda.
"Ma,nanti kalau pas papa libur kuliah,mama ke Jakarta ya" Ucap Herman.
"Oke pah,kapanpun di suruh ke Jakarta,mama siap pah" Timpal Dinda.
Setelah puas melakukan pillow talk,Dinda dan Herman pun check out dari hotel tersebut.
Sesampainya di rumah,Dinda dan Herman pun di sambut hangat oleh ketiga anaknya.
"Assalamualaikum" Ucap Dinda dan Herman.
__ADS_1
"Wallaikumsallam" Ucap Siti sambil membukakan pintu.
"Papa?papa pulang,kembar papa pulang! " Teriak Rani.
"Papa kok pulang gak bilang-bilang,mama juga mau jemput papa diam-diam aja, enggak ngajak Rani" Rani mencium punggung tangan Herman.
'Hey,kak Rani udah besar ya hehe" Ucap Herman sambil mengelus rambut Rani.
"Mana kembar kak?" Tanya Herman pada Rani.
"Ada di kamarnya pah,bentar Rani panggilkan dulu ya pah" Rani segera bergegas menuju ke kamar Shella dan Shelly.
Tak berselang lama kemudian Rani datang bersama Shella Shelly.
"Hey sayang Shella Shelly,sini nak" Herman melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Shella dan Shelly pun mendekati Herman lalu mencium punggung tangan Herman.
"Sini nak,duduk dekat papa" Ujar Herman pada Shella Shelly.
Shella dan Shelly tampak malu-malu,ia tidak dekat dengan Herman,karena dari kecil ia sering di tinggal dalam waktu yang cukup lama,sehingga chemistry nya dengan Herman pun bisa di bilang tidak ada.
"Untung papa nya gak di panggil om ya hehe" Ucap Dinda sambil terkekeh.
"Maafkan papa nak,papa kan cari uang buat kalian hehe,ini loh papa bawain oleh-oleh cokelat sama ice cream banyak buat kalian" Herman membuka kopernya.
Shella dan Shelly pun baru mau mendekati Herman,lalu keduanya pun tersenyum saat menerima cokelat kesukaannya.
**BERSAMBUNG**
__ADS_1
\*\*\*\*