
( POV Dinda )
"Tok..Tok...Tok" Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
"Kreeeeekkkk" Steven membukakan pintu.
"Assalamualaikum" Ucap ibu-ibu arisan kompak.
"Wallaikumsallam" Sahut Dinda dan Rani.
Ibu-ibu arisan yang berjumlah 20 orang lebih itu pun masuk ke dalam ruang perawatan Rani secara bergantian,sebagian ada yang masuk dan sebagian lagi ada yang menunggu di luar.
"Bu Dinda,gimana kejadiannya Bu,kok bisa Rani kecelakaan motor?" Tanya Lisda.
"Ceritanya Rani sama temannya mau berangkat ke sekolah dan mau mengambil raket ke rumah temannya,lalu di tengah jalan Rani dan temannya ini di tabrak angkot bu" Ucap Dinda menjelaskan.
"Rani bawa motor sendiri ya Tan?" Tanya Rasty keponakan Herman.
"Yang bawa motor temannya Rani,kalau Rani di bonceng di belakang" Sahut Dinda.
"Semoga lekas sembuh ya Rani,kalau bisa janganlah naik motor lagi" Ucap Fairuz.
"Iya,biasanya Rani di antar jemput sama mama setiap hari tante,tapi kemarin itu teman Rani minta tolong pinjam motor Rani dan minta di antar ke rumahnya untuk ambil raket tante" Jelas Rani.
"Iya Bu,memang biasanya setiap hari saya antar jemput sekolah,tapi nasib naas hari itu yang gak biasanya bawa motor pun,tiba-tiba Rani datang bersama temannya pulang ke rumah,dan temannya itu ngakunya udah biasa dan sering bawa motor,ya begitulah ceritanya Bu,namanya musibah kita gak tahu kapan datangnya,iyakan?" Ucap Dinda.
"Iya betul,namanya musibah kita gak tahu kapan datangnya" Sahut Ani.
"Rani cepat sembuh ya" Ucap Een.
"Oh iya say,gimana masalah asuransi Rani say?" Tanya Dinda.
"Iya say,kata manager asuransi Rani sudah di proses klaim nya, tinggal menunggu kabar dari pusat aja say" Sahut Een selaku agen asuransi.
"Ibu-ibu yang udah di dalam segeralah keluar,kami juga mau masuk dan jenguk Rani" Teriak salah seorang ibu-ibu di luar.
"Hahahaha" Ibu-ibu yang di dalam ruangan kompak tertawa saat mendengar ada yang berteriak di balik pintu.
"Sabar kenapa sih Bu hehehe" Sahut Een sambil terkekeh.
Ibu-ibu yang di dalam ruangan pun segera berlalu keluar dan bergantian untuk masuk ke dalam ruangan.
"Bu Dinda,ini kami bawa buah buahan sama kue untuk Rani" Ucap Mirna sambil menyodorkan parcel buah dan paper bag kue pada Dinda.
"MasyaAllah terima kasih banyak ibu-ibu cantik udah mau datang kemari jenguk Rani,ini ngapain ibu-ibu pada repot-repot bawa buah dan kue banyak banget" Ucap Dinda.
"Kami gak repot kok Bu Dinda,Rani lekas sembuh ya nak" Ucap Lia.
"Iya tante,makasih ya tante tante semuanya udah mau jenguk Rani kesini" Ucap Rani.
__ADS_1
"Tok... Tok...Tok" Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
"Assalamualaikum" Rombongan tetangga Dinda pun pada berdatangan untuk menjenguk Rani.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Bu Dinda" Ucap salah satu ibu-ibu arisan.
"Oh iya ibu-ibu sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak ya buat semuanya" Ucap Dinda sambil tersenyum.
"Iya sama-sama Bu Dinda,Rani cepat sembuh ya" Ucap ibu-ibu.
Ibu-ibu arisan pun berlalu keluar,kemudian tetangga Dinda yang berjumlah tujuh orang tersebut masuk ke dalam ruangan.
"Bu Dinda,maaf ya kami baru tahu kalau Rani di rawat di RSUD,kami mendengar kabar ini dari mbak Tia" Ucap salah seorang tetangga Rani.
"Iya gak apa-apa Bu,terima kasih banyak semuanya,udah repot-repot mau datang kesini" Ucap Dinda sambil tersenyum.
"Dengar dengar katanya Rani di tabrak angkot,apa benar Bu?" Tanya ibu paruh baya tersebut.
"Iya benar Bu" Jawab Dinda.
"Terus si penabraknya gimana Bu,apa dia mau tanggung jawab?" Celetuk mas Yono tetangga Dinda.
"Iya katanya sih mau bertanggung jawab mas,tapi gak tahulah kita lihat nanti aja" Sahut Dinda.
