Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Pergi Jauh


__ADS_3

Ridwan memarkirkan mobilnya di tepi jalan, dengan berbekal alamat yang diberikan oleh Richard dia tidak terlalu kesulitan untuk menemukan alamat dimana tempat tinggal Dona berada.


Ridwan pun keluar dari dalam mobil, berjalan menghampiri seorang ibu yang sedang duduk santai di terasa rumah nya.


''Permisi, Bu. Saya mau bertanya, kalau tempat tinggal wanita yang bernama Dona di sebelah mana, ya?'' tanya Ridwan.


''Oh, Dona. Wanita yang lagi hamil itu, ya?''


Ridwan hanya mengangguk datar.


''Di sebelah sana, tapi kalau gak salah dia sudah pergi tadi malam,'' jawab ibu tersebut, dan ternyata itu adalah ibu pemilik rumah yang semalam mengusir Dona.


''Oh, terima kasih, Bu.''


''Sama-sama. Tapi kalau saya boleh tau, anda siapanya dia ya? apakah salah satu pelanggannya.''


'Dasar emak-emak kepo,' ( Batin Ridwan kesal)


Ridwan malas menjawab pertanyaan ibu tersebut, dia hanya tersenyum dengan membungkukkan tubuhnya lalu berlalu meninggalkan tempat itu.


Ridwan pun akhirnya sampai di rumah yang dimaksudkan oleh ibu tadi, dia mengetuk pintu dan memanggil nama Dona, namun tidak mendapat jawaban, gorden rumah itupun nampak tertutup rapat layaknya rumah yang tidak berpenghuni.


Tanpa di sangka, ibu pemilik rumah mengikutinya sampai ke rumah itu, dia nampak berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di belakang Ridwan.


''Saya sudah bilang tadi, si Dona sudah saya usir tadi malam, dia hamil di luar nikah, saya lebih baik membiarkan rumah ini kosong daripada harus dihuni oleh wanita kayak dia,'' ucap ibu tersebut ketus.


''Apa ... di usir?''


''Iya, memangnya kenapa?''


''Apa ibu tau dia pergi ke mana?''


''Gak, saya gak tau dan gak mau tau.''

__ADS_1


Ridwan mendengus kesal, kenapa masih ada manusia jahat seperti ibu ini di dunia ini, mengusir wanita yang sedang hamil, malam-malam pula. Mata Ridwan nampak menatap wajah ibu tersebut dengan tatapan tajam.


''Kenapa kamu liat-liat saya kayak gitu? jangan-jangan kamu adalah ayah dari bayi yang sedang di kandung oleh si Dona, ya ...?''


''Nggak, saya bukan laki-laki yang ibu maksud.''


''Terus, kenapa kamu menatap wajah saya seperti itu?''


''Saya hanya tidak menyangka saja, ternyata di dunia ini masih ada manusia jahat seperti Anda. Kalau anda tidak suka rumah anda di huni oleh wanita seperti Dona, seharusnya anda mengusir dia dengan cara yang halus, jangan tengah malam juga, apalagi wanita itu sedang hamil, sebagai seorang ibu seharusnya anda tau bagaimana beratnya dan tau rasanya mengandung.'' Jawab Ridwan ketus, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Ibu tersebut pun tertawa kesal, menatap kepergian laki-laki yang baru saja menyebutnya manusia kejam, kemudian dia pun berteriak kesal.


''HEY ... SEMBARANGAN KAMU NGOMONG, AKU BUKAN MANUSIA KEJAM, SI DONA NYA SAJA YANG MANUSIA TIDAK TAU DIRI, HAMIL DI LUAR NIKAH ...'' teriak ibu tersebut, namun, diabaikan.


🍀🍀🍀


Richard sudah tidak sabar untuk menanti kedatangan Dona, selain dia berniat untuk bertanggung jawab, dia juga sudah berencana untuk mewariskan harta yang dia punya kepada bayi yang saat ini di kandung oleh Dona, dan tentu saja separuhnya akan dia kembalikan kepada pemilik sah-nya yaitu Daniel.


Sudah hampir tiga jam dia menunggu, namun, assisten-nya itu masih belum juga datang membuat Richard merasa khawatir.


