
Richard berbaring di ranjang dengan di bantu oleh Daniel, tubuh renta nya benar-benar membuat dia sedikit kesulitan untuk berjalan sendiri, Daniel dengan tatapan mata sayu menutup separuh raga sang ayah dengan selimut tebal.
''Terima kasih, Daniel. Eu ... Sebaiknya kamu segera kembali ke kantor, kasian Lusi pasti kesal kalau harus bekerja sendirian,'' lirih Richard dengan suara lemah.
''Hmm ... Apa gak apa-apa kalau Daddy di tinggal sendirian di rumah?''
''Gak apa-apa, Daddy sudah biasa sendiri, kamu pergi saja.''
''Baiklah kalau begitu. Hmm ... Dad ... Apa Daddy serius dengan apa yang Daddy katakan tadi?'' tanya Daniel, duduk di tepi ranjang.
''Iya, Daddy serius. Tapi, Daddy punya satu permintaan sama kamu Daniel.''
''Apa? katakan saja.''
''Sisihkan separuh harta Daddy untuk Dona, dan Daddy juga punya harta terpisah yang tidak ada sangkut pautnya dengan harta peninggalan ibumu, Daddy ingin semua harta yang murni milik Daddy di berikan kepada putra Daddy yang saat ini di kandung oleh Dona, dia berhak atas harta itu.''
''Property, 40% saham perusahaan, tabungan, dan semua simpanan Daddy di bank, jumlahnya miliaran, akan Daddy serahkan kepada bayi yang saat ini di kandung Dona, dia darah daging Daddy. Sisanya, milikmu, milik peninggalan ibumu, sayang.''
''Jadi Daddy mohon, tolong cari keberadaan Dona. Daddy ingin bertemu dengan dia dulu sebelum Daddy mati,'' ucap Richard panjang lebar.
''Daddy ...! kenapa Daddy mengatakan semua itu seolah Daddy akan benar-benar pergi? ingat, Daddy belum mendapatkan maaf dari Lusi, Dona juga ... Daddy gak boleh pergi dulu sebelum Daddy mendapatkan maaf dari mereka,'' Daniel mulai berkaca-kaca.
''Ha ... ha ... ha ...! Memangnya kenapa kalau Daddy mati? toh Daddy sudah tua renta seperti ini.''
''Nggak, Daddy harus panjang umur dan menebus semua kesalahan yang telah Daddy lakukan, aku gak akan rela kalau melihat Daddy pergi begitu saja,'' ketus Daniel lalu berdiri dan keluar dari dalam kamar.
Sebenarnya, Daniel tidak kuasa menahan rasa sedihnya, tapi dia tidak ingin Richard mengetahui kesedihan yang saat ini dia rasakan, dia ingin terlihat kuat meskipun sebenarnya hati kecilnya merasakan sakit mendengar sang ayah mengatakan hal itu.
Mengingat di masa lalu, dia pun pernah banyak berbuat salah kepada ayahnya itu, dan dia sama sekali belum sempat meminta maaf tentang apa yang telah dia lakukan.
Daniel menutup pintu dengan kasar, hingga menimbulkan suara keras membuat Richard tersenyum tipis.
'Maafkan Daddy, Daniel. Daddy benar-benar lelah menjalani hidup ini, Daddy ingin segera bertemu ibumu dan meminta maaf kepadanya di alam sana,' (Batin Richard)
Sementara itu, Daniel berdiri dengan bersandar pintu yang sudah dia tutup kini, kepalanya pun nampak disandarkan dengan mata yang menatap langit-langit ruangan yang tinggi menjulang melayangkan tatapan kosong.
__ADS_1
'Maaf, Dad. Aku harus bersikap seperti ini, agar Daddy bisa terus bertahan hidup. Aku tidak ingin melihat Daddy pergi, sebelum aku meminta maaf kepadamu, entah kenapa, mulutku sulit sekali hanya untuk sekedar mengucapkan kata maaf kepadamu, Dad. Rasa ego di hati aku seolah menahan kata-kata itu untuk keluar dari mulut aku ini. Jadi Daddy harus panjang umur,' (Batin Daniel)
🍀🍀
Sementara itu, Lusiana dan Arman yang sudah bertarung di atas ranjang semalam, nampak masih tertidur pulas padahal hari sudah beranjak siang, matahari pun sudah berada di atas kepala, namun, mereka masih saja tertidur pulas-nya dengan raga yang masih saling berpelukan dan tentunya polos tanpa satu helai benangpun.
Perlahan, Arman mulai membuka matanya pelan, sinar matahari yang masuk melalui celah jendela yang berada tepat di samping kasur busanya seolah hangat menyentuh pelupuknya, hingga dia pun sedikit mengernyitkan keningnya dengan mata yang setengah terpejam.
''Jam berapa ini?'' gumam Arman mengusap mata dengan telapak tangannya.
