
( POV Deddy )
"Iya,kan kita juga bisa punya anak lagi Din, setelah kita menikah" Timpal Deddy enteng.
"Gila kamu ya bang,kok bisa sampai kepikiran seperti itu sih?aku gak mau hamil lagi,udah cukup anakku tiga aja,lagian anak kamu kan udah tujuh,apa masih kurang?" Tanya Dinda.
"Kan dari kamu belum punya Din hehehe" Ucap Deddy sambil cengengesan.
"Oh no,sekali aku bilang tidak ya tidak,aku gak mau hamil lagi,kalau kamu mau punya anak lagi,silahkan kamu cari perempuan lain aja! " Ujar Dinda ketus.
"Engga mau dari yang lain,maunya dari kamu aja Din" Timpal Deddy.
"Kalau kamu bahas ini lagi,aku pastikan kita gak bakal ketemu lagi bang,karena kita harus berpikir rasional dan harus pakai logika,jangan karena keegoisan dan perbuatan kita,orang orang di sekitar kita jadi korban! " Ucap Dinda tegas.
"Please Din,jangan ngomong seperti itu,jangan pernah berubah dan jangan menjauhi aku ya Din" Ucap Deddy memelas.
"Makanya jangan ngomong aneh aneh,aku gak habis pikir ya,kenapa kamu bisa kepikiran seperti itu?" Tanya Dinda.
"Iya pengen aja gitu punya anak dari kamu Din,supaya kita terikat dan kalau kamu punya anak dari aku,kamu gak akan bisa ninggalin aku Din" Ucap Deddy enteng.
"Permisi,silahkan Pak,Bu" Ucap pelayan sambil menata piring makanan di meja.
"Makasih mbak" Ucap Dinda.
"Kamu kira punya anak itu gampang apa?" Tanya Dinda.
"Aku pasti bertanggung jawab Din" Timpal Deddy.
"Mulai dari hamil,melahirkan,susunya,Pampers nya,biaya sekolah TK SD SMP SMA sampai kuliahnya,asuransinya,belum lagi biaya kebutuhan sehari-harinya,kamu kepikiran sampai kesitu engga,jangan cuma mau bikinnya aja! " Ucap Dinda ketus.
"Aku siap menanggung semuanya Din,itupun kalau kamu mau,kalau engga juga ya gak apa-apa,yang penting aku bisa sama sama kamu terus,itu aja udah cukup" Sahut Deddy.
"Ya udahlah,gak usah bahas itu lagi,sekarang kita makan aja bang" Ujar Dinda.
"Oke Dindaku sayang hehehe" Sahut Deddy.
Setelah selesai makan Deddy dan Dinda pun santai menikmati pemandangan malam yang indah sambil menghisap rokok.
"Eh,apa ini?" Dinda mengernyitkan dahinya ketika ia melihat layar ponselnya.
"Ada apa Din?" Tanya Deddy.
"Ini si Tia,foto profilnya sama cowok duduk di atas motor,terus ini kenapa dia pakai bajuku?" Dinda membulatkan matanya dengan sempurna.
"Wah,ngelunjak itu namanya Din,pembantu kurang ajar,berani sekali dia pakai baju majikan" Ucap Deddy kesal.
"Astaghfirullah Al'adzim,kok Tia begini sih lancang sekali dia" Ucap Dinda geram.
"Kalau pulang nanti marahin aja,kalau di biarkan bisa ngelunjak itu Din" Timpal Deddy.
__ADS_1
"Siti aja yang udah tiga tahun kerja sama aku,gak pernah lancang seperti ini loh" Ucap Dinda.
"Memang si Tia ini agak lain aku tengok,dia gayanya aja agak agak centil gitu,beda dengan Siti kalem dia anaknya" Timpal Deddy.
"Bang,udah jam 10 malam,aku harus pulang" Ucap Dinda.
"Are you sure mau pulang?gak mampir dulu ke hotel Din?" Tanya Deddy.
"Engga,langsung pulang aja,perasaan aku gak enak setelah melihat foto si Tia ini bang" Sahut Dinda.
"Iya udah,sebentar Abang ke kasir dulu ya Din" Deddy pun berlalu menuju meja kasir,untuk membayar makanan.
Dua puluh menit kemudian Deddy dan Dinda telah sampai di depan rumah Dinda.
