
( POV Dinda )
"Satu bulan aja mbak,masa iya gak bisa makan mbak?" Tanya Dinda.
"Iya Bu,bapak saya kerjanya serabutan,kadang kerja kadang engga,banyak nganggurnya Bu" Keluh Tia.
"Ibu kamu?" Tanya Dinda lagi.
"Ibu saya kerja jadi buruh cuci pakaian bu,itu pun kadang kadang aja Bu kalau ada yang nyuruh,gak setiap hari,sementara adik saya ada dua Bu,masih pada sekolah SD" Ucap Tia.
"Kamu udah lama kerja sama Bu Marta?" Tanya Dinda lagi.
"Baru setahun Bu,itu pun setiap bulan saya gak pernah menerima gaji,setiap bulannya Bu Marta langsung transfer ke orang tua saya,buat bantu biaya adik adik saya sekolah Bu" Ucap Tia menjelaskan.
"Ya sudah,sekarang begini aja mbak,kamu pulang kampung dulu satu minggu aja,yang penting kamu keluar dulu dari rumah Bu Marta" Ucap Dinda.
"Kenapa gak langsung kesini aja Bu?"Tanya Tia.
"Ini hanya spekulasi aja mbak,kamu alasan pulang kampung aja dulu,saya merasa gak enak kalau kamu langsung pindah ke sini,ntar di sangka Bu Marta,saya yang menghasut kamu untuk pindah kerja disini,padahal kan kamu sendiri yang datang kesini minta kerjaan ke saya mbak" Ucap Dinda menjelaskan.
"Oh begitu ya Bu,oke baik Bu,kalau begitu nanti malam saya mau ngomong sama Bu Marta,untuk minta pulang secepatnya" Kata Tia.
"Iya mbak" Timpal Dinda.
"Kalau begitu saya permisi pamit pulang dulu ya Bu" Ucap Tia.
"Di minum dulu tehnya mbak,itu cemilannya di makan,saya tinggal masuk ke kamar dulu ya mbak" Ucap Dinda.
"Iya Bu,makasih Bu" Sahut Tia.
Keesokan harinya Dinda pun berangkat ke airport di antar oleh Deddy,dan sesampainya di airport.
"Selamat berbulan madu ya,sebenarnya hatiku sakit dan cemburu,tapi apa dayaku Din,aku harus sadar kalau ternyata kamu itu adalah istri orang" Ucap Deddy.
"Ngomong apa sih kamu bang?kan kita dari awal udah pada tahu status masing masing, kalau kita itu udah pada berkeluarga" Timpal Dinda.
"Iya tahu,tapi tetap aja hatiku gak bisa bohong Dinda,sakit dan cemburu itu pasti ada" Ucap Deddy.
"Iya gak usah cemburu gitulah,yang mau aku temui itukan suamiku bukan orang lain,aneh deh kamu ini" Ucap Dinda kesal.
"Iya aku tahu itu suami kamu,dan asal kamu tahu ya Dinda,aku sama kamu itu pakai hati,beda dengan kamu Dinda,kamu sama aku tidak pernah pakai hati,iyakan?" Tanya Deddy sambil menatap tajam penuh selidik ke arah Dinda.
"Ah,sudahlah aku mau turun,buru buru nih takutnya ketinggalan pesawat" Ucap Dinda mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu pertanyaan aku Dinda" Timpal Deddy.
"Aku gak ada waktu untuk berdebat sama kamu,makanya itu aku malas di antar sama kamu,pasti kamu selalu ngajak berdebat" Ucap Dinda sewot.
"Ya sudah,kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaan aku,intinya aku udah tahu,bahwa selama ini cintaku hanya bertepuk sebelah tangan" Ucap Deddy murung.
__ADS_1
"Udah dulu ya,aku buru buru nih bang,takutnya ketinggalan pesawat,by the way terima kasih ya bang udah mau antar aku ke airport" Dinda pun membuka pintu mobil.
"Dinda" Deddy menarik tangan Dinda lalu memeluknya.
"Apaan sih bang,udah dulu ya,aku mau turun nih" Ucap Dinda berusaha melepaskan pelukan Deddy.
"Sebenarnya aku gak rela Dinda,tapi aku harus sadar diri,kalau aku itu bukan siapa-siapanya kamu" Ucap Deddy sambil terisak.
"Iiih,apaan sih kamu,jadi laki laki kok cengeng gitu,udah dulu ya bang,tolong buka pintu mobilnya,jangan di kunci,cepetan! " Ujar Dinda kesal.
Deddy pun akhirnya membuka kunci pintu mobilnya dan ia pun tiba-tiba....
"Cup" Deddy mencium pipi Dinda.
"Kabari aku kalau kamu pulang dari Singapore ya Din,biar aku yang jemput kamu nanti" Ucap Deddy.
