Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Merasakan Perasaan Yang Sama


__ADS_3

Selesai bekerja sebagai penyanyi di sebuah cafe, Mika pun sudah bersiap untuk pulang, dia terlihat sedang bercermin di ruang ganti khusus wanita menghapus make up tebal yang tadi menghias wajahnya, kini wajahnya terlihat polos tanpa make up sedikitpun, membuat kecantikan Mika terlihat begitu alami.


Dia pun berjalan keluar dari dalam kamar ganti tersebut, berjalan menuju pintu utama dengan tas berukuran sedang menggantung sembarang di lengan kirinya.


''Mika ...?'' Terdengar suara Nando memanggil namanya, membuat Mika menghentikan langkahnya.


''Ada apa, Pak?'' tanya Mika.


''Ke ruangan saya sebentar,'' pinta Nando.


''Baik, Pak.''


Mika pun mengganti arah tujuannya, yang semula hendak melangkah ke depan, kini dia memutar badan ke samping, berjalan menuju ruangan pribadi bosnya.


Ceklek


Mika membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan. Dia berdiri tepat di samping Nando yang memang sudah menanti kedatangannya.


''Ada apa, Pak? Bapak memanggilnya saya?''


''Hmm ...! Saya cuma mau tanya, yang tadi di luar itu siapa? bukan pacar kamu 'kan?''


Mika hanya tersenyum, tidak menjawab apapun.


''Ko malah senyum-senyum gitu? bukannya jawab pertanyaan saya,'' Nando sedikit kesal.


''Maaf, Pak. Saya tidak punya kepentingan apapun untuk menjawab pertanyaan bapak, saya permisi ...'' jawab Mika, lalu hendak pergi.


''Tunggu, Mika ...'' Nando meraih pergelangan tangan Mikaila, membuat wanita itu tersentak.


''Lepaskan, Pak. Bapak mau apa?''


''Kamu jangan sok jual mahal, ya. Kamu tahu 'kan, dari dulu saya suka sama kamu?''


Mika terdiam.


''Aku tahu, kamu hanya janda, di campakkan begitu saja oleh suami kamu, jadi sekarang, kamu jangan sok bersikap seperti wanita suci,'' ucap Nando mendorong tubuh Mika hingga bersandar di tembok, membuat Mika terkejut.


''Maksud bapak apa? jangan bawa-bawa masalah pribadi saya segala, saya menolak bapak, karena saya memang tidak suka sama bapak.''


''Sudahlah, aku sudah bosan di tolak terus oleh kamu, setidaknya, izinkan aku mencicipi tubuhmu sekali saja,'' ucap Nando.


Nando pun mendekatkan kepalanya hendak mencium bibir seorang Mika, namun, Mika segera memalingkan wajahnya dengan sedikit kasar membuat pria itu merasa kesal.


Kini, Mika bahkan mendorong laki-laki itu dengan sekuat tenaga dan hendak lari menuju pintu keluar, namun, Nando segera kembali meraih pinggang Mika dan me*umat lehernya dengan napas yang terdengar memburu, membuat Mika pun sedikit berteriak.


''Lepaskan saya, Pak. sebelum saya berteriak kencang.''


''Teriak saja, gak akan ada orang yang menolong kamu, semua karyawan saya sudah pulang.'' Ucap Nando semakin mendorong tubuh Mika, hingga wajah Mika menempel di tembok.

__ADS_1


Nando semakin buas, dia menarik bagian atas pakaian yang dikenakan oleh Mika, hingga punggungnya terekspos sempurna, dan memperlihatkan b*a berwana hitam yang melingkar di punggungnya, membuat Nando semakin tidak sabar untuk me*umatnya tiada henti, membuat Mika berteriak kencang dengan tubuh mencoba digerakkan sedemikan rupa, memberontak.


Setelah puas, Nando pun membanting tubuh Mika ke atas kursi, dan hendak menerkam dirinya, namun, Mika meraih sepatu yang dia pakai dan melemparnya hingga tepat mengenai pelipis wajah laki-laki tersebut.


Plak ...


Suara ujung sepatu mika yang runcing, menghantam pelipis wajah laki-laki itu, membuat Nando semakin kesal.


''Argh ...! Kurang ajar kamu, dasar wanita murahan.''


Plak ...


Nando menampar pipi Mika, hingga dasar segar pun keluar dari sudut bibir Mika, air mata pun kini mulai mengalir begitu deras, dan membasahi wajah cantiknya.


''Dasar pria kurang ajar, kamu tahu pria yang di luar itu siapa? dia adalah pacarku, dia pasti akan membunuhmu jika tahu kamu berbuat seperti ini,'' teriak Mika diiringi suara tangisan.


Tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh gadis itu, kini Nando semakin buas dan berada di atas tubuh Mika, berusaha menanggalkan pakaian yang dikenakan oleh Mika secara membabi buta.


Namun, tiba-tiba ...


Bruk ...


Pintu pun di tendang dengan sangat kasar, Daniel berdiri di depan pintu dengan wajah geram, matanya terlihat mulai berair, dengan rahang yang dikeraskan, dan kedua tangan yang mengepal.


