
Daniel, menatap wajah sang ayah yang kini sudah terlihat tenang, karena Dokter sudah memberinya obat penenang sekaligus obat tidur, dia pun telah kembali membawa ayahnya itu ke lantai dasar dan berfikir bahwa, mungkin saja di lantai empat itu telah di huni oleh hantu, karena terlalu lama ditinggalkan.
Daniel merasa, wajar saja jika hal itu benar-benar terjadi, mengingat bahwa di rumah besar empat lantai itu memang terlalu banyak kamar kosong, meskipun semua ruangan kosong di rumah itu tidak pernah dibiarkan kotor karena setiap hari selalu di bersihkan oleh pelayan yang jumlahnya mencapai 20 orang dan semuanya memiliki tugas masing-masing untuk mengurus rumah tersebut.
Dokter pun terlihat masih berada di sana, memeriksa keadaan lebih lanjut dan memberi infus kepada Richard karena keadaan tubuhnya benar-benar lemas dan kekurangan cairan.
''Bagaimana keadaan Daddy, Dokter? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa dia bisa jadi seperti ini?'' tanya Daniel merasa penasaran.
''Sepertinya Tuan Richard mengalami halusinasi, rasa bersalah yang terlalu dalam, dan kerinduan pada wanita bernama Dona itu membuat otaknya terlalu memikirkan wanita itu hingga pikiran di bawah alam sadarnya menangkap sesuatu yang sebenarnya itu hanya ada di dalam khayalannya saja.''
''Eu ... Maksud Dokter? ayah saya tidak, maaf ... 'gila' kan?'' tanya Daniel berharap apa yang dia katakan adalah salah.
''Oh tidak, belum sampai ke situ, tapi jika keadaannya terus seperti ini, kejiwaannya akan sedikit terganggu. Eu ... Maaf kalau saya lancang, sebenarnya Dona itu siapa? kalau boleh tau, apakah beliau istri Tuan Richard?'' tanya Dokter.
''Eu ... bisa dibilang begitu Dokter, he ... he ... he ...'' jawab Daniel tidak tau harus berkata apa.
''Hmm ... Kalau bisa, tolong segera bawa Nyona Dona ke sini, sebelum terlambat. Itu hanya saran saya.''
''Baik, Dokter. Akan saya usahakan.''
''Jika sampai besok kondisi Tuan Richard masih seperti ini, maka beliau harus di bawa kembali ke Rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut.''
''Baik, Dokter.''
''Kalau begitu saya permisi dulu. O iya ... Saya sarankan, Tuan Richard jangan sampai di tinggal, selalu temani dia agar pikirannya tidak kosong, dan tidak membayangkan hal yang tidak-tidak lagi seperti tadi.'' Ucap Dokter terakhir sebelum dia benar-benar keluar dari dalam kamar.
Daniel terdiam mematung. Menatap wajah sang ayah yang kini memejamkan mata sempurna tertidur begitu lelap. Dia tidak menyangka bahwa keadaan ayahnya akan semakin parah seperti ini.
Apa itu karena dosa yang telah dilakukan oleh ayahnya itu terlalu besar? hingga dia di hukum seperti ini? ada rasa sesal yang terselip di hati seorang Daniel yang pernah mengatakan bahwa ayahnya itu harus hidup dengan menerima dan menebus semua yang telah Richard lakukan.
Nyatanya Daniel sama sekali tidak tega melihat ayahnya hidup dalam penyiksaan seperti ini.
__ADS_1
'Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Dad? Apa Tuhan benar-benar sedang menghukum mu sekarang?' ( Batin Daniel )
Ridwan yang juga ada di sana setia dan tidak pernah beranjak sedikitpun dari sisi Richard nampak merasakan hal yang sama, sebagai Asisten pribadi Richard, tentu saja dia tau betul kelakukan bosnya itu dari A sampai Z tidak ada yang terlewatkan.
