Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Bermain Kuda-kudaan


__ADS_3

Blug ...


Arman menutup pintu keras, merasa kesal karena bosnya itu datang di waktu yang tidak tepat, di saat senjata tajamnya mulai berdiri, dan di saat hasr*tnya mulai naik kepermukaan, Daniel datang begitu saja meluluh lantahkan pertarungan yang baru saja akan di mulai, sungguh Arman merasa kesal bukan kepalang.


Ceklek ...


Pintu pun kembali dibuka, Arman keluar bersama Lusi yang sudah memakai kimono handuk berwarna putih. Wajah Lusi terlihat memerah sedangkan Arman menatap tajam wajah Daniel, ingin rasanya dia menghantam wajah laki-laki itu, tapi apalah daya, dia hanya bisa memendam keinginannya itu dalam-dalam.


''Aduuuhhh ... pengantin baru, gak puas-puas malam pertamanya, Ha ... ha ... ha ...'' Daniel meledek dan tertawa renyah.


''Kurang ajar, gangguin aja. Heuh ...'' jawab Arman kesal.


''Ada apa kamu mendadak kemari? bukannya aku udah kirim pesan sama kamu tadi, aku gak bisa masuk kantor,'' Lusi ikut bicara kesal.


''Iya, kamu emang kirim pesan. Tapi kamu bilang bahwa suami kamu ini sakit, tapi nyatanya dia sehat walafiat, malahan kalian sedang enak-enak main kuda-kudaan,'' jawab Daniel duduk di kursi ruang tamu meski belum dipersilahkan oleh pemilik rumah.


''Ya ... Itu ... Anu ... Alasan ...'' jawab Lusi terbata-bata.


''Ha ... ha ... ha ...! Sudah jangan si bahas lagi, aku maklumi ko, kalian masih pengantin baru, lagi enak-enaknya anu-anu, tapi lain kali pintu rumah jangan lupa di kunci, untung aja aku yang masuk, kalau orang lain gimana?''


Lusi dan Arman terdiam merasa malu sebenarnya. Karena apa yang dia katakan memanglah benar adanya, salah mereka sendiri tidak mengunci pintu, tapi awalnya mereka memang tidak berniat melakukan anu-anu seperti yang dikatakan Daniel tadi.


''Sekarang katakan, ada perlu apa kamu datang ke sini?'' tanya Arman duduk di kursi dan di susul oleh istrinya kemudian.


''Hmm ... Begini Arman, ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu. Ini tentang istrimu ini.''


''Ya, aku tau apa yang ingin kamu katakan,'' jawab Arman sudah dapat menebak.


''Nah, coba katakan, apa yang kamu tau itu?''


''Tentang pengangkatan istriku ini jadi wakil Direktur 'kan?''


''Pintar ...! Ada lagi.''


''Apa ...?'' jawab Arman datar.


''Kamu gak usah merasa cemburu sama aku, dia itu sudah aku anggap adikku sendiri, dan aku juga sudah punya istri yang sangat aku cintai, jadi buang jauh-jauh perasaan cemburu kamu itu, mengerti ...?'' ucap Daniel membuat wajah Arman memerah seketika.

__ADS_1


''Apaan ... Siapa yang cemburu? Nggak ko ...'' jawab Arman merasa malu.


''Ya syukur kalau kamu gak merasa seperti itu, aku hanya mengingatkan aja. O iya ... Arman. Eu ... Soal pengangkatan Lusi jadi wakil Direktur, gimana menurut kamu? aku akan menggagalkan hal itu jika kamu merasa keberatan.''


''Jangan ...! jangan di gagalkan, aku gak keberatan sama sekali. Beneran ... Aku sudah mengizinkan istriku untuk terus bekerja, aku egois dan tidak memikirkan perasaan dia,'' Arman menunduk lesu.


''Syukurlah ... Aku lega sekali mendengarnya, posisi itu memang cocok untuk dia, selain karena Lusi anggota keluarga kami, pendidikan dan kemampuan Lusi cukup bagus dan aku yakin dia akan bekerja dengan baik.''


''He ... he ... he ...'' Lusi tertawa tersipu malu.


