
Jujur setelah Ino menghilang dari kehidupanku, aku sudah tidak berharap apapun,karena hatiku sudah merasa di kecewakan dan merasa di campakkan begitu saja.
Sejak hadirnya Deddy di kehidupanku,perlahan rasa cintaku sama Ino itu sudah pudar,bahkan tidak ada sama sekali,dan aku sudah tidak percaya lagi pada laki laki manapun selain suamiku sendiri.
Kalau selama ini aku sering jalan sama Deddy, itupun aku tidak pernah pakai hati alias just have fun,dan ketika Ino hadir kembali untuk menghubungiku,rasa ini sudah benar benar hilang.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Ino Menghubungi Dinda.
"Hallo" Terdengar suara Ino di ujung telepon.
"Iya hallo" Sahut Dinda datar.
"Apa kabarnya Dinda?" Tanya Ino.
"Alhamdulillah baik,kamu sendiri bagaimana kabarnya?" Tanya Dinda.
"Baik hehehe" Timpal Ino.
"Tumben telepon?" Tanya Dinda.
"Iya,kangen aja sama kamu,emang saya gak boleh telepon kamu lagi ya?" Tanyanya.
"Ya boleh boleh aja sih" Timpal Dinda.
"Kemana aja selama ini,sekarang lagi sibuk apa Dinda?" Tanya Ino.
"Pertanyaan macam apa ini,dia yang menghilang,dia pula yang menanyakan kemana aja selama ini?" Batin Dinda.
"Kamu yang kemana aja,menghilang tanpa kabar,bak di telan bumi" Ucap Dinda ketus.
"Iya saya salah,saya minta maaf sama kamu ya Dinda" Timpal Ino.
"Maaf,segampang itukah kamu meminta maaf sama aku?" Ucap Dinda kesal.
"Kalau boleh saya mau memperbaiki kesalahan saya,maaf selama ini saya mungkin mengecewakan kamu" Sahut Ino.
"Udah dulu ya,aku lagi di jalan" Ucap Dinda beralasan.
"Oh ya udah,nanti saya hubungi kamu lagi,boleh ya Din?" Tanya Ino.
Dinda pun mematikan teleponnya,rasa sakit yang pernah Ino torehkan masih sangat membekas di hati Dinda,tapi kenapa tiba-tiba Ino sekarang muncul kembali?
"Ah sudahlah,lupakan saja,jangan sampai jatuh ke lubang yang sama" Batin Dinda.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Deddy menelepon Dinda.
"Hallo Din" Terdengar suara Deddy di ujung telepon.
"Iya" Sahut Dinda.
"Makan malam yuk Din" Ajak Deddy.
"Maaf,aku lagi gak mood" Timpal Dinda.
"Ayolah Din,aku jemput sekarang ya?" Tanya Deddy.
"Aku lagi mager" Sahut Dinda datar.
"Mager,apa itu mager?" Tanya Deddy.
"Malas gerak" Timpal Dinda.
"Ayolah Din,sebentar lagi Abang jemput ya,kamu siap siap aja pokoknya" Deddy langsung mematikan teleponnya.
"Hadeeuuh,kebiasaan banget suka maksa huh" Gumam Dinda kesal.
Dinda pun segera mengganti pakaiannya dan merias wajahnya dengan makeup tipis.Dua puluh menit kemudian Deddy pun sudah datang menjemput.
"Hallo Din,aku udah di depan rumah kamu nih" Ucap Deddy di telepon.
"Iya,aku keluar sekarang" Sahut Dinda.
Dinda pun segera bergegas menuju keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobil Deddy.
"Mau makan malam dimana sih?kok maksa banget?" Ucap Dinda kesal.
"Ada deh,pokoknya tempatnya enak banget" Ucap Deddy sambil tersenyum.
Selama perjalanan Dinda lebih banyak diam dan tak banyak bicara,ia malah memikirkan Ino,Ino dan Ino.
"Din,kok diam aja sih?" Tanya Deddy.
