
Ceklek ...
Lusi mulai memasuki rumah besar milik Richard, rumah yang telah dia tinggalkan dua tahun yang lalu. Ya ... Di saat Mika di usir dari rumah itu, saat itu juga gadis bertubuh langsing bernama Lusiana itu pun meninggalkan rumah itu.
Keadaan rumah masih sama, sepi hening seperti tanpa berpenghuni, meskipun begitu, keadaan rumah empat lantai itu tetap bersih dan tanpa ada satu debu pun.
Dia pun menatap sekeliling, mencari sosok Richard. Sampai akhirnya telpon rumah yang di tempel di tembok pun berdering, Lusi yang memang sedang berdiri tidak jauh dari tempat dimana telpon itu berada segera mengangkat telpon tersebut.
📞 ''Naik ke lantai empat,'' ucap Richard dari dalam telpon tanpa basa basi dan langsung menutup telpon begitu saja.
Lusi segera menutup telpon, berdiri mematung tanpa sepatah katapun dia terdiam sejenak lalu kembali meraih telpon dan memijit angka 4.
Tut ...
📞 ''Kalau Om mau bicara sama aku, aku tunggu di bawah, kalau tidak aku akan pergi sekarang juga,'' ucap Lusi yang juga tanpa basa-basi langsung menutup telpon.
'Dasar tua bangka, dia pikir aku bodoh, naik ke lantai 4? jangan harap, menginjakan kaki di sana sedikitpun aku gak mau ... ha ... ha ...'
Lusi pun kembali berjalan menuju kursi mewah bak kerajaan yang ada di ruang tamu, dengan suara sepatu yang sedikit dihentakan sehingga suara nyaring pun terdengar menggema di seisi ruangan luas dan megah itu.
Truk ...
Truk ...
Truk ...
Suara sepatu yang dikenakan Lusi.
Setelah itu dia pun duduk bersilang kaki. Lusi terlihat merogoh tas kecil miliknya, mengeluarkan satu bungkus rokok lalu meraih satu batang dan menyalakannya, dengan percaya dirinya dia menghembuskan asap rokok tersebut ke udara dengan memejamkan mata.
Tut ...
Suara lift pun terdengar dan Richard keluar dari dalam lift, berjalan menghampiri Lusi dengan tersenyum menyeringai, baru kali ini dia melihat keponakannya itu merokok, membuat gadis cantik itu terlihat begitu seksi dimatanya.
''Lusiana, keponakan aku yang cantik dan pintar, sejak kapan kamu merokok? kamu tau, kamu terlihat menggemaskan sekali ...'' ucap Richard sedikit berteriak berjalan dengan merentangkan kedua tangannya.
''Gak usah basa-basi Om Richard, katakan saja apa yang ingin Om bicarakan, aku gak punya banyak waktu, aku harus segera pergi keluar kota,'' jawab Lusi tidak merasa malu sama sekali.
__ADS_1
''Keluar kota? ada urusan apa kamu di sana? apa ada masalah dengan cabang perusahaan di sana?'' Richard duduk tepat di samping Lusi, menatap tubuh langsing itu dari ujung kaki hingga ujung rambut merasa tergiur.
Lusi yang menyadari tatapan mesum yang jelas terlihat dari kedua mata bulat Om-nya tersebut segera berdiri dan menjaga jarak.
''Bukan urusan Om, cepat katakan ada perlu apa Om manggil aku kemari, kalau tidak aku akan pergi sekarang juga.''
''Jangan begitu dong, Lus. Santai dulu sejenak, bukankah sudah lama sekali kamu baru kembali ke rumah ini? sini duduk di sebelah Om, Om kangen banget sama keponakan Om yang cantik ini.''
''Om Richard ...!" teriak Lusi kesal.
"Iya ... Iya ... Baiklah, Om akan langsung ke intinya. Begini Lusi, Om tau kamu sudah lama menyukai Daniel, 'kan?''
''Terus ...?''
''Gimana kalau kita bekerja sama, kamu berpihak kepada Om mulai sekarang, Om akan bantu kamu buat dapetin dia, dan tentu saja Om juga akan dapatkan Mika kembali, gimana?'' ucap Richard memasang wajah serius.
''Apa ...? Ha ... ha ... ha ...! jadi dugaan aku benar, Om masih cinta sama wanita itu? kalau Om memang mencintai dia, kenapa dulu Om harus menceraikan Mika?" Lusi ketawa mengejek.
"Ish ... kamu ini. Tinggal jawab aja, mau apa tidak, kita akan sama-sama untung kalau kita bekerja sama seperti itu.''
