
( POV Dinda )
Sudah setahun ini aku tidak bertemu sama suamiku.Ia pergi berlayar ke Qatar dengan kontrak awal hanya enam bulan saja,namun dari pihak company Singapore memperpanjang kontrak hingga menjadi satu tahun lamanya.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Herman menghubungi Dinda.
"Hallo pah" Dinda mengangkat ponselnya.
"Hallo ma,bagaimana kabar kalian semuanya" Tanya Herman.
"Alhamdulillah baik pah,kami sehat sehat semua disini,Papa sendiri gimana kabarnya?" Dinda balik bertanya.
"Alhamdulillah Papa juga baik dan sehat ma" Timpal Herman.
"Sekarang kapalnya udah sampai mana pah?" Tanya Dinda.
"Ini baru aja sandar sampai di Singapore ma" Sahut Herman.
"Oh udah sampai di Singapore?syukur Alhamdulillah kalau udah sampai di Singapore dengan selamat pah" Ucap Dinda.
"Iya,besok Mama terbang kesini ya" Ujar Herman.
"Hah! besok pah,kok dadakan sekali pah?" Tanya Dinda kaget.
"Iya,soalnya kapal kami cuma seminggu aja di Singapore,setelah itu kami mau berangkat lagi ke Australia" Ucap Herman menjelaskan.
"Oh,jadi begitu ya pah?" Sahut Dinda.
"Iya,makanya Mama besok cepat terbang kesini ya" Ujar Herman.
"Oke baik pah,ya udah kalau begitu,mama mau prepare dulu ya pah" Ucap Dinda.
"Iya ma" Herman menutup teleponnya.
Dinda pun mengambil koper kecil miliknya,ia pun sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan di bawanya ke Singapore.
"Mbak Siti" Dinda memanggil Siti.
"Iya Bu,ada apa Bu?" Siti datang menghampiri Dinda.
"Mbak,tolong setrika baju baju ini ya,soalnya besok saya mau ke Singapore" Ujar Dinda.
"Baik Bu" Sahut Siti sambil berlalu membawa tiga lembar pakaian milik Dinda.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Deddy menghubungi Dinda.
"Hallo" Ucap Dinda.
"Kamu lagi ngapain,dimana dan sama siapa?" Tanya Deddy.
"Pertanyaan yang paling tidak aku sukai! " Dinda mematikan ponselnya.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Deddy mencoba menghubungi Dinda kembali.
"Ya" Ucap Dinda ketus.
"Kok teleponnya di matiin sih?" Tanya Deddy kesal.
__ADS_1
"Iya,aku matiin,karena aku gak suka dengan pertanyaan kamu itu" Sahut Dinda kesal.
"Oh iya maaf,Dinda sekarang kamu lagi dimana?" Ucap Deddy lembut.
"Di rumah" Sahut Dinda ketus.
"Lagi ngapain?" Tanya Deddy lagi.
"Lagi beres beres" Timpal Dinda.
"Beres beres apa Din?" Tanya Deddy lagi.
"Iiih,kepo deh kamu" Jawab Dinda sebal.
"Masa nanya aja gak boleh" Ucap Deddy enteng.
"Lagi beres beres pakaian,besok aku mau ke Singapore" Ucap Dinda.
"Hah?ke Singapore,berapa lama disana?" Tanya Deddy penasaran.
"Mungkin 3 sampai 4 harian gitu" timpal Dinda.
"Aku yang antar kamu ke airport ya Din" Ucap Deddy.
"Engga usah,aku bawa mobil sendiri aja,biar aja mobilnya nginap di parkiran airport selama beberapa hari" Ucap Dinda menolak.
"Gak! pokoknya besok aku yang antar kamu,titik gak pake koma! " Ujar Deddy.
"Huh! terserah kamu aja deh" Ucap Dinda kesal dan langsung menutup teleponnya.
"Bu,ini bajunya udah selesai di setrika" Ucap Siti sambil menyodorkan baju yang telah di setrikanya.
"Bu,di ruang tamu ada Tia,katanya mau ketemu sama Ibu Dinda" Ucap Siti.
"Tia? Tia yang mana ya mbak?" Tanya Dinda sambil mengernyitkan dahinya.
"Teman saya Bu,itu loh Bu yang sering main kesini bawa anak kecil" Timpal Siti.
"Oh,yang sering main kesini kalau sore sore itu ya mbak?" Tanya Dinda.
"Iya bu" Sahut Siti.
"Oh iya mbak,suruh tunggu sebentar,ini lagi beresin alat alat make-up dulu mbak" Ucap Dinda.