"Iya,aku bilang kan sama kamu,aku hari ini lagi mager,tapi kamu nya maksa banget" Jawab Dinda acuh tak acuh.
Sesampainya di restoran ikan bakar, Deddy pun mengajak Dinda masuk ke dalam,dan ternyata di sana sudah banyak rekan bisnis Deddy dari Malaysia.
"Hii Ded,siapa yang awak bawa nih,cantik sangatlah" Tanya seorang rekan bisnisnya.
"Oh,iya kenalin bang,ini namanya Dinda hehehe" Dengan bangga Deddy memperkenalkan Dinda kepada rekan rekan bisnisnya yang berjumlah enam orang itu.
"Hii mbak Dinda,kenalin nama saya Anggi" Ucap seorang perempuan yang duduk di sebelah rekan bisnis bang Deddy.
Perempuan berkulit hitam manis itu memperkenalkan dirinya pada Dinda dan mengajaknya bersalaman.
"Hii mbak Anggi,salam kenal kembali ya hehe" Sahut Dinda sambil bersalaman dengan Anggi.
"Mbak Dinda mau makan apa?" Tanya Anggi.
"Samain aja mbak,sama yang lain" Sahut Dinda.
Selesai makan Deddy,Dinda,Anggi dan rekan rekan bisnisnya kemudian berlalu menuju ke hotel bintang lima.Sementara Deddy serta rekan rekan bisnisnya sedang pesan kamar di receptions,Dinda dan Anggi duduk di sofa lobby hotel.
"Mbak Dinda,udah lama kenal sama bang Deddy?" Tanya Anggi.
"Baru enam bulan mbak" Timpal Dinda.
"Mbak,besok kan suami Anggi sama teman temannya mau pada main golf,kita besok shopping ke Mall yuk mbak" Ajak Anggi pada Dinda.
"Kita lihat besok aja ya mbak,kira kira aku besok bisa atau enggaknya,nanti besok aku kabari mbak Anggi ya" Timpal Dinda.
"Oh begitu,kalau boleh tahu berapa nomor handphonenya mbak Dinda?" Tanya Anggi.
"0813xxxxxxx itu mbak nomornya" Ucap Dinda.
"Kayaknya kita seumuran ya?mbak Dinda umur berapa sih?" Tanya Anggi.
"Umur 28 tahun mbak hehe" Ucap Dinda.
"Oh,sama dong kita,aku juga umur 28 tahun sekarang mbak hehe" Timpal Anggi.
"Dinda,Anggi ayo" Deddy memanggil Dinda dan dan Anggi.
__ADS_1
"Mbak ayo kita kesana,kita udah di panggil tuh" Ajak Dinda pada Anggi.
Selesai memesan kamar Deddy,Dinda dan Anggi dan enam rekan bisnis Deddy pun naik ke lantai tiga,karena semuanya berjumlah sembilan orang,maka terbagi menjadi dua lift.
Dan sesampainya di lantai tiga, pada berpencar mencari kamar masing-masing.
"Din,kamar kita di sebelah sini" Deddy menarik tangan Dinda menuju pintu kamar nomor 309.
"Hey mbak Dinda,kamar kita bersebelahan mbak" Ucap Anggi sambil tersenyum.
"Oh,iya ya mbak" Timpal Dinda.
Deddy mendekatkan card lock magnetik ke arah handle pintu,kemudian pintu hotel pun terbuka.
"Kita ngapain masuk ke hotel sini bang?" Tanya Dinda.
"Ya mau nginap dong Din,masa mau main congklak" Jawab Deddy enteng.
"Tapi,tadi kamu gak bilang kalau kamu ngajak nginap,kamu cuma bilang kita makan malam ajakan?" Tanya Dinda kesal.
"Udah gak apa-apa,sekali kali nginap semalam di sini,besok pagi baru pulang ya" Ucap Deddy sambil menaik turunkan alisnya sambil tersenyum genit.
"Iiih nyebelin banget sih kamu,aku kan tadi gak bilang sama mbak Siti kalau mau nginap, kasihan anak-anakku di rumah" Ucap Dinda kesal.
