
( POV Dinda )
Malam harinya Herman mengajak Dinda pergi ke mall yang letaknya tidak jauh dari hotel yang mereka tempati.
"Mama mau makan apa?" Tanya Herman.
"Apa aja yang penting halal pah" Sahut Dinda.
"Iya disini kita harus jeli cari tempat makan ya ma,jangan kayak waktu itu,kita ikut ikutan ngantri karena lihat orang ramai ngantri,eh tahunya dia jual daging babi ya hehe" Herman jadi mengingat pengalaman sebelumnya bersama Dinda.
"Nah itu dia,takutnya kejadian lagi kayak dulu pah hehe" Timpal Dinda.
"Pah,gimana kalau kita makan KFC aja?"Ajak Dinda.
"Ayolah kalau mama mau,papa ikut aja" Timpal Herman.
Setelah selesai makan Dinda dan Herman pun masuk ke dalam boutique sepatu.
"Pah ini bagus gak?" Tanya Dinda.
"Bagus ma,beli aja kalau mau ma" Ujar Herman.
"Tapi mahal pah" Sahut Dinda.
"Gak apa-apa mahal,yang penting mama suka kan?ambil aja kalau suka ma" Ujar Herman.
"Oke deh,mama mau ini satu ya" Dinda mencoba sepatu tersebut di depan cermin.
Setelah Herman membayar sepatu tersebut di kasir.Dinda dan Herman pun berjalan menuju ke toko tas branded.
"Wah ini keren banget pah sumpah" Dinda membulatkan matanya dengan sempurna.
"Ambil aja ma kalau mau" Ujar Herman.
"Ah,tapi harganya ngeri pah,sayang uangnya hehehe" Ucap Dinda setelah melihat banderol tas branded tersebut.
"Gak apa-apa ma ambil aja,daripada nanti kepikiran terus sampai gak bisa tidur hehe" Timpal Herman.
"Emang boleh pah?" Sahut Dinda dengan wajah sumringah.
"Boleh dong ma" Timpal Herman.
Herman pun membayar tas branded yang di pilih Dinda di kasir.Kemudian keduanya pun berlalu dari toko tersebut.
"Ma,sekarang kita ke tempat yang jual obat kuat dulu yuk" Bisik Herman.
"Ayuk,dimana pah tempatnya?" Tanya Dinda.
"Itu di depan ma,ayo kita kesana" Ajak Herman.
Herman pun membeli obat kuat tersebut lalu membayarnya.
"Mama mau beli apa lagi?" Tanya Herman.
"Mau beli baju anak-anak,sama baju buat neneknya kembar,mbak Siti dan mbak Tia" Ucap Dinda.
"Mbak Tia siapa ma?" Tanya Herman.
__ADS_1
"Itu temannya mbak Siti pah,katanya dia mau kerja di rumah kita" Sahut Dinda.
"Kerja apa ma,memangnya kita masih kurang orang di rumah buat bersih bersih?" Tanya Herman.
"Pah,jadi mama itu punya rencana mau berbisnis,dan mbak Tia nanti yang akan bantuin mama pah,gimana menurut papa?" Tanya Dinda.
"Bisnis apa ma?" Tanya Herman.
"Tas,sepatu,jam tangan,kacamata,dompet dan sabuk,tapi yang branded pah,barangnya import dari luar,gimana menurut papa?" Tanya Dinda.
"Setuju sih,tapi asal jangan sampai anak anak tidak di perhatikan ya ma" Ujar Herman.
"Iya dong pah,anak kan nomor satu" Sahut Dinda.
"Pah ini bagus deh buat si kembar" Dinda menunjuk baju yang lucu-lucu pada Herman.
"Iya bagus tuh ma,ambil aja" Ujar Herman.
Setelah selesai berbelanja baju buat si kembar Shella Shelly dan Rani,tak lupa juga Dinda membelikan baju buat ibunya serta Siti dan Tia.
"Pah udah semua,kita balik ke hotel yuk" Ajak Dinda.
"Yakin udah semuanya,gak ada yang ketinggalan?" Tanya Herman.
"Untuk sementara ini dulu pah,yang lainnya menyusul besok" Timpal Dinda.
Sesampainya di hotel Dinda pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ternyata muter-muter shopping itu lelah juga ya pah" Keluh Dinda.
"Ya udah,istirahat aja ma kalau lelah" Ujar Herman.
"Ma,kita istirahat dulu ya,biar obatnya bereaksi dulu,nanti subuh kita main lagi ya" Ujar Herman.
"Iya pah" Sahut Dinda.
Keduanya pun tertidur dengan pulas,saking capeknya habis keliling keliling di Mall.