''Akhirnya kamu datang juga,'' ucap Richard tersenyum senang.


''Maaf, bos.''


''Maaf, kenapa? Dona mana? apa dia tidak ikut bersama kamu?'' tanya Richard mengerutkan kening.


''Saya mohon maaf, sepertinya kita terlambat, saat saya datang ke sana, wanita yang bernama Dona itu sudah pindah, saya dengar dia di usir oleh pemilik rumah tadi malam.''


''Apa ...? di usir ... uhuk ... uhuk ...'' Richard terkejut bukan kepalang.


''Iya, Bos.''


''Apa kamu tau dimana dia sekarang?''

__ADS_1


Ridwan menggelangkan kepalanya.


''Ya ampun, Dona. Sebenarnya kamu kemana? Kenapa harus pergi segala, padalah aku akan bertanggung jawab dan mewariskan harta aku juga, seharusnya kamu bersabar sedikit lagi,'' gumam Richard menyesal.


''Apa yang akan kita lakukan sekarang, bos?''


''Aku minta, kamu cari dia sampai ketemu, kalau perlu, kamu sewa detektif swasta untuk menemukan dia, kalau masalah bayaran, kamu jangan khawatir, bayar dia setinggi mungkin agar mereka bisa dengan cepat menemukan Dona,'' tegas Richard penuh penekanan.


''Baik, Bos. Saya akan mencari dia sekarang juga.'' Jawab Ridwan, membungkukkan tubuhnya lalu pergi dari hadapan Richard.


'Maafkan Om, Dona. Seharusnya dari dulu Om melakukan hal ini meskipun dengan menikahi kamu, kita tidak bisa lagi berhubungan int*m seperti dulu lagi, tapi setidaknya bayi kita tidak lahir sebagai anak haram,' ( Batin Richard merasa menyesal )


🍀🍀


Sementara itu, wanita yang sedang di cari keberadaannya oleh Richard, nampak sedang duduk di dalam bus yang sedang berjalan, Dona berniat pergi sejauh mungkin dimana tidak ada lagi orang yang mengenali dia dan menghujat kehamilannya.


Dona sendiri tidak tau akan pergi kemana, dia hanya mengikuti langkah kaki, bersama bayi yang di kandung nya.


Dona nampak menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, pandangan matanya menatap ke arah luar jendela kaca mobil melayangkan tatapan kosong, dengan fikiran yang melayang entah kemana.


'Mari kita pergi jauh, sayang. Kita pergi ke tempat dimana tidak ada seorang pun yang akan menghujat kamu, ibu akan membesarkan kamu sendirian, tanpa suami dan tanpa seorang ayah. Ibu harap kamu mengerti, sayang. Mari kita memulai hidup baru yang lebih baik,' ( batin Dona, mengusap perut besarnya)


Perlahan bus yang ditumpangi oleh Dona pun semakin berjalan menjauh, menjauh dari kota yang penuh kepedihan dan menjauh dari laki-laki yang bernama Richard, dan tentunya menjauh dari kehidupan sebagai wanita malam yang selama ini dia jalani.


Mulai saat ini, Dona akan menjalani hidupnya dengan normal, menjadi ibu seutuhnya dan berhenti menjadi wanita panggilan, cukup laki-laki yang bernama Richard saja yang menjamah tubuhnya sampai dia hamil.


Dona akan berusaha mencari pekerjaan lain, berbekal uang yang selalu diberikan oleh Richard.


'Selamat tinggal kehidupan kelam ku, dan selamat datang masa depan,' ( Batin Dona )


Perlahan, buliran air mata pun mulai berjatuhan membasahi pipi mulus Dona, air mata kepedihan dan air mata bahagia seolah datang secara bersamaan.


Pedih karena harus melahirkan dan membesarkan anak sendiri, dan senang karena akhirnya dia bisa benar-benar meninggalkan dunia malam yang selalu dia jalani selama ini, dan juga senang karena sebentar lagi dia tidak akan sendirian dan kesepian lagi, karena akan ada bayi mungil yang akan segera lahir, mewarnai hari-harinya ke depan.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2