Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Tanggung Jawab


__ADS_3

Arman terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh wanita gila yang masih dalam keadaan polos itu, dia pun tertawa terbahak-bahak membuat Lusi benar-benar merasa kesal.


''Kenapa kamu ketawa? Apa ucapan aku terdengar lucu, hah ...? Apa aku ini lelucon buat kamu? begitu ...?''


''Tentu saja, kamu lucu, gila, Sint*Ng, baru kali ini aku mendengar seorang wanita yang meminta kepada laki-laki yang telah tidur dengannya untuk tidak bertanggung jawab, apa itu gak lucu. Wey ... gadis yang belum diketahui namanya, dimana-mana cewek itu kalau habis tidur sama cowok, bakal nangis-nangis minta pertanggungjawaban cowoknya.''


''Nah ini, malah sebaliknya, apa gak lucu ...? hah ...?'' ucap Arman terkekeh.


''Lucu-lucu kepalamu peang, seharusnya kamu senang tau, karena gak perlu dituntut untuk bertanggung jawab.''


''Siapa bilang? aku yang akan meminta pertanggungjawaban kamu, pokoknya kita harus menikah, gak peduli meskipun kita baru saling kenal, kalau kamu gak mau, aku akan mengejar kemanapun kamu pergi, karena aku pantang untuk meninggalkan tanggung jawab, apalagi setelah aku meniduri seorang wanita, mengerti ...?'' ucap Arman penuh penekanan.


''Dih, kok kamu yang maksa, dasar pria aneh ...''


''Jelas dong. Pokoknya kamu gak akan pernah bisa lari dari aku,'' jawab Arman, bangkit dan berdiri dengan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Lusi yang juga menutup raga polosnya dengan selimut yang sama, sontak berteriak saat selimut itu ditarik otomasi tubuhnya yang polos terbuka sempurna, dia yang sedang duduk di atas kasur pun segera meraih pakaian dirinya yang berserakan begitu saja di atas lantai.


''Argh .... dasar cowok gila,'' teriak Lusi terkejut.


''Gak usah di tutup, aku udah liat semua yang tersembunyi di dalam tubuh kamu itu ....'' ucap Arman, menutup bagian bawahnya dengan selimut, lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


''Dasar gila ...'' ucap Lusi seraya memakai satu-persatu pakaian dirinya, setelah itu berlari ke arah luar.


Arman, dengan tubuh bagian bawah dibalut dengan selimut melingkar sembarang menutupi bagian inti tubuhnya, kini meraih tas wanita yang saat ini berada di dalam rumahnya, membuka lalu meraih ponsel milik wanita itu.


''Heh ... Mau apa kamu?'' teriak Lusi keluar dari dalam kamar.


''Diam ...''


Pria setengah polos itu, sengaja menelpon nomornya sendiri menggunakan ponsel Lusi, agar dia tidak repot-repot meminta nomor ponsel lagi kepadanya.


Setelah itu dia pun mengambil kartu nama yang ada di dalam tas kecil Lusi, menatapnya seraya membacanya.


''Lusiana ... Nama yang bagus juga.''


''Hey, gak sopan banget si main ambil-ambil aja tas orang,'' gerutu Lusi hendak meraih tas tersebut.


Arman melayangkan tangannya ke udara mengangkat tinggi-tinggi tas tersebut, sehingga tangan Lusi sama sekali tidak bisa meraih tas meski dia telah berjinjit kaki.


''Diam, aku belum selesai, gadis gila ...'' gerutu Arman, meletakkan telapak tangannya di kepala Lusi lalu mendorongnya mundur.


Arman pun kembali membuka, dan meraih bungkusan rokok lengkap dengan korek api yang ada di dalam tas tersebut.

__ADS_1


''Kamu perokok aktif juga?''


''Iya, emangnya kenapa? aku juga pemabuk berat, kamu udah liat tadi malam 'kan? Apa kamu masih bersikeras menikahi aku, hah ...?'' Lusi tersenyum menyeringai.


''Gak masalah, kamu bebas melakukan apapun.''


''Dasar pria gila, balikin tas aku ...''


Lusi pun meraih kasar tas miliknya, begitupun dengan rokok yang saat ini berada di dalam genggaman Arman.


Tanpa di sangka, selimut yang menutupi bagian inti tubuh Arman kini terlepas seketika memperlihatkan bagian bawah tubuhnya, membuat Lusi sontak berteriak lalu menutup mata dengan kedua tangannya.


''Haaaa ...! Apa itu, cepat tutup ...'' teriak Lusi, mengintip dari celah jari yang menutup matanya, lalu menelan ludah kasar.


''Biasa aja dong, apa kamu lupa semalam memainkan benda ini?''


''Ikh ... dasar mes*m ...''