''Ya sudah, apa yang ingin aku bicarakan sama kalian sudah aku katakan semuanya, aku pamit sekarang ya. Hari ini kamu boleh libur, tapi ingat, besok kamu harus masuk tepat waktu. Oke ...!'' ucap Daniel, bangkit dan berpamitan.


''Oke ... Makasih udah nyempetin datang untuk meluruskan hal ini, ya ... meskipun kamu datang di waktu yang kurang tepat,'' jawab Lusi ikut berdiri.


''Aku pamit, kalian silahkan lanjutkan main kuda-kudaannya. Apa kamu butuh obat kuat yang kemarin aku kasih? kalau iya, nanti aku pesankan, mau ...?'' ledek Daniel mulai berjalan keluar.


''Ish ... dari mana kamu dapat obat seperti itu? kurang ajar, istriku sampai gak bisa jalan gara-gara aku minum obat sialan itu,'' jawab Arman kesal.


''Ha ... Ha ... Ha ...! masih mau ...?"


"Nggak, udah cepat sana pergi," Lusi mendorong tubuh Daniel sampai benar-benar keluar dari dalam rumah.


Lusi segera menutup pintu rumah dan menguncinya, dia tidak ingin kejadian tadi terulang lagi, Lusi bahkan berkali-kali memastikan bahwa pintu benar-benar terkunci rapat.


''Sayaaaaang ...'' Arman memanggil dari dalam kamar dengan suara manja.


''Apa ...?'' jawab Lusi datar, berdiri di depan pintu kamar.


''Ehem ... mau lanjutin nggak main-main kuda-kudaan nya?'' rengek Arman mengedipkan satu mata genitnya.


Lusi tersenyum senang, dia langsung membuka sendiri handuk kimono yang tadi dia pakai untuk menutup tubuh sek*inya itu, dan seketika itu juga Lusi langsung menyambar tubuh kekar suaminya buas.


''Pelan-pelan, sayang.'' Lirih Arman.


''Waaah ... Sosis kesayangan aku,'' ucap Lusi dengan mata yang berbinar.


Seketika itu juga, Lusi langsung menyambar benda kesayangannya itu buas.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Sementara itu, Daniel yang hendak pergi ke kantor seketika memutar arah dan kembali ke rumah. Melihat Arman dan Lusi dalam posisi siap tempur, membuat h*srat yang tersembunyi di dalam diri seorang Daniel ikut terbangun'kan.


''Arman sialan, melihat dia seperti itu membuat aku ingin melakukannya juga. Akh ... Masih pagi udah keringat aja,'' gerutu Daniel seraya menyetir mobil.


Akhirnya dia pun sampai di rumahnya, perlahan memasuki halaman dan berhenti tepat di depan teras rumahnya.


Mikaila yang memang sedang menyiram tanaman dihalaman rumah nampak menatap mobil suaminya dengan tatapan heran, dengan tangan yang memegang slang air dan satu tangan lainnya memegangi perut besarnya.


'Lho, bukannya baru aja berangkat, ko udah balik lagi si?' (Batin Mika merasa heran)


Ceklek ...


Blug ...


Daniel membuka pintu mobil lalu menutupnya dengan tidak sabar.


''Sayang ...? ko udah pulang? kamu 'kan baru aja berangkat? ada apa? apa ada masalah?'' tanya Mika merasa heran.


''Betul, sayang. Ada masalah ...!'' Daniel berjalan dengan tergesa-gesa.


''Masalah apa? kamu ini, bikin kaget aja sih?''


Tanpa basa-basi Daniel segera menggendong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam rumah, tidak peduli jika bobot sang istri yang sedang mengandung mencapai 60kg.


''Mas ... Mas Daniel? ada apa sebenarnya?'' Mika semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti.


''Sebentar aja, sayang. Aku janji tidak akan lama.''


''Lama apanya?''


''Anu ... Udah kamu cukup buka kedua kaki kamu, aku ingin nengok bayi kita di dalam sana, dia pasti merindukan aku karena sudah beberapa hari ini aku menengok dia.''


Plak ...


Daniel langsung mendapatkan tamparan di punggungnya, Mika yang awalnya tidak mengerti seketika tertawa lepas, dan pasrah saat Daniel suaminya itu membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2