
Arman menarik Lingerie yang dikenakan oleh istrinya itu ke atas, hingga lembah milik istrinya kini terekspos sempurna, membuat Arman membulatkan bola matanya seketika saat mendapati sang istri ternyata tidak memakai segitiga untuk menutup lembah miliknya itu.
''Apa dari tadi kamu gak memakai cel*na dal*m?'' tanya Arman membulatkan bola matanya.
''Nggak, aku memang sengaja gak memakainya,'' jawab Lusi tersenyum.
''Hmm ... Dasar nakal ...''
Perlahan Arman menurunkan tubuh istrinya itu, membawanya bersandar di tembok dan pendakian menuju puncak pelepasan pun di mulai.
''Argh ... Sayang ... Hmmm ...'' lirih Lusiana.
''Iya, sayang ... Sebut namaku ...''
''Arrr-maaan ...'' teriak Lusi memejamkan mata.
Tubuh Lusi benar-benar diambang puncak, perlahan rasa dibawah sana semakin terasa nikmat seiiringan dengan semakin kuatnya irama hentakan suaminya, sampai akhirnya sesuatu di dalam sana benar-benar meledak.
''Arghhh ... sa-yang ...'' Lusi men*erang panjang, dia mencengkram kuat punggung suaminya, dengan mata yang terpejam dan mengigit bibir bawahnya keras, otaknya benar-benar melayang, terbang ke angkasa luas.
''Sudah ...'' bisik Arman, yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Lusiana.
''Giliran aku ya, sayang.'' Ucap Arman lagi.
Lusi mengangguk pasrah.
__ADS_1
Arman pun mulai memburu apa yang dia kejar, sesuatu yang akan membuat jiwanya melayang, sampai akhirnya sesuatu itu berhasil dia dapatkan sempurna membuatnya memejamkan mata seketika.
''Ahhhkk ... kamu memang hebat, sayang ...'' lirih Lusi menyandarkan punggungnya di tubuh sang suami, dengan kepala yang terkulai lemas di pundak suaminya, dengan mata yang terpejam.
''Kenapa sayang ...?'' Arman menoleh menatap wajah sang istri yang kini berada tepat di atas pundaknya.
''Nggak apa-apa, hanya saja, tubuh aku terasa ringan, semua beban di otak aku terasa hilang,'' jawab Lusi dengan napas yang terengah-engah.
''Hmm ... Aku pikir kamu pingsan ... Hmm ... Masih mau lagi?'' bisik Arman.
''Apa sosis jumbo kamu ini masih bisa berdiri lagi?'' tanya Lusi membuka matanya.
''Tentu saja, kalau kamu masih mau, aku bisa memaksanya berdiri.''
''Boleh, kalau begitu.''
Lusi mengangguk senang.
Tanpa basa-basi basi lagi, Arman segera menggendong raga sang istri dan membawanya ke dalam kamar, dan segera melempar tubuh istrinya itu ke atas kasur.
''Kita mulai lagi, sayang ...'' ucap Arman dan kembali menyambar tubuh langsing istrinya itu.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya.
__ADS_1
Seharusnya, hari ini Richard sudah diperbolehkan pulang, kondisi kesehatannya yang sudah membaik membuat Dokter memperbolehkan Richard untuk di rawat jalan di rumah saja.
Richard masih nampak berbaring di atas ranjang, jarum infus pun masih menancap sempurna di pergelangan tangannya, wajah Richard terlihat muram, seharusnya dia merasa senang karena akan segera keluar dari Rumah sakit.
Sepertinya Daniel benar-benar marah kepada dirinya sekarang, semenjak putranya itu mengetahui hal yang telah dia lakukan kepada keponakannya di masa lalu Daniel masih belum datang lagi untuk menjenguk dirinya lagi.
Saat ini, dia hanya ditemani oleh Asisten pribadinya yang sekarang sedang membereskan pakaian miliknya dan sepertinya dia hanya akan pulang dengan di antar oleh Ridwan.
''Apa putra Bos gak datang buat ngejemput bos pulang?'' tanya Ridwan.
''Sepertinya dia benar-benar marah padaku kali ini,'' jawab Richard datar.
''Lho, kenapa? bukankah selama ini bos Daniel selalu rutin menjenguk ke sini?''
''Entahlah, mungkin kesalahan yang aku buat benar-benar tidak termaafkan,'' Richard masih dengan suara datar.
''Kita tunggu saja sebentar lagi, siapa tau dia masih sibuk.''
''Hmm ...'' Richard hanya bergumam pelan, tidak ingin terlalu berharap banyak.
Tidak lama kemudian, pintu kamar pun di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu, dan tanpa di sangka, Daniel masuk ke dalam kamar dengan ditemani oleh perawat yang akan melepaskan jarum infus di pergelangan tangan Richard.
Mata Richard nampak membulat sempurna dan berbinar, dirinya sungguh tidak menyangkan bahwa sang putra akan datang ke sana untuk menjemput dirinya.
Meski wajah Daniel terlihat datar, tanpa senyuman dan tanpa ekspresi sedikitpun saat masuk ke dalam kamar, namun, dengan kedatangannya saja sudah cukup membuat Richard merasa senang dan tenang.
__ADS_1
'Terima kasih sudah datang, Daniel. Putraku ...' (Batin Richard)
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