
( POV Dinda )
"Benar,ternyata dunia ini sempit sekali ya bu hehe" Timpal Aska.
Setelah selesai makan Dinda dan Aska tak langsung beranjak dari tempat duduknya, keduanya pun asik berbincang santai sambil menghisap rokoknya.
"Sebenarnya disini kamu ada projek apa sih pak?" Tanya Dinda sambil menghisap rokoknya.
"Menyulap ruko menjadi cantik bu,untuk di jadikan apotik" Timpal Aska.
"Maksud kamu design interior,begitu ya pak?" Tanya Dinda.
"Ya tepatnya sih seperti itu bu,kebetulan ada tiga titik di kota ini yang harus saya kerjakan" Timpalnya.
"Oh begitu" Dinda mengangguk anggukan kepalanya.
"Ya udah kalau begitu,kita pulang sekarang ya pak,kamu kan mau kerja" Ucap Dinda
"Iya Bu" Sahut Aska.
"Dek! bill nya dek! " Teriak Dinda pada pelayan.
Pelayan pun datang membawa bill dan meletakkannya di atas meja.Dinda membuka bill tersebut,lalu ia pun meraih tasnya dan mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan menyelipkan uang tersebut di dalam bill.
"Terima kasih bu" Ucap pelayan.
Dinda dan Aska pun berlalu meninggalkan restoran tersebut.Dinda mengantarkan Aska sampai ke depan ruko.
"Makasih ya bu,lagi dan lagi aku di traktir sama kamu hehe" Ucap Aska.
"Sama-sama pak,ya udah kalau gitu aku permisi pamit pulang dulu ya pak" Ucap Dinda.
"Iya bu, hati-hati di jalan ya bu" Aska melambaikan tangannya sambil tersenyum.
__ADS_1
Dinda hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum,lalu ia pun mengendarai mobilnya meninggalkan Aska.
Sesampainya di rumah,Dinda pun langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Flashback
Sekitar enam tahun yang lalu Dinda pulang kampung bersama suaminya Herman.Namun Herman hanya dua hari saja di kampung Dinda,ia pun berangkat sendirian menuju ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya.
"Hati-hati di jalan ya pah" Ucap Dinda pada Herman,ia pun mencium punggung tangan Herman.
"Iya ma,lusa mama nyusul ke Jakarta ya" Ucap Herman.
"Iya pah" Dinda pun mengantarkan Herman sampai ke terminal.
Setelah mengantarkan Herman Dinda pulang ke rumah orang tuanya,ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Tring" Ponsel Dinda berbunyi.
"Maaf ini siapa ya?" Balas Dinda.
{ Aska }
Dinda membelalakkan matanya menatap layar ponselnya,ia tak menyangka Aska akan menghubungi dirinya,karena semenjak ia memutuskan untuk menikah dengan Herman,ia tak pernah berkomunikasi dengan Aska.
"Hah Aska,kamu tahu dari mana nomor ponselku?" Tanya Dinda.
{ Ada deh }
"Tut,tut,tut" Dinda menghubungi Aska.
"Hallo" Terdengar suara Aska di ujung sana.
"Hallo pak" Timpal Dinda.
__ADS_1
"Dengar-dengar lagi di kampung ya bu?" Tanya Aska.
"Iya pak,tahu dari mana?" Tanya Dinda.
"Ada deh" Jawab Aska.
"Ketemuan yuk bu" Ucap Aska.
"Ketemuan dimana pak?" Ucap Dinda.
"Di simpang pertigaan ya bu,aku kesana sekarang" Ucap Aska.
"Oke" Timpal Dinda.
Dinda pun bersiap-siap dan mengganti pakaiannya,ia berpamitan pada bapak dan ibu sambungnya.
"Pak,bu,aku mau keluar dulu ya,mau beli obat rematik ke apotik untuk kakek" Ucap Dinda.
"Iya,sama siapa malam-malam begini keluar nak?" Tanya ibu sambungnya Dinda.
"Sama teman bu" Ucap Dinda.
"Iya hati-hati di jalan ya nak" Ucap bapak dan ibu sambung Dinda.
Sesampainya di pertigaan jalan,Dinda celingak celinguk mencari-cari keberadaan Aska.Tiba-tiba ada motor berhenti tepat di hadapan Dinda.
"Ayo bu naik! " Ujar Aska.
**BERSAMBUNG**
\*\*\*\*
__ADS_1