'Apa iya? semalam aku benar-benar gila, itu 'kan gede banget ...?' ( Batin Lusi )


Arman pun menarik selimut dan melingkarkan sembarang untuk menutupi bagian inti raga polosnya.


''Awas ... aku mau pulang ...'' ucap Lusi kasar.


Lusi pun melingkarkan tas miliknya sembarang di bahu kirinya lalu hendak keluar dari dalam rumah.


''Hey ... Tunggu ...''


''Apa lagi?''


''Apa kamu gak malu pulang dalam keadaan kayak gitu?'' tanya Arman menatap tubuh Lusi yang belum berpakaian lengkap.


Lusi menunduk memeriksa pakaian yang dikenakannya yang memang masih belum lengkap, karena jas berwarna hitam yang semalam di pakainya masih tergeletak di atas kursi.


Dia pun memutar matanya kesal, meraih kasar jas tersebut lalu melingkarkan sembarang di bahunya, setelah itu dia keluar begitu saja dari dalam rumah dengan perasaan kesal.


Arman hanya bisa menatap kepergian wanita yang semalam telah mengobrak Abrik pertahanan di dalam jiwanya, memainkan senjata tajam miliknya hingga dia tidak bisa lagi menahan hasratnya untuk melakukan hal terlarang itu.


Dengan tersenyum geli, Arman pun menutup pintu rumahnya setelah Lusi benar-benar meninggalkan halaman rumah.


Bruk ...


Arman menjatuhkan diri ke atas kursi, berbaring menatap langit-langit ruangan, membayangkan kembali kejadian tadi malam yang membuat jiwanya benar-benar melayang.

__ADS_1


''Akh ... dasar gadis gila ...'' Arman mengusap kasar wajahnya lalu tersenyum.


Gadis yang bernama Lusi itu benar-benar membuat hatinya berdebar, senyuman serta tatapan sinis-nya membuat hati Arman merasakan sesuatu yang aneh.


Apa dia jatuh cinta kepada gadis itu? atau karena gadis yang bernama Lusiana itu telah memberinya kenikmatan, itu sebabkan hatinya terasa berdebar? Akh ... Entahlah, Arman mengusap wajahnya kasar, menyudahi lamunannya.


'Kamu gak akan pernah bisa lari dariku gadis gila, kamu harus bertanggungjawab dan aku akan segera menikahi kamu, gak peduli meski kita baru saling mengenal, dan kamu perokok aktif dan bahkan pemabuk berat, jika kamu sudah menjadi istriku nanti, aku akan menuntun-mu ke jalan yang benar' ( Batin Arman )


🍀🍀


Sementara itu. Setelah dua hari di rawat di Rumah Sakit, akhirnya Mika sudah di perbolehkan pulang ke rumah, pagi ini dia sudah bersiap setelah sang suami membereskan Administrasi Rumah Sakit.


Daniel menggendong tubuh sang istri untuk duduk di kursi roda, setelah itu, dia pun mendorong kursi roda tersebut keluar dari dalam kamar.


''Seneng deh akhirnya aku bisa pulang juga," ucap Mika tersenyum sumringah.


"Iya, sayang. Aku juga senang. Pokoknya kamu gak boleh capek-capek dulu, pekerjaan rumah biar aku yang kerjain, Oke ...?" ucap Daniel seraya mendorong kursi roda.


"Tapi, sayang. Kamu 'kan harus kerja, kasian 'kan kalau harus mengurus rumah juga,'' lirih Mika, memutar kepalanya menatap sang suami.


''Gak apa-apa, sayang. Lagian aku juga berencana membeli rumah baru yang lebih besar, dan kita bisa menyewa Asisten Rumah Tangga di sana.''


''Kamu serius ...?''


''Iya, sayang. Bulan depan kita pilih-pilih rumah baru, kamu sendiri yang memilihnya, ya.'' Jawab Daniel mengecup pucuk kepala sang istri.


Mika tersenyum begitu senang, wajahnya pun terlihat begitu ceria, dia mengusap perutnya seraya berbicara kepada janin yang saat ini berada di dalam sana.


''Sayang ... Papa mau beliin rumah baru buat kita, Mommy gak sabar nunggu kamu lahir, kamu baik-baik ya, di dalam sana.'' Ucap Mika.


Daniel pun menghentikan langkah kakinya, dia berjalan lalu berjongkok tepat di depan istrinya tersebut, mengusap perutnya lalu mengecupnya pelan.


Keduanya pun terlihat begitu bahagia, tersenyum bersama seraya mengusap perut dengan terus berbicara dengan janin yang berada di perut Mika.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap kebersamaan mereka dengan tatapan iri dan mata yang terlihat berkaca-kaca, mengelus perutnya juga yang sedang dalam keadaan hamil muda


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Mampir juga di karya teman Othor ya, Reader 😘



🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2