
Ceklek ...
Perlahan Mika mulai membuka pintu kamar, dengan begitu pelan dan agak sedikit ragu-ragu sebenarnya. Sampai akhirnya pintu pun terbuka sempurna dan Mika terkejut seketika menatap sekeliling kamar, yang terlihat begitu berantakan.
Baju-baju berhamburan, sprei beserta kasurnya pun sudah tidak berada di tempatnya, belum lagi bantal beserta isinya terlihat memenuhi ruangan.
'Apa dia habis mengamuk? tapi sekarang dia dimana? kenapa dia sudah tidak ada lagi si sini?' (Batin Mika)
Mika pun perlahan memasuki kamar, berjalan pelan melewati apapun yang berserakan di atas lantai, seraya menatap sekeliling.
Pandangannya pun kini tertuju pada sebuah bingkai poto yang terlihat sudah tidak lengkap lagi, kaca bingkai pun nampak pecah, dengan serpihan tajam yang berhamburan di sekitarnya, sepertinya bingkai itu telah di lempar dengan keras.
Mika meraih dan menarik secarik poto yang terselip di antara serpihan kaca, menariknya perlahan hingga jarinya tergores serpihan kaca tajam, kemudian, darah segar pun keluar dan menetes tepat di atas Poto tersebut, refleks, dia pun melepaskan Poto itu lalu menatap jarinya dan segera memasukannya ke dalam mulut, agar darah itu berhenti menetes.
''Argh, sakit ...'' lirih Mika, memejamkan mata.
Setelah itu, dia pun kembali meraih secarik poto yang tergeletak di atas pangkuannya yang kini telah terdapat bercak darah yang masih basah, dia pun menatap Poto tersebut, mengusap darah segar yang menutupi wajah orang yang berada di dalam Poto.
Mika tersenyum getir, ternyata Poto tersebut adalah gambar dirinya bersama Daniel, berpose berdua, berada sangat dekat dengan senyum yang mengembang dari sisi keduanya, dan Poto itu adalah Poto kenangan 7 tahun yang lalu, dimana saat itu dirinya masih remaja, dan Poto itu di ambil sesaat setelah dia menerima cinta Daniel.
Kini, pikirannya pun kembali melayang, mengingat saat-saat indah bersama Daniel.
Flash back
Pukul 01.00 dini hari, Daniel berada di luar sebuah cafe yang terlihat baru saja tutup, dia duduk bersandar tembok dengan mata yang sedikit mengantuk.
Hampir setiap malam dia melakukan hal tersebut, menunggu gadis yang dicintainya pulang bekerja, meski sudah berkali-kali mendapatkan penolakan, namun, Daniel tidak pernah menyerah, dan terus berusaha mengambil hati gadis yang bernama Mikaila.
30 menit kemudian, gadis yang dia tunggu pun akhirnya keluar, terlihat cantik seperti biasanya, dengan dress pendek berwarna biru tua lengkap dengan high hill berwarna hitam, dan tas kecil yang menggantung sembarang di bahu kirinya.
Mika menghampiri Daniel dengan sedikit mengerutkan keningnya, berjalan dengan kaki yang sedikit pincang seperti sedang kesakitan.
''Daniel, sedang apa kamu di sini? aku sudah bilang, berhenti melakukan ini, sebaiknya kamu gunakan waktu kamu untuk tidur dan belajar, bukan malah membuang waktu kamu kayak gini, kamu tau ini jam berapa?'' ucap Mika menatap nanar merasa kasihan.
''Kaki kamu kenapa?'' Daniel mengabaikan pertanyaan Mika dan balik bertanya.
''Kaki aku sakit, gak usah dipikirin, tadi aku yang nanya kenapa tidak di jawab, berhenti melakukan ini, Daniel ...!''
Bukannya menjawab, kini pria itu malah berjongkok tepat di hadapan Mika.
''Kamu mau apa?''
__ADS_1
''Kaki kamu pasti sakit, semalaman pake sepatu itu, emangnya gak ada sepatu yang tingginya lebih rendah?'' ucap Daniel.
''Terus, ini kamu mau ngapain?''
''Naik ke punggung aku, cepat.''
''Kamu bercanda ...?''
''Apa wajah aku terlihat seperti sedang bercanda? cepat naik ...!''
''Tapi-''
Belum selesai Mika berucap, tiba-tiba Daniel meraih tas kecil kepunyaannya, menggantungkannya di leher hingga menjuntai di dada, setelah itu, dia pun menarik kedua tangan Mikaila, sehingga, mau tidak mau Mika pun menuruti keinginan pria itu untuk menggendong tubuh mungilnya di punggung lebar Daniel.
Daniel pun segera berdiri dan mulai berjalan. Sejujurnya jantung Mika kini berdetak begitu kencang, dengan dada yang berdebar, kepalanya yang menempel sempurna di kepala Daniel membuatnya begitu gugup sebenarnya.
