
Daniel segera membawa Mika masuk ke dalam kamar, tidak peduli dengan bobot sang istri yang sedang mengandung besar mencapai 60kg. ha*arat di dalam jiwanya yang sudah terlanjur naik ke permukaan membutakan pikirannya begitupun dengan tenaganya yang mendadak naik 2x lipat dari biasanya, membuat tubuh istrinya itu seketika terasa ringan.
''Pelan-pelan, sayang.'' Pinta Mikaila, saat tubuhnya kini mulai diturunkan di atas ranjang.
''Iya, sayang,'' jawab Daniel dengan napas yang tersengal-sengal.
Daniel mulai melucuti jas berwarna biru tua yang melingkar di tubuh kekarnya, melemparkannya ke sembarang arah tidak peduli jika jas itu akan kusut nantinya, begitu pun dengan celana dengan warna senada yang saat ini masih melingkar, dia membukanya dengan tergesa-gesa, membuat Mika menggelengkan kepalanya seraya tertawa sekaligus heran sebenarnya.
Apa yang telah terjadi dengan suaminya itu? bukankah tadi dia pamit berangkat ke kantor? lalu kenapa sekarang mendadak seperti ini? pasti telah terjadi sesuatu di perjalanan hingga membuat suaminya itu tiba-tiba kembali pulang dan meminta melakukan anu-anu seperti yang dia sebutkan tadi.
Akh ... Entahlah, Mika menghela napas panjang dan pasrah kini, saat dress nya di tarik ke atas begitu saja, begitupun dengan segitiga penutup yang melingkar di bagian bawah tubuhnya.
''Apa yang terjadi denganmu, Mas? kenapa mendadak kayak gini?'' tanya Mika.
''Hmm ...'' Daniel hanya bergumam.
Dia kini meringkuk dibelakang tubuh Mika, memeluk tubuh istrinya itu.
Sedetik kemudian ...
''Argh ...''
Suara de*ahan Daniel terdengar lirih.
''Pelan-pelan, sayang. Akh ...'' Lirih Mika.
''Iya, sayang. Maaf ... Aku terlalu bersemangat.''
Daniel menjawab seraya berbisik di telinga istrinya itu, hingga hembusan napas berburunya terasa menyapu permukaan leher Mika, membuat buku kuduk wanita yang tengah mengandung 6 bulan itu terasa berdiri serentak.
''Akh ... hmm ...'' Lirih Daniel, semakin mempercepat hentakannya.
Sementara Mika hanya bisa pasrah dengan tangan yang memegangi perutnya kini, ketika hentakan suaminya semakin cepat bahkan kuat sampai akhirnya perlahan melambat seiring dengan pelepasan yang dia dapatkan tidak membutuhkan waktu yang lama.
''Akh ... sayang ... sudah keluar ... Hmmm ...''
Daniel mengerang panjang dan memejamkan mata, otaknya bagai melayang ke angkasa, dengan jantung yang berdetak kencang, dan mulai benar-benar memperlambat gerakannya sampai akhirnya benar-benar berhenti bergerak.
__ADS_1
''Hmm ... makasih, sayang,'' ucap Daniel, mengecup lembut leher istrinya.
''Tangan kamu, sayang.''
''Kenapa dengan tangan aku?''
''Apa kamu gak sadar, dari tadi gunung aku ini di cengkram kuat banget? emangnya gak sakit? heuh ...?'' ketus Mika, membuat Daniel sedikit terkejut.
''Oh ... Maaf, sayang. Aku gak sadar. Maaf-maaf ... he ... he ... he ...!''
Daniel mulai mengurai cengkraman tangannya di gunung milik istrinya itu dan mengusapnya lembut.
''Ya udah, sekarang cepat turun.''
''Tunggu dulu sayang, sebentar lagi.''
Mika memutar kepala, membulatkan bola matanya, menatap wajah Daniel dengan tatapan tajam menusuk.
''Ya udah, iya-iya aku turun deh, he ... he ... he ...!''
Perlahan tapi pasti, Daniel mulai turun dan mencoba mengatur napasnya.