Lusi berjalan mendekat, dia berdiri tepat di depan pria tua itu lalu mengangkat satu kakinya ke atas kursi tepat di samping tubuh Richard yang saat ini mulai bergetar karena kaki jenjang itu terekspos sempurna tepat di sampingnya membuat Richard benar-benar menelan ludah kasar, di tambah kini Lusi mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Richard.
Setelah itu Lusi pun berdiri tegak, dan langsung berbalik meninggalkan Richard yang saat ini sedang memandang lekat tubuh seksi keponakannya itu, dan entah mengapa sesuatu di bawah sana mengeras kini, membuat segitiga yang dia kenakan terasa sempit dan sesak.
''Kurang ajar, kenapa tubuh dia seksi sekali? Aku juga baru tau ternyata dia wanita yang menyeramkan, selama ini aku pikir dia wanita lugu yang bisa aku perdaya, ternyata aku salah. Lusi wanita cerdas tidak akan mudah memperalat dia,'' ucap Richard berbicara sendiri, dengan mata yang terus menatap tubuh keponakannya yang berjalan keluar dari dalam rumah besarnya.
🍀🍀
Di Rumah Sakit.
Malam hari, Mika duduk bersandar bantal di belakang punggungnya dengan sang suami yang selalu setia menemani sampai saat ini, dia bahkan masih memakai pakaian yang sama seperti yang dia kenakan tadi siang.
''Apa tidak sebaiknya kamu pulang dulu, sayang. Mandi dan ganti baju dulu,'' pinta Mika menatap wajah sang suami.
''Nggak usah, sayang. kata Dokter besok kamu juga udah bisa pulang, lagian kalau aku pulang dulu, kamu siapa yang nemenin?'' jawab Daniel mengusap lembut punggung tangan istrinya.
''Baiklah kalau begitu, apa kamu sudah makan?''
__ADS_1
''Eu ... sudah ko, tadi sewaktu kamu tidur, aku keluar dulu sebentar untuk makan malam,'' jawab Daniel berbohong.
''Beneran gak bohong?''
''Iya, sayang.''
''Hmm ... Kalau begitu tidur di sini, aku ingin tidur di sebelah kamu,'' pinta Mika berbaring lalu sedikit menggeser tubuhnya.
Tanpa basa basi lagi, Daniel langsung naik lalu berbaring tepat di samping sang istri, mereka pun meringkuk saling berhadapan, saling melayangkan tatapan dan saling melempar senyuman.
''Akh minta maaf tentang kejadian yang tadi siang?'' lirih Mika penuh penyesalan.
''Iya, gak apa-apa, sayang. Aku mengerti perasaan kamu, kata Dokter, ibu yang sedang hamil perasaannya memang lebih sensitif dari biasanya, gak usah di pikirkan,'' jawab Daniel, melingkarkan tangannya di perut sang istri.
''Aku senang sekali karena akhirnya kita akan memiliki seorang bayi, membayangkannya saja membuat hatiku bahagia, bagai mimpi karena di perut aku ini ada janin, buah hati kita,'' ucap Mika mengusap perutnya.
''Iya, sayang. Aku juga sama, memikirkan hal itu aku pun merasakan hal yang sama, di sini, di dalam perut kamu ini, ada buah hati kita, aku gak sabar menunggu dia lahir.''
Daniel pun sedikit menggeser tubuhnya hingga kepalanya tepat berada di atas perut sang istri.
''Sayang, ini Papa. Apa kamu bisa mendengar suara Papa? kamu baik-baik di dalam sana, Papa sangat menantikan kehadiran kamu. Muach ...'' Daniel berbicara tepat di atas perut istrinya, dengan tangan yang mengusap lembut lalu mencium perut istrinya tersebut.
''Ish ... kamu ini, kandungan aku masih muda sekali, mana mungkin dia bisa mendengar ucapan kamu,'' Mika sedikit terkekeh.
''Ya, siapa tahu 'kan?'' Daniel membenarkan posisi tubuhnya, kembali berbaring tepat di samping istrinya.
''Sayang, aku janji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan bayi kita, aku gak akan menduakan cinta kamu apalagi berkhianat, karena ku sangat mencintaimu, sungguh ...'' ucap Daniel tiba-tiba.
''Ko kamu tiba-tiba bicara kayak gitu? kenapa? apa ada wanita yang menggoda kamu?''
''Nggak ... gak ada ... aku hanya lagi ingin mengatakan hal itu.''
''Serius ...?''
Daniel mengangguk pasti.
Mika pun mengecup pelan bibir sang suami, sedikit melu*atnya lalu membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami dan mulai memejamkan mata. Begitupun dengan Daniel, dia memeluk erat tubuh sang istri, mendekapnya mesra dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1
''O iya, sayang. Ko tadi siang aku seperti mendengar suara Lusi di luar?''
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