Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Sepeninggal Lusi, Richard masih meringkuk di atas lantai, terus berteriak seraya memegangi daerah intinya, telur yang tersembunyi di bawah sana terasa pecah membuat kakinya benar-benar lemas dan senjata tajam miliknya terasa nyeri, membuat Richard susah hanya untuk bangkit dan berdiri.


''KURANG AJAR KAMU LUSIANA, AWAS AJA KAMU, YA ... ARGH ... SENJATA TAJAM AKU SAKIT SEKALI ...'' teriak Richard dengan air mata yang memenuhi kelopaknya.


Akhirnya dia pun memutuskan untuk meminta asisten pribadinya untuk naik ke apartemen dan membantu dirinya untuk turun. Dengan susah payah Richard berusaha mengambil ponsel di dalam saku celananya dan menelpon Ridwan.


Tidak lama kemudian, Ridwan yang merupakan Asisten pribadi Richard pun datang, dan terkejut seketika saat melihat bosnya meringkuk di atas lantai.


''Ya ampun, Bos. Ada apa? kenapa bos tidur di sana?'' tanya Ridwan berlari menghampiri.


''Siapa yang tidur, brengsek? Cepat bantu aku bangun, dan bawa aku pulang sekarang juga,'' pinta Richard.


Ridwan pun mengikuti keinginan bosnya tersebut, dia segera membantu Richard, memapahnya untuk keluar dari dalam Apartemen dan mengantarkannya pulang.


Sesampainya di rumah, Ridwan pun membawa bosnya tersebut naik ke lantai empat.


''Sebenarnya ada apa, Bos?'' tanya Ridwan merasa heran, karena sedari tadi bosnya itu terus memegangi bagian bawah tubuhnya.


''Senjata tajam aku sakit sekali? argh ...'' ringis Richard berbaring di atas ranjang.


''Kenapa bisa seperti itu? apa perlu aku panggilkan Dokter?''


''Gak usah, bisa malu aku nanti, kalau Dokter tau benda Kramat ini habis di tendang sama si Lusiana sialan itu?''


''Apa di tendang ...?'' Ridwan sedikit menahan tawa.


''Kenapa kamu ketawa segala? mau aku pecat kamu, hah ...?'' teriak Richard, dengan tangan yang mengurut lembut benda yang tadi dia sebut Kramat itu.


''Maaf, Bos. Aku gak bermaksud meledek, hanya saja-''


''Hanya saja apa? hah ...?''

__ADS_1


''Nggak, Bos. Gak jadi. Kalau tidak ada lagi yang bos perintahkan, aku permisi dulu.''


''Baiklah, pergi sana. Aku lelah, mau istirahat.''


Ridwan pun membungkukkan tubuhnya lalu berbalik dan turun dari lantai empat.


🍀🍀


Keesokan harinya.


Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara pun nampak masih tertidur lelap, dengan tubuh yang masih berpelukan. Arman nampak mulai membuka mata, mengedipkan kelopak matanya secara perlahan, dan tersenyum seketika saat melihat Lusiana sang kekasih masih berada di sisinya, tertidur lelap dengan begitu manisnya.


Arman nampak memperhatikan setiap detail wajah cantik seorang Lusi, matanya yang terpejam dengan mulut yang sedikit terbuka membuat wanita itu terlihat begitu se*si, bahkan suara dengkuran yang keluar dari bibir mungil wanita itu terdengar lirih dan merdu di telinga Arman.


Pemuda itu pun menyunggingkan senyum bahagia, lalu mengecup pelan bibir Lusi membuat wanita itu terbangun seketika.


''Selamat pagi honey ...'' ucap Arman saat melihat mata Lusi berkedip dan hendak dibuka.


Tubuh Lusi menggeliat panjang, tangannya nampak di rentangkan dengan mulut yang buka lebar membuat Arman terkekeh, lagi-lagi wanita itu terlihat begitu seksi bahkan menggemaskan, membuat Arman ingin segera menghalalkan wanita itu menjadi istrinya.


''Selamat pagi, sayang ... Cinta ...'' jawab Lusi, mengecup mesra bibir Arman yang saat ini sedang tersenyum begitu lebarnya.


''Hmm ... Bisa nggak seharian ini kita jangan keluar dari kamar, aku ingin seperti ini sampai sore, atau bahkan sampai besok ...'' ucap Arman memeluk tubuh Lusiana.


''Gak bisa, aku harus kerja, kalau tidak aku bisa di pecat sama Daniel ...'' jawab Lusi.


Dia melingkarkan tangan dan juga kakinya di pinggang Arman. Mulutnya berbicara seperti itu, namun tubuhnya semakin dilingkarkan sempurna seolah tidak ingin dilepaskan.


''Hmmm ... Iya juga, aku pun harus kerja hari ini.''


Keduanya pun saling merekatkan tubuh masing-masing, apa yang mereka katakan sama sekali tidak sejalan dengan apa yang mereka lakukan.

__ADS_1


''Hmm ... Ya udah kita bangun yu ...'' bisik Lusi, namun kaki serta tangannya sama sekali tidak dilepaskan.


''Gimana kalau hari ini kita bolos kerja ...?'' usul Arman.


''Jangan ... pekerjaan aku di kantor lagi numpuk-numpuknya ...''


''Ya udah, kita bangun. Ini kenapa malah semakin malas bangun sih ...'' Arman terkekeh.


Akhirnya mau tidak mau, Lusi pun melepaskan lingkaran tangan serta kakinya, dengan sedikit enggan juga dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa, membuat Arman kembali terkekeh.


''Nah, muka kamu lucu kalau kayak gitu, gemes ...'' ucap Arman mencubit pelan kedua sisi pipi mungil kekasihnya.


''Ikh ... sakit tau ...''


''Ha ... ha ... ha ... habisnya, muka kamu ngegemesin sih ...''


''Hmm ... Katanya kamu mau langsung nikahin aku?''


''Nikah ...? tentu saja. Kamu inginnya kapan?''


''Secepatnya, kalau bisa sekarang juga ...'' jawab Lusi dengan suara manja.


''Ha ... ha ... ha ... Dasar kamu ini, masa sekarang juga sih, udah gak sabar ya?''


Lusi mengangguk dengan tersenyum manja.


''Hmm ... yang namanya pernikahan itu harus dipersiapkan matang-matang, aku gak mau pernikahan kita diadakan asal-asalan.''


''Tapi aku inginnya pernikahan kita di adakan sederhana, daripada yang kita menghabiskan uang untuk menggelar pesta besar-besaran, lebih baik uang itu kita gunakan untuk membeli rumah baru yang lebih besar, gimana?''


''Wah, ide bagus, sayang. Ya udah kalau begitu Minggu depan kita nikah, kita adakan sederhana saja, gimana?''

__ADS_1


''Oke, aku setuju ...'' jawab Lusi tersenyum bahagia.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2