Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Terkesima


__ADS_3

Plak ...


Richard menampar putranya, begitu keras hingga membuat Mika terkejut dan segera memeluk tubuh suaminya.


''Argh ...'' Daniel meringis kesakitan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan sebuah tamparan.


''Lancang sekali kamu? Apa yang terjadi dengan kamu, Daniel? kamu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya? Apa kamu tahu? pertanyaan kamu itu sangat tidak sopan,'' Richard membulatkan bola matanya merasa geram.


''Cukup, mas. Hentikan, aku baik-baik saja, sungguh ...!''


Mika memeluk erat tubuh sang suami, mencoba untuk menenangkan.


''Kenapa kamu diam saja, Daniel? kenapa kamu bersikap seperti ini, hah ...?''


''Apa Daddy ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan aku? apa perlu aku menceritakan semuanya?'' Daniel sedikit menaikan suara'nya.


''Cukup, Daniel. Jangan bicara lagi, aku mohon ...'' Mikaila masih memeluk tubuh sang suami.


''Apa maksud kamu?'' tanya sang ayah, merasa tidak mengerti.


Mika menggelengkan kepalanya, menatap lekat wajah anak tirinya, dengan tatapan sendu dan mata yang terlihat berkaca-kaca, sorot matanya seolah mengisyaratkan bahwa, dia ingin anak tirinya itu berhenti berbicara.


Daniel pun tersenyum kecut, melihat wanita yang dicintainya kini memeluk sang ayah, sungguh membuat hatinya terasa terbakar, dia pun mengangkat kepala, manatap langit-langit rumahnya, menahan rasa cemburu yang kini seolah membakar sekujur jiwanya.


''Mas, cukup, mas. Aku mohon, ini hari pertama aku tinggal di sini. Tolong kendalikan emosimu,'' lirih Mika dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Melihat sang istri menangis, Richard pun segera mengontrol emosinya, dia menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan, meredam rasa kesal yang sebenarnya memenuhi seluruh hatinya.


''Maaf, Sayang. Mas lepas kendali. Dan kamu Daniel, kalau sampai kamu bersikap tidak sopan seperti ini lagi, Daddy akan benar-benar menarik semua pasilitas yang selama ini kamu dapatkan, mengerti kamu ...?'' Sang ayah penuh dengan penekanan.

__ADS_1


Daniel hanya terdiam, menahan rasa perih di pipi sekaligus di hatinya, seluruh hidupnya sudah terasa hancur berkeping-keping, dan sekarang, dia harus melihat dengan kedua matanya sendiri, Mikaila, mantan kekasihnya, memeluk sang ayah dan bahkan di panggil dengan sebutan sayang, sungguh, hati yang sudah patah pun bagai kembali di hancurkan oleh bongkahan batu besar.


Dia pun berbalik dan berjalan menuju lift, lalu masuk kedalamnya setelah lift itu terbuka. Mika, dia menatap wajah anak tirinya dengan tatapan nanar, memandang wajah Daniel yang terlihat memendam kekecewaan, keduanya pun saling melayangkan tatapan, hingga lift itu pun perlahan tertutup rapat dan mulai naik lantai atas.


''Mas sungguh tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi dengan anak itu? baru kali ini dia berani membantah, bahkan berteriak kepada mas,'' ujar Richard, mengusap wajahnya secara kasar.


''Sudah, mas. Jangan di bahas lagi, aku ingin istirahat, tubuhku letih sekali,'' lirih Mika, dengan suara yang terdengar berat.


''O iya, maaf. Mari Mas antar ke kamar, kamar kita ada di lantai 4.''


Keduanya pun berjalan menuju lift, lalu masuk kedalamnya, tidak membutuhkan waktu lama, lift pun sampai di lantai empat, tidak lama kemudian, lift itu pun terbuka.