Aroma tubuh Daniel yang tercium begitu wangi, membuat Mika merasa nyaman, hingga tanpa sandar, dia pun menyandarkan kepalanya di pundak pria itu dan melingkarkan tangan di leher Daniel.
''Kamu gak bawa mobil?'' tanya Mika memecah keheningan.
''Nggak, tadi aku kemari naik taksi, gara-gara kemarin aku ketahuan keluar malam-malam, sekarang kunci mobilku di sita Daddy, sial ...!''
''Makannya, aku kan sudah bilang, berhenti menjemput aku ke sini, aku bisa pulang sendiri, ko. Sikap kamu ini membuat aku merasa tidak enak karena telah berkali-kali menolak cinta kamu.''
''His ... emangnya aku anak kecil,'' Mika tersenyum.
''Nah, di sana ada halte, kita nunggu taksi di sana, ya.''
Mika mengangguk pelan.
Daniel pun menurunkan Mika tepat di halte, karena sepatu yang dikenakan Mika begitu tinggi, sehingga membuatnya sedikit meringis kesakitan saat kakinya menyentuh lantai halte.
''Arhg ...!''
''Apa sakit sekali?''
Mika mengangguk dan meringis secara bersama. Dia pun duduk di kursi halte.
''Coba sini aku lihat?''
''Gak usah, aku gak apa-apa ko, beneran ...''
__ADS_1
''Udah, diam ...''
Daniel berjongkok tepat di depan Mika, dia meraih kaki gadis itu dan membuka sepatu yang dikenakannya, mata Daniel pun terlihat dibulatkan sempurna, merasa terkejut karena kaki gadis yang dicintainya itu lecet bahkan sudah mengeluarkan darah segar.
''Ya ampun, Mika. Kenapa diam saja? seharusnya kamu bilang kalau kaki kamu sampai seperti ini? kakimu ini harus segera diobati, kalau tidak? bisa infeksi.''
''Gak usah, nanti juga sembuh sendiri,'' jawab Mika, menarik kakinya yang saat ini di pegang oleh Daniel.
''Nggak, ini tuh harus di obati sekarang juga, kamu tunggu di sini, aku mau ke toko sebentar, tunggu ya, jangan kemana-mana.''
Daniel berdiri dan langsung berlari menuju toko yang terletak tidak jauh dari sana, dan memang buka selama 24 jam. Mika hendak menghentikan, namun, karena Daniel berlari dengan terburu-buru, terpaksa dia pun mengurungkan niatnya, dan hanya bisa menatap punggung pria yang selalu tulus mencintainya itu.
Tidak lama kemudian, Daniel pun kembali dengan membawa obat oles serta perban, tidak lupa dia pun membeli plester yang akan dia gunakan sebagai perekat.
Dia pun segera berjongkok di tempat yang sama dan segera meraih kaki Mika.
''Gak usah, aku bisa ngelakuinnya sendiri,'' pinta Mika menarik kakinya.
Namun, Daniel kembali meraih kaki lentik Mikaila dengan sedikit paksaan.
''Sudah, kamu diam saja, duduk manis ... kalau bisa sedikit tersenyum, biar ngantuk aku hilang, oke ...?''
Mika tersenyum mendengar Daniel mengatakan hal itu.
Daniel pun mulai mengoleskan obat, tepat di luka yang terlihat sudah sedikit menganga, mengusapnya pelan dan sangat hati-hati, namun, Mika tetap saja sedikit meringis kesakitan, membuat Daniel melambatkan gerakannya.
''Nah, sudah selesai,'' ucap Daniel sesaat setelah dia membalut luka itu dengan perban.
''Maksih, ya,'' ucap Mika tulus, menatap wajah laki-laki yang saat ini masih berjongkok di depan dirinya, dengan menatap lekat wajahnya, membuat Mika gugup seketika.
''Apa kamu tidak lelah terus-menerus mengejar aku?'' tanya Mika.
''Lelah ...? Nggak, aku gak merasa lelah sama sekali, sungguh ...! Tapi, apa setelah semua yang aku lakukan, kamu sama sekali tidak merasa tersentuh, atau sedikit saja mencoba membuka hati kamu untuk aku?''
Mika terdiam, matanya semakin lekat dalam memandang wajah tampan seorang Daniel.
''Mika ...? jangan liatin aku kayak gitu, nanti aku semakin terpesona sama kecantikan kamu, lho,'' ucap Daniel tersipu.
Perlahan, Mika pun mendekatkan wajahnya, semakin dekat, hingga akhirnya bibirnya pun menyentuh lembut bibir Daniel, membuat pria tampan itu terkejut dan membulatkan bola matanya seketika.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️