"Palingan anak-anak juga udah pada tidur sama mbak Siti" Timpal Deddy enteng.
"Ayo,sekarang kita siap siap Din" Ujar Deddy.
"Siap siap mau kemana?" Tanya Dinda sambil mengernyitkan dahinya.
"Kita mau ke diskotik" Ucap Deddy.
"Hah! gila kamu ya,aku gak mau ikut" Ucap Dinda kesal.
"Udah ayo,kamu belum pernah masuk ke diskotik kan,sekali kali Din,biar tahu di dalam diskotik itu seperti apa" Ucap Deddy enteng.
"Tapi bang,itu bukan duniaku,aku nanti mau ngapain disana,pasti nanti aku kayak orang bego di dalam" Timpal Dinda protes.
"Tok...tok... tok" Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
Deddy pun segera bergegas membukakan pintu,dan terlihat Anggi sudah berdiri di depan pintu.
"Mbak Dinda,ayo sekarang kita pergi" Ajak Anggi.
"Mau kemana mbak?" Dinda pura pura tidak tahu.
"Ke diskotik mbak" Bisik Anggi.
"Hmmm...." Dinda berpikir sejenak seperti ragu ragu.
"Ayo mbak Dinda,kita ikut aja,kita happy happy hehe" Ajak Anggi.
"Oke deh" Ucap Dinda.
"Nah gitu dong hehehe" Celetuk Deddy sambil terkekeh.
Semuanya berangkat menggunakan dua mobil,karena mobil Deddy tidak muat untuk mengangkut sembilan orang penumpang, maka yang tiga orang lagi naik taksi yang selalu standby depan hotel.
"Mbak,katanya kita mau ke diskotik,tapi kok malah masuk kesini?" Tanya Dinda.
"Iya mbak,kita mau cari cewek cewek untuk menemani mereka happy happy ke diskotik" Timpal Anggi.
Semua rekan rekan bisnisnya Deddy pun masuk ke dalam pub dan di sambut hangat oleh sang Mami pemilik pub tersebut.
"Hii semuanya,selamat datang,mari mari silahkan masuk" Sambutan Mami sangat ramah dan semuanya di ajak cipika cipiki.
"Mbak udah sering masuk kesini?" Bisik Dinda pada Anggi.
"Engga sering sih,tapi udah beberapa kali" Timpal Anggi.
"Mari silahkan,mau pilih yang mana hehehe" Ucap Mami dengan ramah.
Dinda heran melihat banyak perempuan cantik dan berdandan menor duduk berjejer di bawah lampu remang-remang,dan semuanya tersenyum ke arah tamu yang datang,seolah olah mereka ingin di pilih oleh tamu yang datang.
"Hii bang" Ucap perempuan perempuan itu sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada tamu yang datang.
"Banyak banget mbak,kasihan yang gak kepilih" Bisik Dinda pada Anggi.
"Iya kasihan,kayaknya ada sekitar tiga puluh orang ya mbak,tapi yang di pilih cuma lima orang aja" Timpal Anggi.
"Omaygatsss,kasihan mereka capek-capek dandan gak kepilih" Bisik Dinda pada Anggi.
"Iya begitulah mbak,namanya persaingan dunia malam,makanya aku selalu ikut kemana pun suamiku pergi mbak,biar dia gak macam macam hehehe" Ucap Anggi cengengesan.
Setelah memboking lima perempuan itu pun,rekan bisnis Deddy membayar sejumlah uang pada Mami tersebut.Lalu perempuan perempuan itupun di ajak ke diskotik.
Sesampainya di diskotik Dinda merasa tidak nyaman dan mengajak Deddy untuk pulang.
"Bang,aku mau pulang" Ucap Dinda pada telinga Deddy.
"Lah,kok pulang sih?kan baru masuk Din" Sahut Deddy.
"Musiknya kencang banget,sampai bising di telinga dan hentakan musiknya bikin jantung mau copot,aku gak nyaman disini,aku mau pulang" Dinda berteriak di dekat telinga Deddy.