Tapi karena dia hanya seorang Asisten, Ridwan tidak pernah mengingatkan setiap kali bosnya itu melakukan kesalahan, atau kejahatan, dan sekarang, melihat bosnya dalam keadaan seperti ini membuat Ridwan pun berfikiran hal yang sama seperti Daniel, bahwa bosnya ini mungkin saja karena sedang mendapatkan hukuman atas semua yang telah dilakukan oleh bosnya tersebut di masa lalu.
''Hmm ... Maaf, bos Daniel. Apa yang harus saya lakukan sekarang?'' tanya Ridwan berdiri di samping Daniel.
''Cepat cari dan bawa Dona ke sini, kalau perlu cari dia sampai ke lubang semut sekalipun,'' jawab Daniel penuh penekanan.
''Baik, Bos. Tapi nanti Tuan Richard nanti siapa yang akan menjaga di sini?''
''Aku yang akan menjaganya, kamu gak usah khawatir.''
''Baik, bos. Kalau begitu saya permisi dulu.'' Pamit Ridwan, lalu keluar dari dalam kamar.
Sepeninggal Ridwan, kini tinggalah Daniel berdua dengan sang ayah yang saat ini dalam keadaan tertidur, obat penenang yang berikan oleh Dokter membuat pria tua itu tertidur lelap bahkan mengeluarkan suara dengkuran kecil.
''Tunggu sebentar lagi, Dad. Wanita bernama Dona itu pasti akan segera diketemukan dan aku pastikan dia akan di bawa ke sini, menerima maaf dari Daddy, agar Daddy bisa pergi dengan tenang.''
''Maaf atas semua sumpah serapah yang pernah aku ucapkan, ternyata aku sama sekali tidak tega melihat Daddy tersiksa seperti ini,'' jawab Daniel lembut.
Richard yang sedang terpejam pun seketika mengerutkan kening dengan buliran air mata yang tiba-tiba jatuh dari ujung pelupuk mata keriputnya, seolah dia mendengar apa yang dikatakan oleh putranya itu.
Sepertinya, mau tidak mau malam ini dia akan menginap di rumah itu, dengan berat hati dia akan meninggalkan Mikaila di rumahnya sendiri.
Daniel nampak merogoh saku celananya lalu meraih ponsel dan menelpon sang istri.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara ponsel yang belum di angkat.
__ADS_1
📞 ''Halo, sayang.'' Sapa Daniel sesaat setelah istrinya itu mengangkat telpon.
📞 ''Iya, sayang. Ada apa?''
📞 ''Hmm ... sayang. Sepertinya malam ini aku gak bisa pulang ke rumah.''
📞 ''Lho ... kenapa? apa kamu menginap di luar? sama wanita? ko kamu tega banget sih, hiks ...'' Mika memberondongi suaminya dengan pertanyaan yang tidak masuk akal.
📞 ''Ha ... ha ... ha ...! Ngaco kamu, pertanyaan kamu itu gak ada yang masuk akal tau, ngaco semua."
📞 ''Terus ...?''
📞 "Keadaan Daddy semakin memprihatinkan, sayang, dan sendirian di rumah, mau tidak mau aku harus menemani dia di sini,'' jawab Daniel menjelaskan.
📞 ''Ya udah aku ikut ke sana, aku gak mau di tinggal di rumah sendirian,'' rengek Mika.
📞 ''Hmm ...'' Daniel menghela napas panjang.
Semenjak mengandung istrinya itu memang menjadi lebih manja, dan tidak mau di tinggal kecuali untuk berangkat ke kantor.
📞 ''Sayang ..? kenapa diam aja?''
📞 '' Baiklah, aku jemput kamu sekarang, ya."
Daniel mengakhiri percakapannya lalu menutup telpon.
Sebelum Dia keluar dari dalam kamar Daniel pun nampak kembali menatap wajah ayahnya itu.
"Aku pergi dulu, Dad. Gak akan lama, aku hanya akan menjemput istriku ke sini."
Ucap Daniel lalu bangkit dan benar-benar keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