"Ma,bangun ma,udah subuh" Ujar Herman.
Herman pun mengambil hak nya subuh subuh dan Dinda pun sangat antusias sekali,berharap kalau Herman ada perubahan setelah meminum obat tersebut.
"Ah,maafin papa ya ma" Ucap Herman saat melakukan pelepasan.
"Lah,katanya udah minum obat kuat,tapi kok baru sebentar udah keluar si pah?" Tanya Dinda kecewa.
"Iya ma,papa juga gak tahu kenapa,apa mungkin obatnya belum bereaksi kali ya ma?" Ucap Herman merasa bersalah.
Dinda tak menimpali ucapan Herman,ia langsung menuju ke kamar mandi dan menangis di kamar mandi.
"Ya Tuhan,apa memang ini takdirku,punya suami yang baik,yang sayang dan tidak pernah perhitungan soal materi,tapi di sisi lain dia mempunyai kelemahan dan kekurangan yang tak bisa membahagiakanku,apakah aku harus tetap bersabar menjalani pernikahan ini?" Batin Dinda sambil terisak di kamar mandi.
"Ma,kenapa nangis di situ ma?" Tanya Herman sambil merangkul tubuh Dinda.
Dinda hanya menggelengkan kepalanya dan sambil terus saja terisak.
"Papa minta maaf sekali lagi ya ma" Ucap Herman sambil memeluk Dinda.
__ADS_1
Dinda pun kemudian melepaskan pelukan Herman,lalu ia pun langsung mandi dan membersihkan tubuhnya,kemudian Herman pun menyusul untuk mandi bersama.Selesai mandi Herman pun berpamitan pada Dinda.
"Ma,papa ke kapal dulu ya" Ucap Herman.
"Iya pah" Jawab Dinda lesu.
"Hari ini banyak kerjaan ma di kapal,maklum kapal kan baru sandar,mungkin nanti sore jam empat papa balik lagi ke hotel sini ya" Ucap Herman.
"Iya pah,hati hati ya pah" Ucap Dinda sambil menyalami tangan Herman.
Herman pun segera bergegas menuju ke kapal dengan taksi.Sepeninggal Herman Dinda tidur sampai siang di hotel sendirian.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Herman menghubungi Dinda.
"Hallo pah" Ucap Dinda dengan suara parau.
"Masih tidur ya ma?" Tanya Herman.
"Iya pah,masih ngantuk" Sahut Dinda.
"Ini udah siang ma,belum makan siang ya?" Tanya Herman lagi.
"Belum pah" Jawab Dinda.
"Pergilah turun ke bawah,cari makan" Ujar Herman.
"Iya,nanti mama mandi dulu pah,baru mama cari makan siang" Sahut Dinda.
"Atau mama pesan makanan di hotel aja,kan di atas nakkas ada menu hotel yang bisa di order" Ujar Herman.
"Ah,lihat menunya aja mama kok gak selera ya pah" Timpal Dinda.
"Ya udah,cari makan di luar aja,hati hati ya ma keluar sendirian" Ucap Herman.
"Iya pah" Timpal Dinda.
Dinda pun segera bergegas menuju ke kamar mandi lalu membersihkan tubuhnya.Selesai mandi Dinda pun berdandan di depan cermin.
"Ah sudah rapi,sekarang tinggal ke bawah cari makan siang" Gumam Dinda.
Dinda menggunakan switer pink ketat dan memakai rok putih di atas lutut,di padukan dengan high hills yang berwarna hitam,tak lupa Dinda pun menenteng tas branded channel berwarna hitam yang baru di belinya semalam.
Dinda berjalan menyusuri trotoar hotel menuju ke mall untuk cari makan siang,dari kejauhan ada seorang pria berkulit hitam legam berasal dari Bangladesh tersenyum menghampiri Dinda.
"Hii beautiful,short time how much?" Ucapnya sambil tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya.
Dinda pun tak menjawab pertanyaan pria tersebut,ia mempercepat langkahnya sambil mengumpat dalam hatinya.
"Ah sialan,gw di sangka pelacur apa,pake nanya short time how much segala tuh si Keling" Gumam Dinda kesal.
Sesampainya di Mall Dinda pun mencari makanan Indonesia,karena lidahnya memang lidah Indonesia jadi agak susah kalau mau makan makanan Chinese yang tak ada rasanya alias hambar.
"Ah,kebetulan sekali ada restoran Padang disini" Batin Dinda.
Dinda pun makan siang sendirian di restoran Padang tersebut.Setelah makan siang Dinda pun keliling mencari oleh oleh cemilan cokelat buat anak-anaknya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
*******