"Bu Dinda ini kami bawa buah buahan untuk Rani,dan semoga Rani lekas sembuh ya" Ucap ibu-ibu tesebut.
"Wah terima kasih banyak,bu,mas dan bapak udah repot-repot datang kemari,dan ini MasyaAllah buahnya banyak banget,gak tahu lagi mau taro di mana,kulkas sama meja rumah sakit udah penuh sama buah-buahan nih" Ucap Dinda.
"Tok...Tok...Tok" Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
"Permisi Bu,ini makan siang untuk pasien Bu" Ucap petugas rumah sakit sambil menyodorkan nampan besar yang berisi nasi,lauk pauk,buah-buahan yang sudah di potong-potong beserta segelas orange juice.
"Oke baik,terima kasih Bu" Ucap Dinda pada ibu paruh baya tersebut.
"Tante,biar Steven aja yang suapin Rani tan" Ucap Steven.
"Oh ya udah,kalau begitu tante mau shalat Dzuhur dulu ke mushola ya nak" Ucap Dinda.
"Iya ma" Sahut Rani.
"Iya tan" Sahut Steven.
Dinda bergegas keluar menuju ke arah pintu lift,lalu ia pun menekan tombol lift tersebut, lalu pintu lift pun terbuka,Dinda masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar,Dinda segera bergegas menuju ke mushola rumah sakit, untuk melaksanakan shalat Dzuhur.
"Hmm,rasanya tenang dan damai sekali kalau udah melaksanakan shalat ini,rasanya seperti tak punya hutang" Batin Dinda.
Selesai melaksanakan shalat,Dinda segera ke area parkir,ia menyalakan mesin mobilnya,lalu Dinda pun segera pergi menuju ke rumah makan Padang sederhana.
__ADS_1
"Bang,pesan nasi di bungkus dua ya bang" Ujar Dinda pada pelayan rumah makan tersebut.
"Baik Bu,lauknya apa Bu?" Tanya pelayan.
"Rendang aja dua duanya bang" Sahut Dinda.
Setelah membayar nasi Padang tersebut, Dinda langsung menuju ke arah mobilnya,ia pun berlalu menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit,Dinda langsung naik ke lantai empat dan masuk ke dalam ruang perawatan Rani.
"Assalamualaikum" Ucap Dinda.
"Wallaikumsallam" Sahut Rani dan Steven.
"Rani,udah selesai makannya nak?" Tanya Dinda.
"Udah ma,tadi di suapin sama Steven" Sahut Rani.
"Nak Steven ini tante beliin nasi Padang buat kamu nak,makanlah ini udah siang kamu belum makan,nanti kamu sakit nak" Ujar Dinda.
"Iya Tante,terima kasih banyak ya tan" Ucap Steven.
Steven pun makan siang,sementara itu Dinda memberikan segelas air mineral pada Rani dan beberapa butir tablet dan kapsul pada Rani.
"Mama belum makan ya?" Tanya Rani.
"Iya,ini mama mau makan" Sahut Dinda.
Dinda pun makan siang bersama Steven di sofa depan televisi.
"Steven berapa bersaudara nak?" Tanya Dinda membuka obrolan.
"Steven anak tunggal tante,tapi orang tua Steven udah bercerai waktu Steven umur lima tahun,jadi sekarang Steven tinggal bersama kakaknya papa Steven" Ucap Steven menjelaskan.
"Oh begitu" Dinda mengangguk anggukan kepalanya.
"Iya tante,Steven sejak umur lima tahun di titipkan sama kakaknya papa sampai sekarang Steven udah kelas delapan SMP" Ucapnya lagi.
"Terus mama sama papa Steven setelah bercerai pada kemana?" Tanya Dinda sambil menikmati makanannya.
"Setelah bercerai papa Steven pergi kerja ke Jepang tante,dan mama udah menikah lagi dan tinggal di luar kota" Steven menjelaskan.
"Oh begitu ya,kamu yang sabar ya meskipun jauh dari orang tua kamu,kan masih ada kakak papamu yang sayang sama kamu nak" Ucap Dinda menguatkan Steven.
"Iya tante,tapi kadang Steven itu suka kangen sama papa,kalau papa pulang dari Jepang,pasti Steven selalu di ajak jalan-jalan ke mall,makan dan nonton bareng" Jelas Steven.
"Kalau Mama Steven gimana?" Tanya Dinda.
"Mama udah sibuk dengan keluarga barunya tante,Steven dari umur lima tahun sampai sekarangpun belum pernah ketemu sama mama lagi Tan" Sahut Steven.
__ADS_1
"Ya Allah,kasihan sekali anak ini,kurang kasih sayang dari ibunya" Batin Dinda merasa terenyuh mendengar ucapan polos Steven.
****BERSAMBUNG****.....