Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Jatuh Sakit


__ADS_3

Daniel duduk di meja kerjanya di kantor dengan setumpuk berkas pekerjaan yang harus segera dia selesaikan, karena sekretarisnya sedang cuti menikah, terpaksa Daniel menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan sedikit kerepotan.


''Huuuh ... Harus aku apakan semua berkas ini? gila ... aku benar-benar kewalahan,'' gerutu Daniel bicara pada diri sendiri.


Daniel meraih satu buah map berwarna kuning, membuka lalu membaca isinya, seketika dia pun menarik napas panjang dan sedikit mendengus kesal, karena berkas yang sedang di bacanya itu harus mendapatkan tanda tangan ayahnya.


''Duh, kenapa harus ada tanda tangan Daddy segala sih, males banget harus ke ruangan dia ...'' ketus Daniel.


Selama ini memang Lusi yang selalu bolak-balik ke ruangan Richard apabila dirinya membutuhkan tanda tangan sang ayah, namun, kali ini, karena dia sedang tidak ada, terpaksa Daniel sendiri yang harus pergi ke sana sendiri.


Meskipun malas, akhirnya, mau tidak mau Daniel pergi ruangan Richard dengan membawa berkas tersebut.


Sesampainya di sana, Daniel nampak hendak mengetuk pintu, namun, sekertaris sang ayah tiba-tiba memanggil namanya membuat Daniel menghentikan gerakannya seketika.


''Maaf, pak Daniel. Bos sedang tidak ada di ruangannya,'' ucap sekertaris cantik yang sudah bekerja selama tiga tahun tersebut.


''Hmm ... Memangnya Daddy kemana?''


''Sudah hampir satu Minggu beliau tidak masuk kerja dan menyerahkan semua urusan pekerjaannya kepada saya.''


''Gak masuk kantor? kenapa? tumben sekali.''


''Sepertinya beliau sakit, apa pak Daniel tidak tau kalau beliau sakit?'' tanya Sekertaris tersebut.


Daniel hanya terdiam, karena memang dia sama sekali tidak tau akan hal itu.


''Ya udah, padahal aku sedang membutuhkan tanda tangan dia.''


'Kamu sakit apa, Dad ...?' ( Batin Daniel )


Daniel pun pergi dari sana lalu kembali ke ruangannya. Entah mengapa hati seorang Daniel tiba-tiba saja merasa khawatir akan keadaan Richard, ayahnya itu pasti merasa kesepian di rumah besarnya itu sendirian.


'Apa sebaiknya aku nengokin dia ke rumah ...?' ( Batin Daniel di sela-sela langkahnya )


Daniel memperlambat langkahnya dan berfikir sejenak. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya terselip rasa khawatir kepada ayahnya tersebut, walau bagaimanapun meskipun Richard bukan ayah kandungnya, tetap saja Daniel merasa sedih mendengar ayahnya itu sedang dalam keadaan sakit.


Setelah lama berfikir, akhirnya Daniel memutuskan untuk pergi ke rumah sang ayah, dia hanya ingin memastikan bahwa ayahnya itu dalam keadaan baik-baik saja.


🍀🍀

__ADS_1


Di rumah Richard.


Daniel perlahan membuka pintu rumah besar milik sang ayah. Suasana hening dan sepi begitu terasa saat pertama kali dia memasuki rumah yang telah lama dia tinggalkan itu.


Salah satu pelayan yang sedang bersih-bersih pun nampak segera menghampiri dengan tersenyum senang.


''Den, Daniel ...?'' Sapa pelayan tersebut sedikit membungkukkan tubuhnya.


''Daddy dimana Bi?''


''Ada di lantai empat, Den. Sudah beberapa hari ini beliau tidak turun, kalau butuh sesuatu, Tuan Richard hanya menelpon dan meminta pelayan mengantarkan yang dia minta ke lantai empat,'' jawab Bibi dengan wajah cemas.


''O ya ...? Hmm ... Baiklah, aku akan naik ke lantai empat.''


Daniel berjalan ke arah lift lalu naik ke lantai empat.


Tut ...


Pintu lift pun terbuka, Daniel keluar dari lift dan perlahan berjalan menuju kamar Richard.


''Dad ...?'' Daniel memanggil sang ayah.


Daniel membuka pintu kamar sang ayah.


''Dad ...!'' Daniel masuk ke dalam kamar.


Tatapan matanya tertuju pada tubuh sang ayah yang kini meringkuk di atas tempat tidur, selimut tebal pun nampak menutup seluruh tubuh tuanya, hanya menyisakan kepalanya saja.


''Dad ...? apa Daddy baik-baik saja?'' lirih Daniel duduk di samping tempat tidur.


''Untuk apa kamu ke sini?'' jawab Richard dengan suara lemah.


