
( POV Dinda )
"Bu,saya izin keluar dulu ya Bu" Ucap Tia pada Dinda.
"Mau kemana mbak?" Tanya Dinda.
"Mamat ngajak makan di luar Bu" Jawab Tia.
"Oh ya udah,pulangnya jangan terlalu malam ya mbak" Ucap Dinda.
"Iya Bu" Sahut Tia.
Dinda mengintip dari jendela,ternyata Mamat sudah menunggunya di atas motor depan pagar rumah.
"Hmm,aku kok jadi penasaran ya sama kamarnya Tia,akhir akhir ini aku sering sekali kehilangan uang,tapi mau nuduh Tia gak punya bukti,takut ntar jatuhnya fitnah" Batin Dinda.
Dinda pun masuk ke dalam kamar Tia,ia melihat softlens miliknya.Kemudian Dinda membuka lemari pakaian Tia.
"Hah?alat kontrasepsi?" Dinda membulatkan matanya dengan sempurna.
Dinda kaget ketika mendapati Kon*dom di bawah tumpukan pakaian Tia.
"Berarti selama ini Tia udah sering tidur sama Mamat?" Pikiran Dinda kemana mana.
"Astaghfirullah Al'adzim,Tia kamu?ah mudah mudahan ini bukan milik Tia,tapi kalau bukan milik Tia,lantas kenapa ada disini?" Dinda bertanya tanya.
Dinda pun menaruh Kon*om itu kembali ke tempat asalnya,ia merapikan kembali tumpukan pakaian Tia,lalu ia pun keluar dari kamar tersebut.
Dua jam kemudian Tia sudah pulang,dengan wajah sembab seperti habis menangis.
"Mbak,tumben udah pulang?" Tanya Dinda.
"Iya udah Bu,saya ke kamar dulu ya Bu" Tia langsung ke kamarnya.
Dinda pun memainkan ponselnya,ia melihat status WhatsApp Tia seperti orang yang sedang galau.
"Tuhan,kenapa harus berakhir,padahal aku mencintainya dengan setulus hatiku Tuhan"
Seperti itulah status Tia di WhatsApp,foto profilnya di ganti dengan wajahnya yang sedang berlinang air mata.
"Tok...Tok...Tok" Dinda mengetuk pintu kamar Tia.
"Kreeeeekkkk" Tia membuka pintu kamarnya.
"Tia,boleh saya masuk?" Ucap Dinda.
"Iya,masuk aja Bu" Tia membuka pintu kamarnya lebar lebar,mempersilahkan Dinda untuk masuk kedalam kamarnya.
"Kamu Kenapa mbak,apa kamu lagi ada masalah?" Tanya Dinda.
"Iya Bu,saya di putusin sama Mamat huhuhu" Tia menangis sambil memeluk bantal guling.
"Masalahnya apa,kok kamu bisa di putusin?" Tanya Dinda.
"Saya iseng buka handphone dia Bu,aku baca chat nya,ternyata dia ada janjian sama cewek lain dan sering ketemuan sama cewek itu Bu huhuhu" Tangis Tia semakin kencang.
__ADS_1
"Mbak Tia,kamu kalau nangis buka dulu softlens nya,itu sangat bahaya,mata kamu nanti rusak mbak" Ujar Dinda.
"Iya Bu,bahaya ya Bu?" Tia membuka softlens nya,lalu ia meletakkan ke dalam tempatnya.
"Softlens itukan bekas saya mbak,saya kan suruh buang,tapi kenapa kamu malah memakainya mbak?" Tanya Dinda.
Dinda teringat ketika itu ia menyuruh Tia membuang tiga pasang softlens,biru,cokelat dan abu abu miliknya,namun Tia tidak membuangnya dan malah ia pakai setiap kali hendak jalan bersama Mamat.
"Mbak,udah sejauh mana hubungan kamu sama Mamat?" Tanya Dinda penuh selidik.
"Iya pokoknya kami sering jalan Bu,Mamat sering ngajak aku makan di luar Bu" Sahut Tia.
"Yakin,cuma makan aja mbak?" Tanya Dinda.
"Iya Bu" Jawab Tia berbohong.
"Maaf ya mbak,apa kamu pernah di ajak ke hotel sama dia?" Tanya Dinda penuh selidik.
Tia terperangah kaget,ekspresi wajahnya tak bisa berbohong,ia tampak gugup dan salah tingkah.
"Mbak,kamu kan masih gadis,masih perawan,jadi kamu harus benar-benar jaga diri ya mbak,jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari" Ucap Dinda.
Tangis Tia kembali pecah,ia memeluk Dinda dan berkata.
"Bu,saya udah pernah di tidurinya Bu huhuhu" Ucap Tia sambil menangis.
"Mbak,kan saya udah sering bilang sama kamu,tolong jaga diri kamu,jangan sampai kena rayuan laki laki,kamu kan masih gadis mbak" Ucap Dinda.
"Iya Bu,saya menyesal huhuhu" Tangis Tia semakin membuncah.
"Mamat marah,karena saya udah lancang membuka handphone dia Bu" Sahut Tia sambil terisak.