"Jangan gitulah Din,Abang gak enak nih sama rekan rekan bisnis Abang,masa baru masuk mau pulang,gak mungkin kita tinggalkan mereka disini,sedangkan mereka adalah tamu kita" Ucap Deddy.
"Mbak Dinda mau minum apa?" Tanya Anggi mendekati Dinda sambil berbisik.
"Aku orange jus aja mbak" Ucap Dinda polos.
"Hahahaha,mbak Dinda ini ada ada aja deh,masa di luar orange jus,di dalam sini juga orange jus" Sahut Anggi terkekeh.
"Anggi,Dinda gak suka minum" Timpal Deddy.
"Oh,gak suka minum ya hehe,maaf ya mbak Dinda,kirain suka minum" Ucap Anggi merasa tak enak.
"Iya gak apa-apa mbak,aku air mineral sama orange jus aja" Ucap Dinda.
"Din,lihat deh,itu **** dance nya keluar" Ucap Deddy.
"Omaygatsss" Ucap Dinda.
Dinda ternganga melihat tujuh orang **** dance menari nari erotis di atas panggung.
"Baru pertama kali lihat ya hehehe" Ucap Deddy meledek.
"Hmmm..." Timpal Dinda.
"Mau rokok gak?" Tanya Deddy.
"Mau dong,mana?" Sahut Dinda.
__ADS_1
Dinda asik merokok sambil minum orange jus, sementara yang lain udah geleng geleng kepala semuanya,badannya berjoget terus menerus dan di kendalikan oleh obat dan suara musik yang menggema.
"Dinda,ini buat kamu" Salah satu rekan bisnis Deddy menghampiri Dinda dan ngasih dua butir pil di telapak tangan Dinda.
"Apa ini bang?" Tanya Dinda polos.
"Udah,itu buat kamu" Ucap lelaki paruh baya tersebut.
"Maaf bang,Dinda gak minum obat" Bisik Deddy pada lelaki tersebut.
"Oh iya ya,maaflah saya tak tahu" Ucap lelaki paruh baya tersebut.
"Tak ape bang hehehe" Timpal Deddy.
Laki laki paruh baya itu pun berlalu,kemudian berjoget dan menggelengkan kepalanya terus menerus sampai jam empat pagi.
"Din,mana obat tadi?" Tanya Deddy.
"Nih" Dinda memberikan dua pil tersebut pada Deddy.
"Mau Abang apakan itu?" Tanya Dinda.
"Jual lagi sama orang,lumayan" Ucap Deddy enteng.
"Husss gak boleh gitu" Ucap Dinda.
"Bercanda Dinda,mau Abang kasihkan lagi sama dia" Deddy mendekati rekan bisnisnya itu,lalu mengembalikan dua butir pil tersebut.
"Bang,apa mereka itu gak capek ya?badannya gerak terus,joget terus,kepalanya di geleng gelengkan terus,dari jam 1 sampai jam 4 subuh?" Tanya Dinda polos.
"Iya enggaklah Din,mereka gak sadar,di bawah pengaruh obat,palingan besok pas bangun tidur,baru tuh badan mereka merasa remuk dan pegal pegal hehehe" Sahut Deddy terkekeh.
"Sebenarnya apa sih untungnya minum begituan bang heran deh" Ucap Dinda.
"Rasanya seperti terbang melayang dan merasa tak punya beban hidup,pokoknya yang mereka rasakan nih happy,begitu Dinda sayang" Deddy menjelaskan.
"Hadeeuuh" Timpal Dinda.
Sekitar jam empat subuh,Deddy mengajak rekan-rekan bisnisnya untuk kembali ke hotel.Tidur dua jam di hotel,kemudian jam enam pagi breakfast,lalu berangkat main golf.
Sementara Deddy dan rekan rekan bisnisnya main golf,Dinda dan Anggi pergi ke Mall.
"Mbak Dinda,kita makan disitu yuk" Ajak Anggi.