Yang pertama kali terlihat oleh mata Mika saat dia keluar dari dalam lift adalah, ruangan luas dengan lantai marmer putih berkilau, dengan hanya satu stel kursi mahal serta Televisi berukuran super besar. Keduanya pun keluar dari dalam lift secara beriringan.


''Lantai 4 ini memang diperuntukan khusus untuk mas sendiri, dan tentunya, khusus untuk kamu juga sekarang,'' ucap Richard.


Apakah ini istana? dia baru tahu kalau ada rumah semegah dan semewah ini? dan sekarang, dia menjadi pemilik rumah itu, sungguh ... semua ini bagaikan mimpi bagi seorang Mikaila.


''Nah, kamar kita di sana,'' Richard menunjuk pintu kayu di pojok ruangan, dia pun berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


''Silahkan masuk istriku, ini kamar kita.''


Mika pun mulai berjalan memasuki kamar, dan lagi-lagi, dia pun di buat terpana dengan ukuran kamar, yang luasnya 3 kali lipat ukuran rumah lamanya.


Tidak terlalu banyak perabotan yang terdapat di kamar tersebut, hanya ada ranjang berukuran super besar, beralaskan sprei berwana merah menyala.


Tidak lupa pula, sebuah meja rias pun berada tidak jauh dari ranjang tersebut, meja yang sudah terisi berbagai macam perlengkapan kecantikan, yang biasa dia gunakan, dan di samping jendela, terdapat satu stel kursi berwarna hitam, lengkap dengan Televisi berukuran besar bertengger di depannya.


Kemudian, Mika pun terlihat mencari sesuatu, matanya menatap ke sekeliling kamar, mencari lemari pakaian.

__ADS_1


''Mas, dimana aku harus menyimpan pakaian aku?'' tanya Mika, tanpa menatap wajah suaminya.


''Oh, lemari pakaian ya? sini, mas tunjukan.''


Richard pun meraih pergelangan tangan istrinya, lalu menuntunnya ke ruangan yang berada tepat di samping kamar, ruangan tanpa pintu yang berada tepat di samping kamar mandi.


''Ini apa?'' tanya Mika, merasa tidak mengerti.


''Ini lemari pakaian kamu? lihat semuanya telah terisi pakaian-pakaian milik kamu, dan semua pakaian ini masih baru, mas membeli semua'nya, spesial untuk kamu, istri'ku.'' jawab Richard. Dia pun masuk kedalamnya, masih dengan menuntun lengan sang istri.


''Mas, ini terlalu berlebihan.''


Mika menatap seisi ruangan itu, dimana di dalamnya sudah berjajar baju baru yang tergantung dengan begitu rapi, layaknya toko pakaian, bukan hanya itu saja, di sana juga terdapat sandal dan juga sepatu mewah, yang ukurannya pun pas di kakinya, membuat hati Mika pun diliputi tanda tanya.


Darimana suaminya ini tahu ukuran kakinya? juga ukuran pakaiannya? Apa mungkin Richard diam-diam mencari tahu semua ini? Apa mungkin dia tahu dari Almarhum sang Ayah? Akh... rasanya tidak mungkin, ayahnya sendiri tidak tahu dengan jelas ukuran pakaian ataupun ukuran sepatu yang biasa dia kenakan.


''Gimana? apa kamu suka?''


Mika mengangguk dengan sedikit di paksakan sebenarnya.


"Mika, mas punya segalanya, harta yang melimpah, rumah mewah bak istana, dan mas juga hobi mengoleksi mobil-mobil mewah, apa yang mas punya itu sudah lebih dari cukup, tapi ...! ada satu hal yang belum mas punya, yaitu ... Hati kamu, Mika. Dan Mas akan berjuang untuk mendapatkan itu sekarang."


"Bagi Mas, hatimu, cintamu, lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini, dan meskipun Mas memiliki segalanya, tapi jika Mas tidak bisa memiliki hatimu, maka, hidup mas tidak ada artinya."


Mika tertegun mendengar ucapan suaminya.



🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹

__ADS_1


__ADS_2