Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Di Siram Air Garam


__ADS_3

''Kalau begitu kamu pergi saja, pergi ke tempat dimana kamu tidak bisa melihat aku lagi, hanya itu caranya, agar kita bisa saling melupakan,'' lirih Mika dengan buliran air mata, yang perlahan mulai berjatuhan.


Daniel terhenyak, dia tidak menyangka kalau Mika akan mengatakan hal itu, ucapannya benar-benar telah manambah rasa sakit di dalam hatinya, seperti luka sayatan yang disiram oleh air garam, perih dan kecewa itulah yang dirasakan seorang Daniel saat ini.


Tidak terasa, pelupuk matanya kini telah penuh dengan genangan air mata yang telah siap untuk berjatuhan, lalu sedetik kemudian, air mata itu pun turun, begitu derasnya meski tanpa mengeluarkan suara apapun, dia pun menatap lekat wajah Mikaila, wanita yang telah dia cintai dengan sepenuh hati.


''Baik, jika memang itu yang kamu inginkan. Aku akan pergi, agar kita bisa benar-benar saling melupakan satu sama lain, tapi ingat, aku yakin, suatu saat nanti, kamu pasti akan mencari aku lagi, karena aku tahu pasti, bahwa, hanya aku laki-laki yang kamu cintai,'' ucap Daniel, dengan nada yang bergetar, menahan rasa sakit, lalu pergi begitu saja.


Mika tertegun seketika, lututnya terasa bergetar, dengan tangan yang mengeluarkan keringat dingin, perih sebenarnya dia mendengar semua ucapan yang baru saja di katakan oleh Daniel, hingga tanpa sadar, air matanya terus berjatuhan, semakin deras, hingga wajah cantiknya kini benar-benar basah air mata kesedihan.


''Kamu mau kemana, Daniel?'' teriak Lusi, menatap punggung Daniel yang perlahan berjalan menjauh.


''Aku mau pergi ke suatu tempat, dimana aku tidak bisa melihat dia lagi,'' Daniel menjawab dengan tanpa menoleh sedikitpun.


''Lalu kami pulangnya gimana?''


''Terserah, aku gak peduli ...!''


Daniel benar-benar keluar dari dalam Vila, berjalan menuju mobil, lalu masuk kedalamnya, dan sekejap kemudian, mobil pun melaju kencang meninggalkan halaman.


Lusi menatap wajah Mikaila dengan tatapan nanar penuh penyesalan, perkataan yang baru saja dia katakan, benar-benar telah menyentuh titik terdalam di hati seorang Daniel, sesaat, dia pun menyesal dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


''Maaf, ya. Aku tidak menyangka kalau ucapan aku akan benar-benar membuat dia sakit hati,'' ucap Lusi.

__ADS_1


''Nggak apa-apa ko, apa yang kamu ucapkan semuanya memang benar, hanya saja, mungkin kamu mengatakannya di situasi yang kurang tepat,'' jawab Mika, seraya menyeka buliran air mata di pipinya.


''Sekali lagi aku minta maaf, aku gak bermaksud untuk membuat hubungan kalian semakin memanas seperti ini, seharusnya aku lebih bisa menahan diri lagi tadi, untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan percintaan kalian.''


Mika hanya mengangguk pelan dengan senyum yang sedikit di paksakan, hatinya terasa begitu perih kini, jiwanya pun terasa begitu letih, letih dengan takdir hidup yang saat ini dia jalani, terjebak di antara cinta yang tidak mungkin bisa menyatu, tembok tinggi yang menjadi penghalang bagi cintanya seolah kokoh berdiri.


Apakah dia benar-benar sanggup mengubur rasa cinta ini? dan apakah dia benar-benar siap hidup tanpa kehadiran seorang Daniel? selama ini, dia sudah mencoba dan ternyata usahanya itu gagal, apakah dia harus berusaha lebih keras lagi dalam melupakan sosok laki-laki yang telah menemani hari-harinya selama 7 tahun ini? berusaha membuang jauh-jauh rasa cinta itu, dan menghapus setiap kenangan yang pernah terukir di antara dia dan pria yang kini telah berstatus sebagai anak tirinya.


Mika kembali menyeka air matanya, menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan, mencoba menata perasaannya yang saat ini sedang dalam keadaan kacau.


"Sekarang, kita harus ngapain? Dia sudah benar-benar meninggalkan kita, terus kita pulangnya gimana?" lirih Lusi pelan.


"Biar nanti aku nelpon Mas Richard, aku akan meminta dia untuk mengirimkan supir ke sini," jawab Mika dengan suara yang sedikit berat.


Mika duduk di kursi itu lagi, kakinya benar-benar sudah tidak dapat lagi menopang berat tubuhnya, beban yang saat ini menghimpit dadanya, bagai menghancurkan pertahanan terakhir di dalam jiwanya.


Namun, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, dirinya merasa menyesal, menyesal karena telah mengatakan hal itu, hal yang benar-benar membuat Daniel sakit hati, dan tentu saja, membuat laki-laki yang telah tulus mencintainya selama ini berniat pergi. Sungguh hati seorang Mika di landa sebuah dilema.


Setelah puas larut dalam lamunannya, dia pun meraih ponsel dari dalam tas kecil miliknya, lalu menelpon sang suami, dan meminta dia untuk menjemput dirinya ke Vila.


🌹🌹


Lusi dan Mika turun dari dalam mobil, dua jam di perjalanan membuat keduanya merasa benar-benar kelelahan, Mika pun berjalan gontai masuk ke dalam rumah besar bak istana miliknya.

__ADS_1


Hampa, itulah yang dirasakan oleh seorang Mika, berada di rumah itu membuatnya merasa benar-benar kesepian.


''Aku langsung ke kamar, tubuh aku lelah sekali, ingin segera beristirahat" ucap Lusi, sesaat setelah dia memasuki rumah.


Mika hanya mengangguk pelan dengan senyum yang sedikit di paksakan.


Keduanya pun berpisah di lantai dasar, Lusi masuk ke kamarnya yang ada di lantai satu, sementara Mika, dia memasuki lift untuk naik ke lantai 4.


Tut ...


Lift perlahan naik, dengan suara gemuruh yang sedikit terdengar, dan beberapa detik kemudian, lift pun berhenti dan terbuka seketika itu juga, Mika yang terlihat sedikit melamun, mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift dengan sedikit menunduk melayangkan tatapan kosong.


Perlahan dia pun mengangkat kepalanya, sesaat setelah dia memasuki ruangan dimana kamarnya seharusnya berada, dan menatap sekeliling, namun, pandangannya seketika terkejut, karena ruangan itu terlihat begitu berbeda. Dia pun termenung sejenak lalu sesaat kemudian, dia pun tersadar bahwa, sebenarnya dia sedang berada di lantai tiga, bukan di lantai empat tempat dimana seharusnya dia berada.


'Kenapa aku bisa berakhir di sini? dasar bodoh,' ( Batin Mika )


Dia pun mengusap wajahnya secara kasar, lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam lift, namun, langkahnya seketika berhenti, dan kembali berbalik, kakinya melangkah ke arah pintu yang tertutup rapat yang terletak di pojok ruangan.


Dengan tangan yang terlihat gemetar, dia pun membuka pintu itu pelan.


Ceklek ...


Mika membuka pintu, dan terkejut seketika dengan apa yang dia lihat di dalamnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2