
Perlahan Daniel mulai mendekatkan wajahnya, mengecup pelan bibir ranum sang istri yang terlihat begitu menggoda di matanya.
Merasa sesak, akhirnya, Mika pun mengigit kecil bibir suaminya itu membuat Daniel sontak melepaskan tautan bibirnya.
Plak ...
Satu pukulan mendarat di punggung Daniel.
''Kamu mau bunuh aku, hah ...? gak bisa napas tau ...'' rengek Mika dengan kaki yang masih melingkar di bawah sana.
''O ya ...? Maaf, sayang. Habisnya bibirmu sungguh menggoda, janji deh kali ini aku akan bermain lembut,'' jawab Daniel.
''Hmm ... Awas ya, kalau kayak tadi lagi, aku gigit bibir kamu ...!''
''Iya ... Iya ... sayang ...'' jawab Daniel cengengesan.
Kali ini Mika menekan kepala suaminya hingga bibir mereka kembali saling bertautan, dan Daniel mencoba bermain halus dengan membiarkan istrinya itu yang mengendalikan permainan, sementara dia hanya mengikuti alur yang diciptakan sang istri.
Mika bermain buas, namun, karena Daniel lebih lihai, dia dapat mengimbangi permainan panas yang di suguhkan oleh istrinya itu. Mika mengeluarkan lidahnya, memasukkannya ke dalam mulut Daniel yang langsung di sambut dengan permainan lidah oleh suaminya.
Daniel kini melepaskan tumpuan tangannya di bawah sana, dia beralih ke punggung sang istri, dan mulai melepaskan pengikat yang melingkar di punggung istrinya itu, hingga penutup tebal yang menutupi bagian gunung kembar istrinya itu mengambang begitu saja si atas air.
''Di sini beneran gak ada siapa-siapa 'kan?'' tanya Mika melepaskan tautan bibirnya.
''Nggak, sayang. Hanya ada kita bertiga ...'' jawab Daniel menatap wajah cantik sang istri.
''Hah ... bertiga?'' Mika sontak melepaskan kedua kakinya yang semula melingkar di pinggang suaminya.
''Iya ... Aku, kamu dan bayi kita ...'' jawab Daniel mengusap lembut perut sang istri.
''Oh ... Aku kira ada orang lain lagi di sini.''
''Gak ada orang lain lagi, ko. Jadi kamu tenang aja,'' jawab Daniel, kembali mengangkat kedua kaki Mika.
__ADS_1
''I Love You ..." Bisik Daniel.
Kaki Daniel pun mulai berjalan-jalan lebih memasuki kolam.
''Akh ... Sayang ...!" lirih Mika memejamkan mata.
Dengan lembut, Daniel pun memainkan pucuk berwarna kecoklatan itu, seraya mengigit-nya pelan membuat Mika benar-benar merasakan kenik*atan dan suara des*han pun dia keluarkan begitu saja tanpa beban.
''Akh ... Hmm ... Sayang ...''
"Iya, sayang ... Aku akan menghi*apnya puas-puas, karena setelah kehadiran bayi kita nanti, benda ini akan seutuhnya menjadi miliknya,'' lirih Daniel.
''Iya, sayang. Ini milikmu sekarang, lakukan sepuas-mu ...'' jawab Mika dengan mata yang terpejam.
Tangan Daniel yang ada di bawah sana pun, mulai menyelinap ke dalam segitiga berwarna merah.
Perlahan Daniel, memainkan sesuatu yang terjepit di tengah-tengah lembah itu, meremasnya pelan membuat Mika benar-benar kewalahan.
''Segitiga mu lepaskan dulu, sayang ...'' bisik Daniel, melepaskan tautan bibirnya di pucuk istrinya.
''Akh ... Sayang ...'' des*h Mika memejamkan mata.
''Kenapa, sayang ...? sakit ...?''
''Nggak, sayang. Teruskan, sesuatu di dalam sana terasa akan meledak,'' jawab Mika.
''Hmm ...! Aku akan membuatmu meledakkan-nya, sayang ...'' jawab Daniel.
''Akh ... Au ... Sayang ...''
Sampai akhirnya, tubuh polosnya itu benar-benar menegang, bagian intinya kini berdenyut pelan dengan jantung yang benar-benar berdetak kencang, diiringi suara lenguhan panjang, sebagai pertanda sesuatu di dalam sana benar-benar meledak.
''Arghh ... sayang ...'' lirih Mika, dengan raga yang mengejang.
__ADS_1
''Iya, sayang ledakkan semuanya.''
''Akh ... Kamu gila, hanya dengan bermain seperti ini, kamu bisa membuatku meledak,'' lirih Mika memejamkan mata, melingkarkan tangannya kuat di leher sang suami.
''Giliran aku, sayang.''
Mika mengangguk pasrah.
Entah sejak kapan senjata miliknya tanpa penutup, tiba-tiba saja dia sudah hendak mengarahkan senjata miliknya itu menuju bukit di bawah sana.
''Ko susah, sayang. Perutmu ini menghalangi,'' lirih Daniel, menatap ke bawah sana.
''Tunggu ...'' Mika memutar badan, hingga kini dia pun memunggungi suaminya.
''Kamu benar-benar pintar, sayang. Gak perlu di pinta, kamu udah ngerti dengan apa yang aku inginkan.''
Daniel tersenyum senang, dia meletakan tangannya di pinggang sang istri. Perlahan senjata itu pun mulai menerobos masuk ke dalam sana. Tangan Mika pun kini berada di punggung tangan suaminya, hingga mereka pun kini saling meremas punggung tangan masing-masing.
''Terus, sayang. Sedikit lagi.''
''Mari kita meledak bersamaan, sayang.''
Sampai akhirnya ...
Keduanya sama-sama memejamkan mata, diiringi lenguhan panjang secara beriringan, sebagai tanda bahwa mereka berhasil mencapai pelepasan secara bersamaan.
Daniel semakin mempererat pelukannya, dengan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri dengan napas yang terengah-engah.
''Sepertinya, aku harus menyuruh Arman menguras kolam ini besok ...'' bisik Daniel dengan deruan napas yang seolah menyapu telinga.🙈
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Hai Reader mampir juga di Novel baru Othor ya, baru netas tadi pagi ...😘😘
__ADS_1