"Bang,makasih ya untuk dinner nya,keren banget tempatnya aku suka,ikan bakarnya juga enak hehe" Ucap Dinda.
"Iya sama-sama sayang,kalau kamu suka,next time kita kesana lagi ya Din" Sahut Deddy.
"InsyaAllah bang,aku turun dulu ya" Ucap Dinda berpamitan.
"Dinda,lupa ya,cium dulu dong" Deddy menarik tubuh Dinda,lalu ia pun mencumbunya dengan lembut.
"Oke,udah ya,aku turun dulu" Dinda pun meraih pintu mobil dan hendak membukanya.
"Dinda,Abang gak mau pisah sama kamu,inilah saat saat yang paling menyebalkan,setiap mengantar kamu pulang,pasti ada momen perpisahan seperti ini,bikin kesal" Ucap Deddy sembari memeluk tubuh Dinda dengan erat.
Deddy dengan cekatan langsung mencumbu bibir Dinda dengan nafas yang memburu seperti tak mau melepaskan tautannya.
"Hmm,udah bang,aku gak bisa nafas nih" Dinda berusaha melepaskan tautannya.
"Habis bibir kamu bikin gemas hehe" Ucap Deddy sambil tersenyum mengembang di bibirnya.
"Udah ah,aku mau turun" Dinda membalikkan badannya dan membuka pintu mobil.
"Dinda,i love you" Ucap Deddy sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dinda tak mempedulikan ucapan Deddy,ia turun dari mobil Deddy lalu ia pun bergegas masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum mbak" Ucap Dinda pada Siti.
"Wallaikumsallam Bu" Sahut Siti.
"Mbak Siti,Tia udah pulang belum?" Tanya Dinda.
"Belum Bu" Sahut Siti.
"Berangkat dari jam berapa tadi dia mbak?" Tanya Dinda.
"Ibu Dinda berangkat,tak lama Tia pun pergi Bu" Sahut Siti.
__ADS_1
"Oh iya ya mbak,dia pergi pakai baju apa mbak?" Tanya Dinda.
"Baju apa ya Bu,soalnya pas dia pamit pergi,tadi saya lagi di kamar sama Shella Shelly" Timpal Siti.
"Oh gitu ya mbak,saya mau ke kamar Tia sekarang mbak,yuk temani saya ke kamar Tia mbak" Ajak Dinda pada Siti.
"Iya Bu" Siti mengikuti langkah Dinda dari belakang.
Dinda mengecek lemari pakaian Tia,di sana ternyata ada beberapa helai baju milik Dinda,tiga kaos dan dua mini dress.
"Omaygatsss,selama ini aku cari cari,kemanakah mini dress aku ini,ternyata ada di sini rupanya hmm" Dinda membulatkan matanya dengan sempurna.
"Hah?" Siti pun terlihat kaget,ketika melihat ada beberapa lembar baju milik majikannya di lemari Tia.
"Mbak Siti,baju ini yang selama ini aku cari cari, ternyata ada disini" Ucap Dinda.
"Maaf Bu,saya tidak tahu menahu soal baju baju ini" Ucap Siti ketakutan.
"Saya tahu mbak,kamu kan orangnya jujur dan gak pernah lancang" Timpal Dinda.
Dinda dan Siti pun berlalu dari kamar Tia.Dinda masuk ke dalam kamar Shella dan Shelly yang sudah tertidur dengan pulas.
"Cup,cup" Dinda mencium pipi Shella dan Shelly yang sedang tertidur pulas.
"Rani mana mbak?" Tanya Dinda.
"Tidur di kamar depan Bu" Sahut Siti.
"Ti,Siti" Terdengar suara Tia di luar memanggil nama Siti.
"Iya,sebentar" Siti bergegas menuju ke arah pintu.
"Kreeeeekkkk" Pintu di buka oleh Siti.
"Siti,Bu Dinda udah pulang belum?" Bisik Tia pada Siti.
"Udah" Sahut Siti.
"Oh iya ya,udah lama pulangnya" Tanyanya lagi.
"Ehem,baru pulang mbak?" Tanya Dinda.
"Eh,iya Bu hehehe" Sahut Tia cengengesan.
Dinda pun berlalu menuju ke kamarnya dan ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
BERSAMBUNG....
*******
__ADS_1