
( POV Deddy )
"Ayo anak-anak,kita masuk ke dalam" Ajak Deddy pada ketiga anaknya.
"Bah,Lily mau pipis bah" Ucap Lily.
"Itu kak kamar mandinya di belakang paling ujung dekat dapur ya" Ucap Deddy sambil menunjukkan tangannya.
"Bang Zidane sama Erick nanti bobonya di kamar ini bareng sama Aldi ya" Ucap Deddy.
"Iya bah" Timpal Erick.
Kemudian Zidane dan Erick pun masuk ke dalam kamar tersebut,keduanya beristirahat di atas ranjang.
"Mah,mulai hari ini tugas kamu bertambah ya,aku harap kamu tidak membeda-bedakan anak-anak" Ucap Deddy pad Endang.
"Iya pah" Timpal Endang.
...........................................................................
Minggu pertama,kedua dan ketiga semuanya baik-baik saja.Memasuki bulan ke empat Endang mulai berubah.
Pranggg!
Deddy yang tengah tidur itupun terkejut mendengar suara piring pecah,lalu ia pun bangun dari tempat tidurnya.
"Ada apa sih mah,kok pagi-pagi udah ribut?" Tanya Deddy.
"Aku capek tiap hari kayak gini,udah kayak pembantu aja di rumah ini! " Timpal Endang dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Ya biasa aja dong cuci piringnya,gak usah di banting-banting gitu" Ucap Deddy.
"Suruh anak-anak kamu itu cuci piring kalau habis makan,jangan di tumpuk seenaknya aja,tiap hari kayak gini terus,aku kan capek! " Protes Endang.
Endang pun berlalu menuju ke kamar,ia pun mengambil selembar kertas dan spidol.
"Nih ya aku tempel di sini,biar semuanya pada disiplin" Ucap Endang.
Endang menempelkan kertas di atas kitchen sink bertuliskan "HABIS MAKAN CUCI PIRING MASING-MASING"
"Kenapa kamu baru sekarang membuat peraturan seperti itu,setelah anak-anakku yang dari Garut tinggal disini?" Tanya Deddy.
"Aku cepek! " Keluh Endang.
"Bah,sisir mana?" Tiba-tiba Zidane sudah berdiri di belakang Deddy.
"Cari aja sendiri! " Jawab Endang ketus.
"Kamu ini kenapa sih,di tanya baik-baik jawabnya ketus begitu?" Deddy mulai naik pitam.
Endang tak mempedulikan Deddy,ia berlalu meninggalkan dapur,lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Bah,celana sekolah Zidane yang abu-abu mana ya,kok di cari-cari di tumpukan baju gak ada?" Tanya Zidane.
"Oh gak ada ya bang,udah di cari betul-betul bang?" Tanya Deddy.
"Iya bah,gak ada,di lemari juga gak ada bah" Timpal Zidane.
"Oh,sebentar ya bang" Deddy berlalu menuju ke kamar.
__ADS_1
"Mah,nampak celana sekolah Zidane gak yang warna abu-abu?" Tanya Deddy.
"Di jemuran! " Jawab Endang Ketus sambil memainkan layar ponselnya.
Deddy pun keluar dari dalam kamarnya,lalu ia memberi tahukan pada Zidane.
"Celananya di jemuran bang" Ucap Deddy.
Zidane pun segera bergegas menuju ke samping rumah,lalu ia pun mengambil celananya yang menggantung di jemuran tersebut.
"Bah,kok celananya masih basah,gimana ini bah,abang buru-buru nih mau upacara" Keluh Zidane sambil memegang celananya.
"Hah,masih basah?" Deddy terkejut mendengar ucapan Zidane.
Deddy langsung masuk ke dalam kamarnya,ia pun segera menghampiri Endang.
"Endang,kenapa celana Zidane masih basah,kamu baru nyuci ya?udah tahu ini hari Senin,dia mau upacara,kenapa gak dari kemarin kamu cuci?" Ucap Deddy emosi.
"Tanganku cuma dua,semuanya aku kerjakan sendiri,mulai dari masak,nyuci piring,nyuci baju,beres-beres rumah,ngurus anak-anak dan lain-lain,aku capek! " Teriak Endang.
"Heh,kau ini gak ikhlas ngurus anak-anakku ya,kalau kau gak ikhlas pergi sana dari rumah ini,ngeluh dan ngeluh aja terus kau! " Bentak Deddy.
"Coba aja kamu sehari jadi aku,pasti kamu capek dan lelah" Timpal Endang.
"Kenapa kau gak bilang dari awal kalau kau gak sanggup ngurus anak-anakku,kenapa baru ngeluh dan protes sekarang setelah anak-anakku semuanya disini?" Bentak Deddy.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1