"Baik bu" Ucap Siti.
Selesai beres beres,Dinda pun menuju ke ruang tamu untuk menemui Tia.
"Hii mbak Tia,maaf menunggu ya hehehe" Ucap Dinda menyapa Tia.
"Iya gak apa-apa Bu Dinda hehe" Timpal Tia sambil menyalami tangan Dinda.
"Oh iya,tadi kata mbak Siti,mbak Tia mau ketemu sama saya?" Tanya Dinda.
"Iya Bu,sebenarnya saya ada perlu sama Ibu Dinda" Ucap Tia.
"Ada perlu apa mbak?" Tanya Dinda lagi.
__ADS_1
"Ini Bu,saya lagi butuh pekerjaan,apa Bu Dinda masih membutuhkan tenaga kerja untuk di rumah ini Bu?" Tanya Tia.
"Wah kalau untuk di rumah ini sih tidak ada mbak,karena anak anak juga sudah pada besar semua,mbak Siti aja banyak santainya daripada kerjanya mbak" Ucap Dinda.
"Oh,kirain Bu Dinda mau nambah satu lagi gitu hehehe" Ucap Tia.
"Bukankah mbak Tia sudah bekerja di rumah Bu Marta ya,inikan anaknya Bu Marta bukan?" Tanya Dinda sambil mengelus kepala anak kecil yang duduk di pangkuan Tia.
"Iya bu,tapi saya gak tahan kerja disana, bawelnya minta ampun,cerewet banget segala di protes,segala di omongin" Keluh Tia.
"Iya kalau dia cerewet,berarti cara kerja kamu mungkin harus di perbaiki lagi mbak" Ucap Dinda menasehati.
"Perasaan saya kerja udah benar Bu,saya pun setiap hari bangun subuh dan langsung mengerjakan pekerjaan rumah,setelah beres kerjaan momong anak ini" Ucap Tia.
"Tapi saya gak enak juga mbak sama Bu Marta,kalau misalnya mbak Tia kerja disini" Dinda menolak halus.
"Saya tuh gak tahan sama bawelnya aja Bu,sama anak ini saya sayang banget,anaknya nurut banget sama saya bu" Ucap Tia.
"Mbak Siti,tolong buatkan minuman dan bawa cemilan kesini mbak" Ujar Dinda pada Siti.
"Baik Bu" Sahut Siti.
"Saya itu setiap hari minggu di suruh masak daging babi Bu,saya gak tahan lagi disana" Keluh Tia.
"Oh,begitu ya mbak?" Timpal Dinda.
"Kalau Bu Dinda gak membutuhkan tenaga saya,barangkali ada teman Bu Dinda yang lagi cari asisten rumah tangga Bu" Ucap Tia penuh harap.
"Hmmm... jadi begini mbak Tia,sebenarnya saya lagi cari satu orang,untuk packing packing barang,rencananya sih saya jualan online gitu mbak" Ucap Dinda.
"Ya udah saya aja Bu,saya maulah packing packing barang hehehe" Sahut Tia dengan wajah sumringah.
"Iya mbak,tapi inikan baru rencana,tapi jujur saya engga enak sama Bu Marta" Ucap Dinda.
"Iya gak apa-apa Bu,gak usah mikirin Bu Marta" Sahut Tia enteng.
"Engga begitu juga mbak,kita sudah lama bertetangga,kan gak enak kalau gara gara masalah ini,kita malah jadi musuhan pula,iya kan?" Ucap Dinda.
"Iya juga sih" Timpal Tia.
"Kamu usia berapa sih mbak,kok kayaknya masih muda banget?" Tanya Dinda.
"sekarang 16 tahun Bu,tapi sebentar lagi mau 17 tahun,saya tamat SMP langsung merantau ke sini Bu" Sahut Tia.
"Maaf,kampung kamu dimana mbak?" Tanya Dinda lagi.
"Di Lampung Bu,tapi di desanya" Sahut Tia.
"Begini aja,kamu pulang kampung aja dulu,bilang aja sama Bu Marta mau pulang kampung,entah alasan apa aja terserah kamu mbak" Ucap Dinda.
"Terus bu,kalau saya udh pulang kampung,ibu mau jemput saya ke kampung gitu ya Bu?" Tanya Tia.
"Engga juga,kamu istirahat aja di kampung dulu selama satu bulan,setelah itu nanti saya kirim tiket pesawat untuk kamu kesini" Ucap Dinda.
"Aduh Bu,lama sekali satu bulan bu,bisa gak makan keluarga saya di kampung Bu,kalau saya nganggur sebulan disana" Keluh Tia.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
********