"Seharusnya kamu yang marah,karena kamu udah melihat chat dia bersama cewek lain,tapi kenapa malah dia yang marah?" Tanya Dinda.
"Iya gak tahulah Bu,pokoknya dia marah besar dan mutusin saya Bu huhuhu" Timpal Tia.
"Sekarang,kamu panggil si Mamat,suruh dia datang ke rumah sini mbak,saya mau bicara sama dia" Ujar Dinda.
"Takutnya dia gak mau Bu,dia aja tadi marah besar sama saya Bu" Ucap Tia sambil terisak.
"Ya udah,kalau begitu biar saya aja yang ke kontrakan Mamat" Dinda berdiri,lalu ia pun berlalu keluar dan menghampiri rumah kontrakan Mamat.
"Dek,ada Mamat?" Tanya Dinda pada teman Mamat yang lagi duduk santai di teras.
"Ada Bu di dalam,sebentar ya Bu,saya panggilkan dulu" Ucap anak remaja tersebut.
Tak berapa lama kemudian Mamat pun keluar dari dalam rumahnya,ia kaget ketika melihat Dinda sudah di depan rumah kontrakannya.
"Iya Bu,ada apa Bu?" Tanya Mamat gugup.
"Kamu ikut ke rumah saya sebentar" Ujar Dinda.
Dinda pun berlalu dari rumah kontrakan Mamat dan di ikuti oleh Mamat dari belakang.
"Silahkan duduk,saya mau panggilkan Tia dulu sebentar" Ujar Dinda.
__ADS_1
"Iya Bu" Sahut Mamat.
Tak berselang lama kemudian,Dinda datang bersama Tia,lalu duduk di sofa bersebrangan dengan Mamat.
"Mamat,saya mau tanya,maaf sebelumnya kalau saya lancang,sudah sejauh mana hubungan kalian berdua?" Tanya Dinda penuh selidik.
"Ya hubungan kami biasa biasa aja Bu,seperti orang pacaran pada umumnya,pergi makan dan jalan jalan,itu aja Bu" Sahut Mamat.
"Yakin cuma itu aja?" Tanya Dinda.
"Iya Bu,tapi kami tadi udah putus Bu" Timpal Mamat.
"Maaf bukan saya mau ikut campur ke dalam masalah kalian ya,tapi kalau masih bisa di bicarakan baik-baik,kenapa harus putus?" Tanya Dinda penuh selidik.
"Karena Tia nya udah lancang Bu,dia terlalu masuk ke dalam privasi saya Bu" Sahut Mamat.
"Kenapa bisa begitu,kalau hubungan kalian sehat dan tidak ada yang di sembunyikan satu sama lainnya,ya santai aja,kenapa harus putus?" Tanya Dinda.
"Saya gak suka Bu,kalau handphone saya di usik usik" Timpal Mamat.
"Bukan karena ada hal lain?" Tanya Dinda.
"Bukan Bu" Sahut Mamat terlihat gugup dan salah tingkah.
"Begini ya,to the points aja,tadi saya secara tidak sengaja menemukan alat kontrasepsi di tumpukan baju Tia,apakah itu milik kalian?" Tanya Dinda.
Tia dan Mamat terlihat kaget,dan wajah keduanya tampak sangat gugup dan salah tingkah,serta ketakutan.
"Apa Kon*on itu milik kalian,Tia,Mamat?" Tanya Dinda mengulang pertanyaannya.
"I-iya Bu" Ucap Tia gugup sambil terisak.
Mamat tampak melotot ke arah Tia,karena Tia sudah berbicara jujur pada Dinda.
"Maaf ya Mamat,Tia ini kerja sama saya disini, berarti saya harus bertanggung jawab terhadap dirinya,karena orang tuanya selalu berpesan setiap menelepon saya,pesannya adalah nitip Tia dan tolong jaga Tia" Ucap Dinda menahan emosi.
"Tapikan kami melakukannya atas dasar suka sama suka Bu,saya tidak pernah memaksanya Bu" Timpal Mamat.
"Apapun itu alasan kamu,saya tidak mau tahu,kalau kamu memang lelaki sejati dan bertanggung jawab,nikahi dia,karena saya tidak mau suatu saat nanti di salahkan oleh orang tuanya Tia! " Ucap Dinda tegas.
"Tapi saya belum siap secara ekonomi Bu,saya juga anak pertama dan tulang punggung keluarga dan adik adik saya banyak Bu,kalau saya menikah,orang tua saya pasti marah besar" Timpal Tia.
"Pokoknya saya tidak mau tahu,kalian berdua pulang besok,ke kampungnya Tia! " Ucap Dinda tegas.
"Ba-baik Bu" Sahut Mamat gugup.
"Silahkan kalian cari tiket sekarang,dan siapkan semua barang barang kalian,besok saya antar kalian ke bandara" Ujar Dinda.
Mamat dan Tia pun segera berlalu keluar dan pergi mengendarai motor milik Mamat.
Keesokan harinya Dinda bersiap siap untuk mengantar Mamat dan Tia ke bandara, sebelumnya Dinda sudah menghubungi orang tua Tia dan menceritakan semua permasalahan Tia dan Mamat.
BERSAMBUNG.....
******
__ADS_1