''Katakan apa yang terjadi? bukannya tadi kamu berangkat ke kantor?'' tanya Mika benar-benar penasaran.
''Eu ... Anu ... Tadi itu aku-'' Daniel menjawab dengan terbata-bata.
''Eu ... Anu ... Itu ... Ini ... Apa? yang jelas dong kalah ngomong ...!'' tegas Mikaila, semakin mempertajam tatapan matanya, membuat Daniel salah tingkah.
''Ya, apa salahnya aku balik lagi ke rumah terus melakukan hal ini?''
''Memang gak ada yang salah, sayang. Kamu bebas meminta aku membuka kedua kakiku ini kapan saja, tapi masalahnya adalah, sikap kamu aneh, aku cuma penasaran aja.''
''Itu ... Ya karena aku gak sengaja liat kucing yang lagi main kuda-kudaan.'' Celetuk Daniel asal bicara.
''Apa ...? kucing main kuda-kudaan? mana ada yang seperti itu? kucing ya main kucing-kucingan. Kuda ya main kuda-kudaan. Ngaco kamu ...!''
''Ha ... ha ... ha ...! Iya-iya maaf, aku cuma bingung cara ngejelasinnya gimana. Intinya Kuda-kudaan aja, oke ...''
__ADS_1
''Ya-ya ... terserah kamu aja deh. Sekarang buruan mandi, terus ke kantor.''
''Kamu udah mandi?''
Mika menggelengkan kepalanya.
''Sebagai permintaan maaf aku karena telah meminta kamu membuka kedua kakimu pagi-pagi begini, gimana kalau kita mandi bareng? aku bantu gosok punggung kamu deh,'' tawar Daniel dengan wajah yang cengengesan.
''Hmm ... Boleh, sekalian pijit punggung aku juga.''
''Boleh, sayang.''
''Tapi 'kan kamu harus ngantor.''
''Gak apa-apa, sekali-kali telat masuk kantor gak apa-apa ko, gak ada yang berani marahin aku ini.''
Daniel mulai bangkit lalu berdiri dengan bagian bawah tubuh yang masih polos sempurna. Dia pun berdiri di tepi ranjang dan hendak menggendong tubuh istrinya itu, namun, entah kenapa tubuh sang istri terasa begitu berat berbeda dengan apa yang dia rasakan tadi.
''Tunggu, sayang. Tubuh kamu ko berat banget? padahal tadi gak seberat ini lho?'' ucap Daniel.
''Apaan ...? Ngaco akh ...''
Daniel melingkarkan tangannya di punggung Mika dan hendak mengangkatnya kuat, mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya, namun, usahanya masih tetap saja gagal, tubuh sang istri masih tidak bergeming kini.
''Apa karena terlalu banyak bergoyang? hingga membuat tenaga aku terkuras habis,'' ucap Daniel kembali berdiri tegak.
''Akh ... Alasan. Tadi kamu berlari segala bawa aku ke sini.''
''Itu dia makannya, aneh 'kan?'' Daniel mengerutkan keningnya.
''Sudah-sudah, gak jadi mandi barengnya, aku ngantuk mau tidur sebentar.'' Ketus Mika.
''Hmm ... Baiklah, kamu istirahat aja kalau gitu, aku mandi dulu ya.''
Mika menganggukkan kepalanya, seraya memejamkan mata.
Daniel yang hendak masuk ke dalam kamar mandi, mengecup kening Istrinya itu terlebih dahulu, bukan hanya itu saja, dia bahkan mengecup kedua pipi istrinya, hidung, bibir, dagu dan yang terakhir, dia mengecup perut besar sang istri yang masih terekspos sempurna, seraya berbicara dengan bayi yang berada di dalam sana.
__ADS_1
''Sayang ... Maaf ya, Papi tiba-tiba tengokkin kamu pagi-pagi kayak gini, kamu pasti senang 'kan? nanti malam Papi balik lagi ya, kamu tunggu saja di dalam sana, oke ...?'' lirih Daniel mengusap lembut perut buncit Mika.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