Tangannya pun di rentangkan panjang, menggeliat seraya membuka lebar mulutnya, menguap. Arman pun nampak tersenyum saat melihat sang istri kini masih tertidur dengan memeluk tubuhnya, bahkan kedua kakinya kini melingkar di pinggang polosnya, seperti sedang memeluk bantal guling.
Cup ...
Arman pun mengecup pucuk kepala Lusiana, membuat Lusi sedikit menggeliat hingga lembah miliknya bergesekan dengan permukaan kulit perutnya.
''Morning, honey ...''' Sapa Arman, saat melihat mata sang istri berkedip pelan.
''Morning, Sayang ... Jam berapa sekarang?''
''Apa ...? jam 10 pagi?'' Lusi bangkit seketika membuat raga polosnya kini terekspos sempurna.
Arman tersenyum, menarik pinggang ramping sang istri hingga dia kembali berbaring tepat di sampingnya.
''Bisa tidak hari ini kamu gak usah berangkat bekerja? atau, kamu resign saja dari pekerjaan kamu itu, biar aku saja yang bekerja.''
''Gak bisa, sayang. Aku harus pergi bekerja,'' Lusi seketika bangkit, lalu turun dari atas kasur, dia langsung berjalan menuju kamar mandi tidak peduli meski tubuhnya masih polos.
''Sayang ...?'' Rengek Arman, namun, diabaikan oleh istrinya itu.
Arman mengusap wajahnya kasar, bagaimana caranya agar dia bisa membujuk Lusi agar dia mau berhenti dari pekerjaannya. Sebenarnya, untuk saat ini, dia ingin istrinya itu fokus menjadi seorang istri, dan menjaga tubuhnya supaya tidak terlalu kelelahan agar dirinya bisa cepat memiliki momongan.
Lama termenung, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, akhirnya sang istri pun keluar dari dalam kamar mandi, tubuh langsingnya di balut dengan handuk berwarna putih, dan rambut basahnya nampak di tutup sempurna.
''Sayang ...?'' Rengek Arman lagi.
__ADS_1
''Kenapa, sayang? Sudah siang, aku harus segera berangkat ke kantor, apa kamu juga gak kerja?'' tanya Lusi, membuka lemari pakaian dan meraih satu setel pakaian.
Arman terdiam, dia menunggu istrinya itu untuk berpakaian terlebih dahulu sebelum dia mulai mengutarakan keinginannya.
''Kenapa diam aja, sayang? tadi kamu merengek-rengek kayak anak kecil 'kan?'' Lusi bertanya seraya memakai satu-persatu pakaian dalam di tubuhnya.
Arman masih terdiam, dirinya seperti sedang menyusun kalimat yang tepat agar istrinya itu tidak salah paham.
Lusiana pun sudah selesai berpakaian, kini dia nampak sedang menghias wajahnya sendiri dengan make up yang sedikit tebal, namun, suaminya itu masih belum mengatakan apapun.
Arman hanya menatap istrinya lekat, memperhatikan setiap gerakan yang sedang dilakukan sang istri, sampai akhirnya Lusi tersadar, dia menghentikan gerakan tangannya yang saat ini sedang mengoleskan lipstik berwarna merah, lalu menatap wajah Arman dari pantulan cermin.
Merasa ada yang aneh dengan ekspresi wajah suaminya itu, Lusi segera menyelesaikan gerakan tangannya, mengoleskan lipstik itu dengan gerakan cepat, lalu mulai berbalik dan duduk di tepi ranjang.
''Ada apa? kenapa muka kamu muram seperti itu?'' tanya Lusi dengan suara lembut.
''Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi, kamu janji jangan marah.''
''Katakan saja, sayang. Sepertinya serius banget?''
''Aku ingin kamu berhenti bekerja, aku gak tega melihat kamu berangkat pagi pulang malam, kecapean seperti tadi malam. Aku janji akan bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi semua kebutuhan kamu, sayang.'' Lirih Arman lembut.
''Hmm ... Aku akan memikirkan hal itu, tapi aku gak bisa janji akan benar-benar melakukannya, Daniel butuh bantuan aku untuk mengelola perusahaan,'' jawab Lusi, dan Arman langsung membalikkan tubuhnya merasa kesal.
'Kamu memikirkan perasaan Daniel, tapi kamu gak mikirin perasaan aku, apa kamu masih punya perasaan sama dia?' (Batin Arman)
''Sayang ...?'' Lusi merengek dengan tangan yang mengusap pundak Arman.
''Pergilah, nanti kamu kesiangan. Kamu lebih memikirkan perasaan Daniel daripada suamimu ini,'' Arman merajuk seperti anak kecil.
Lusi tertawa lepas.
''Apa kamu cemburu? ha ... ha ... ha ...''
''Iya, aku cemburu, memangnya kenapa kalau aku cemburu...?'' jawab Arman, menutup seluruh raganya dengan selimut tebal.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