Tanpa basa basi-basi lagi, Daniel berjalan masuk ke dalam ruangan dan segera meraih tubuh laki-laki itu lalu menghantam wajahnya dengan kepalan tangan, tidak hanya itu saja, dia kini berada di atasnya dan memukulinya secara berkali-kali, hingga wajah Nando mengeluarkan banyak darah segar.


''Kurang ajar, berani kamu menyentuh wanita yang aku cintai, hah ...? aku akan membunuhmu sekarang juga.''


Plak ...


Nando tidak bergeming, kini dia tersungkur di atas lantai dengan wajah penuh dengan darah segar.


''Cukup, Daniel ...! dia bisa mati,'' teriak Mika, dengan buliran air mata kian deras membasahi pipinya.


''Biarkan saja, emang aku akan membunuh dia,'' teriak Daniel dengan wajah yang terlihat geram.


''AKU GAK MAU KALAU KAMU SAMPAI MASUK PENJARA, KITA BARU SAJA BERTEMU, APA KAMU INGIN KITA BERPISAH LAGI? HAH ... hiks hiks hiks?'' Mika berteriak masih diiringi suara tangisan.


Daniel menghentikan gerakannya, dia berdiri dan menatap wajah Mikaila, segera memeluknya, mendekapnya dengan begitu erat dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


''Maafkan aku, karena aku datang terlambat, seharusnya sedari tadi aku masuk kemari,'' lirih Daniel, membenamkan wajah Mika di dada bidangnya.


Mika hanya mengangguk diiringi dengan suara isak yang terdengar semakin pilu.


''Kita pergi dari sini.''


Mika menganggukkan kepalanya.


Daniel pun melepaskan pelukannya, menggenggam jemari wanita yang sangat dicintainya itu, berjalan keluar.

__ADS_1


''Tunggu, aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum, atas tindakan penganiayaan,'' terdengar suara Nando, hendak bangkit.


Daniel pun menoleh.


''Silahkan, aku juga akan melaporkanmu atas tindakan pelecehan seksual, kita lihat saja, siapa yang akan masuk penjara, aku atau kamu, bajingan ...'' teriak Daniel, membuat Nando pun terdiam.


Daniel semakin mempererat genggaman tangannya dan keluar dari dalam cafe tersebut.


Melihat pakaian yang kenakan oleh Mika sudah tidak beraturan lagi, dia pun membuka jaket kulit yang dikenakannya lalu melingkarkan di bahu Mika, tanpa mengatakan apapun.


Hatinya terasa begitu pilu, melihat keadaan wanita yang dicintainya terlihat begitu mengenaskan, hingga dia tidak mampu mengatakan satu patah katapun.


''Makasih, kalau saja tidak ada kamu, mungkin aku sudah-!'' lirih Mika, masih dengan suara isak yang sedikit terdengar.


Bukannya menjawab, Daniel kini malah berjongkok tepat di hadapan Mika.


''Kamu mau apa?'' tanya Mika, tersenyum dan menangis secara bersamaan.


''Naik ke punggung aku sekarang juga.''


''Tapi aku bukan gadis remaja lagi, tubuhku pasti berat.''


''Apa kamu bisa berjalan dengan hanya memakai satu sepatu?'' Daniel menunduk, menatap kaki lentik Mika.


Mika pun melakukan hal yang sama, dia lupa bahwa tadi dirinya sempat melempar satu sepatu miliknya. Mika pun tersenyum, tersipu malu seraya mengusap wajahnya yang basah dengan air mata.


Sedikit kesal, Daniel kembali berdiri dan meraih tas milik Mikaila dan menggantungnya di leher, persis seperti apa yang dia lakukan 10 tahun lalu saat mereka masih remaja, dia pun segera meraih kedua tangan Mika, dengan sedikit paksaan hingga akhirnya, Mika pun naik di punggung lebar seorang Daniel, dengan perasaan senang sebenarnya.


Kini, Mika sudah ada dipunggung Daniel, melingkarkan tangannya di leher, aroma wangi tubuh Daniel kini tercium begitu menyengat, membuat hati dan perasaannya merasa tenang.


''Apa kamu ingat, kita pernah melakukan ini dulu?'' lirih Daniel mulai melangkahkan kakinya.


Mika mengangguk, semakin mempererat lingkaran tangannya, dan menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.


''Aku sungguh merindukanmu, Mika.''


''Aku pikir, aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu.'' Jawab Mika menatap wajah Daniel.


Daniel terus berjalan menyusuri trotoar, di tengah malam yang sepi tanpa ada siapapun, bahkan jalan raya pun terlihat kosong tanpa ada satu kendaraan pun, berjalan pelan seolah tidak ingin cepat sampai ke tempat tujuan.


''Kamu tau tempat tinggal aku dimana?''


Daniel menggelangkan kepalanya.


''Terus kamu mau bawa aku kemana? tempat tinggal aku dekat, ko. Di ujung gang sana,'' Mika menunjuk, gang yang berada tepat di sebelah kiri jalan raya.


''Kenapa dekat sekali, aku berharap tempat tinggal-mu agak jauh, agar kita bisa seperti ini dalam waktu yang sedikit lama, jujur, aku bahagia sekali dan berharap waktu berhenti sekarang juga, agar aku tidak bisa berpisah denganmu lagi.''


Mika terdiam, dia semakin mempererat lingkaran tangannya, merasakan perasaan yang sama.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2