"Engga usah bang,aku pulangnya naik taksi aja" Timpal Dinda.
"Jangan naik taksi,pokoknya aku jemput titik gak pake koma! " Ucap Deddy tegas.
Dinda pun tak mempedulikan ucapan Deddy,ia segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam airport.
Sesampainya di Singapore Dinda pun sudah memasuki kantor imigrasi Singapore dan sedang mengantri untuk di cap paspor.
"Kriinggg... kriinggg... kriinggg" Herman menghubungi Dinda.
"Hallo pah" Ucap Dinda.
"Udah pah,ini lagi ngantri di kantor imigrasi" Sahut Dinda.
"Alhamdulillah,Papa udah menunggu di depan pintu kedatangan imigrasi nih ma" Ucap Herman.
"Oke pah,don't go anywhere stay there" Ujar Dinda.
"Oke ma" Herman pun menutup teleponnya.
Setelah lima belas menit mengantri di kantor imigrasi,akhirnya Dinda pun segera bergegas keluar dari kantor tersebut.
"Hmmm...si Papa mana ya?disini banyak banget orang yang mau jemput" Batin Dinda sambil celingak celinguk mencari Herman.
"Hii ma" Tampak Herman melambaikan tangannya dan langsung menghampiri Dinda.
"Hii pah,udah lama nunggu ya?" Tanya Dinda.
"Baru setengah jam sih ma" Herman langsung cipika cipiki dan langsung memeluk Dinda.
"Oh kasihan,maaf ya pah udah nunggu sampai setengah jam hehehe" Ucap Dinda.
"it's ok no problem ma hehe,sini kopernya biar papa yang bawa aja" Tangan Herman meraih koper milik Dinda.
__ADS_1
"Kita mau langsung kemana nih pah?" Tanya Dinda.
"Kita cari makan dulu ya ma,baru setelah itu kita ke hotel" Sahut Herman.
"Oke pah" Timpal Dinda.
"Mama mau makan apa?" Tanya Herman.
"Kita ke McDonald's aja,gimana pah?" Tanya Dinda.
"Boleh juga,kalau mama mau kesana,ayolah kita kesana" Sahut Herman.
Sesampainya di McDonald,Dinda pun memilih tempat duduk yang paling pojok.
"Mama mau makan apa,biar Papa yang ke kasir pesan makanannya?" Tanya Herman.
"Fish fillet burger,French fries dan minumnya Coca cola aja pah" Sahut Dinda.
"Oke tunggu sebentar ya ma" Herman pun mengantri di kasir untuk memesan makanan.
Selesai makan Herman pun mengajak Dinda check in di hotel.Herman sengaja mengajak check in di hotel yang dekat dengan pusat perbelanjaan,yaitu Bugis junction Singapore.
"Ma,kita nginap di hotel sini aja ya,jadi kalau kita mau cari makan ataupun shopping tinggal turun aja ke bawah hehehe" Ucap Herman.
"Oke pah" Ucap Dinda.
Setelah masuk ke dalam kamar,Herman pun memeluk Dinda dan mencium kening Dinda.
"Ma,papa kangen" Bisik Herman.
Tak butuh waktu lama Herman pun segera mengambil hak nya,tanpa melakukan pemanasan ataupun cumbuan.Karena pada dasarnya Herman memang orangnya tidak pandai untuk melakukan foreplay terlebih dahulu.
"Ma,maafin papa ya" Herman terlentang di sebelah Dinda.
"Kenapa pah,kenapa selalu begini?" Ucap Dinda sambil terisak.
"Maafin papa,mungkin papa kecapekan ma" Ucap Herman sambil mengelap air mata Dinda.
"Ya masa,setiap kali kita main alasannya kecapekan terus sih pah?" Dinda protes sambil terisak,air matanya terus saja mengalir.
"Dengarkan papa dulu ma,papa janji,papa akan berobat secepatnya" Ucap Herman.
"Bosan dengarnya pah,berobat kesana kemari pun tetap sama aja,kalau main cuma tahan dua menit,belum terasa apa apa,papa udah keluar duluan" Dinda protes sambil membelakangi tubuh Herman.
"Ma,please ma,tolong ngertiin kondisi papa,mungkin papa kecapekan" Herman memeluk tubuh Dinda.
"Masa kecapekan terus dari dulu,alasan itu dari pertama kali kita menikah sampai sekarang pah,aku kan pengen kayak orang lain pah, merasakan apa yang namanya orgasme" Ucap Dinda sambil terisak kecewa.
"Ma,Papa nanti mau cari obat yang bagus di Singapore sini katanya ada yang jual ma, alamatnya tokonya udah ada di kasih sama kawan Papa" Timpal Herman.
__ADS_1
BERSAMBUNG......
*******