''Aku kemari karena khawatir dengan keadaan Daddy, aku dengar Daddy sakit.''


''Heuh ... Masih peduli kamu sama Daddy? Bukankah kamu membenci Daddy, hah ... Uhuk ... uhuk ...''


''Memang benar aku membenci Daddy, dan aku ke sini bukan karena aku telah memaafkan semua kesalahan Daddy, tapi, aku hanya ingin bilang, Daddy gak boleh sakit, Daddy harus sehat dan panjang umur agar bisa menebus semua kesalahan Daddy,'' ketus Daniel, menatap punggung sang ayah.


''Apa kamu sedang menyumpahi Daddy untuk hidup menderita? hah ...?'' Richard membalikan tubuhnya dan menatap wajah putranya.

__ADS_1


''Ha ... Ha ... Ha ... Anggap saja seperti itu,'' jawab Daniel.


''Anak kurang ajar kamu.''


''Sebenarnya Daddy sakit apa? aku dengar Daddy sampai tidak masuk kantor selama satu Minggu?''


''Entahlah, mungkin ini adalah azab yang diberikan Tuhan sama Daddy,'' jawab Richard.


''Apa tidak sebaiknya Daddy ke rumah sakit saja?''


''Gak usah, sebentar lagi juga Daddy sembuh,'' jawab Richard mencoba untuk bangun, dan sontak Daniel segera membantu ayahnya itu untuk duduk bersandar bantal di belakang punggungnya.


''Ada sesuatu yang ingin Daddy katakan padamu, Daddy ingin berkata jujur padamu, Daniel.''


''Apa ...? sepertinya serius sekali.''


''Hmm ... Sejujurnya, dulu ayahnya Mika, Irawan, sahabat Daddy, meminta Daddy untuk menjodohkan putrinya dengan kamu, bukan dengan Daddy. Tapi, karena Daddy serakah dan terlanjur jatuh cinta sama Mika, terpaksa Daddy berbohong padanya bahwa Daddy tidak memiliki seorang putra. Daddy minta maaf, Daddy sadar, apa yang Daddy lakukan itu adalah sebuah kesalahan.'' Ucap Richard terdengar tulus.


Daniel terdiam dan menunduk, mendengar pengakuan sang ayah membuat dirinya kecewa sebenarnya, tapi, dia tidak kuasa untuk marah ataupun menghakimi ayahnya tersebut, toh wanita yang bernama Mikalia itu sudah menjadi istrinya kini.


Meskipun karena perbuatan sang ayah, dirinya harus menempuh perjalanan panjang dan berliku dalam mendapatkan wanita yang kini sedang dalam keadaan mengandung buah hatinya itu.


''Apa kamu tidak marah? kenapa kamu malah diam aja? seharusnya kamu memaki Daddy, sama seperti yang dulu kamu lakukan, uhuk ... uhuk ...'' tanya Richard dengan wajah yang semakin memucat.


''Aku memang kecewa, dan aku pun benci sama Daddy karena telah melakukan hal itu, tapi mau apa lagi, dengan Daddy mengakui hal ini saja sudah membuat rasa benci aku sama Daddy sedikit berkurang, dan Daddy mengakui semua kesalahan Daddy, itu berarti Daddy sudah benar-benar menyesal, meski penyesalan Daddy sama sekali tidak merubah keadaan.''


''Terima kasih karena kamu tidak marah sama Daddy.''


''Siapa bilang? Daddy harus tetap menebus semua kesalahan yang telah Daddy perbuatan, caranya dengan kembali sehat dan panjang umur, agar penyesalan itu menghantui Daddy seumur hidup.'' Jawab Daniel tersenyum hambar.


''Kalau kamu mau kembali ke rumah ini, Daddy akan menerima kalian, Daddy janji gak akan menggangu istri kamu lagi, Daddy akan menganggap dia menantu dan juga bayi yang dia kandung akan Daddy anggap cucu, semakin hari, Daddy semakin merasa kesepian tinggal di rumah besar ini.''


''Gak usah Dad, aku baru saja membeli rumah baru, meskipun tidak sebesar rumah ini, tapi rumah itu cukup untuk menampung istri dan anak-anak kelak.'' Tolak Daniel.


'' Sayang sekali, lalu ... Rumah ini harus aku apakan kalau Daddy benar-benar berpulang nanti,'' jawab Richard membuat Daniel terkejut seketika.


''Dad ...? kenapa Daddy bilang kayak gitu ...? Aku sudah bilang, Daddy harus berumur panjang agar Daddy bisa menebus semua kesalahan Daddy, dan hidup di dalam penyesalan.'' Ketus Daniel, meraih tangan sang ayah lalu mengusap punggungnya.


''Ha ... ha ... ha ... sepertinya kamu benar-benar ingin melihat Daddy menderita ...'' ucap Richard tertawa senang.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2