"Yuk" Sahut Dinda.
"Mau pesan makan apa kak?" Tanya pelayan.
"Ayam penyet dan minumnya orange jus" Ujar Dinda.
"Gado gado dan minumnya jus sirsak" Ujar Anggi.
"Baik kak,di tunggu sebentar ya kak" Timpal pelayan.
"Mbak Anggi,udah berapa lama nikah sama bang Madun?" Tanya Dinda.
"Hampir dua tahun mbak" Sahut Anggi.
"Maaf ya mbak,aku lihat bang Madun ini udah berumur ya?" Tanya Dinda.
"Iya mbak,umurnya udah 62 tahun,lihat aja rambut sama kumisnya udah putih semua" Ucap Anggi.
"Oh iyalah mbak gak apa-apa udah berumur,yang penting sayang sama kita,iya kan mbak?" Ucap Dinda.
"Iya,bang Madun itu sebenarnya udah punya istri,bahkan udah punya cucu di Malaysia sana mbak,tapi dia perhatian sama aku mbak" Ucap Anggi.
"Mungkin kalau dari segi materi perhatiannya gak kurang ya mbak,tapi gimana itu mbak kalau urusan ranjangnya?" Tanya Dinda.
"Iya gitu deh mbak,lima menit udah keluar hehehe" Timpal Anggi sambil terkekeh.
"Iya,namanya juga udah berumur mbak hehehe" Timpal Dinda.
"Ini pesanannya kak,silahkan" Ucap pelayan.
"Terima kasih mbak" Ucap Dinda.
"Mbak Dinda,aku kan nikah sama bang Madun itu,statusku udah janda punya anak satu" Ucap Anggi curhat.
"Oh,begitu ya mbak?" Timpal Dinda.
"Iya,suamiku yang dulu KDRT dan malas kerja,aku capek hati mbak Dinda nikah sama dia,udah gak di nafkahi,kita di siksa pula,ya mendingan aku minta cerai aja" Ucap Anggi.
"Terus anak sekarang sama siapa mbak?" Tanya Dinda.
"Sama aku mbak,sekarang aku pergi kesini,aku titipkan sama ibuku" Timpal Anggi.
"Oh gitu ya mbak" Sahut Dinda.
"Aku jarang ketemu sama bang Madun,tapi setiap bulan duitnya ngalir terus" Ucap Anggi.
"Iyalah yang penting setoran ngalir terus ya mbak hehehe" Timpal Dinda.
"Aku kan istri kedua mbak,istri pertamanya itu gak tahu,kalau bang Madun nikah lagi sama aku mbak" Anggi terus saja curhat.
Dinda tak menanggapi,ia tengah menikmati ayam penyet dengan lahap.
"Alhamdulillah aku udah di belikan rumah tingkat dan mobil mbak Dinda" Ucap Anggi.
"Mbak Anggi,dulu susah dapat suami pengangguran dan di rumah terus,udah gitu KDRT pula,sekarang Alhamdulillah dapat yang tajir ya mbak" Timpal Dinda.
"Iya mbak,udah tua dan bau tanah,kalau gak karena duit,mana mau aku sama dia mbak" Ucap Anggi.
"Berapa bulan sekali ketemunya mbak?" Tanya Dinda.
"Kadang sebulan sekali,kadang dua bulan sekali,itupun kalau ketemu paling cuma 2-3 hari aja" Kata Anggi.
"Rumah mbak Anggi di mana sih?" Tanya Dinda .
"Di Jakarta Utara mbak,main mainlah ke rumahku mbak" Ujar Anggi.
"InsyaAllah kapan kapan ya mbak" Sahut Dinda.
"Jadi nanti kalau mereka pulang ke Malaysia, mbak Anggi pulang ke Jakarta?" Tanya Dinda.
"Iya mbak" Timpal Anggi.
Setelah selesai makan,Dinda dan Anggi pun pergi shopping baju,tas dan sepatu di boutique.
BERSAMBUNG....
*******
__ADS_1