Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Sumpah Serapah


__ADS_3

Ceklek ...


Dona membuka pintu ruangan dimana Richard berada, membukanya dengan sedikit kasar dan tanpa mengetuk terlebih dahulu, membuat Richard dan Daniel seketika dan menoleh ke arah pintu.


''Dona ...'' lirih Richard tersenyum.


Baru saja Richard memikirkan wanita itu semalaman sampai tidak bisa tidur, kini wanita yang dia pikirkan ada di hadapannya membuat Richard merasa senang.


Dona menatap ke arah Richard dengan tersenyum sinis, berjalan mendekati ranjang dengan tatapan tajam dan wajah yang terlihat masam.


''Tau dari mana kalau Om di rawat di sini?'' tanya Richard tersenyum sumringah.


''Eu ... Anu Dad, tadi aku sempat berpapasan dengan dia di koridor, tapi, aku sama sekali tidak memberitahukan apapun sama dia,'' ucap Daniel datar.


''Aku memang sengaja mengikuti dia, dan akhirnya sampai di sini.'' Jawab Dona datar.


''Tunggu, kalian silahkan bicara, aku tunggu di luar,'' ucap Daniel, menyela lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


Sepeninggal Daniel, kini tinggallah Dona berdiri tepat di samping Richard, masih dengan wajah yang terlihat masam dan bahkan tersenyum sinis menatap wajah ayah dari bayi yang dikandungnya itu.


''Perut kamu sudah membesar, Dona.''


''Memangnya kenapa kalau perut aku besar seperti ini? kandungan aku sudah menginjak 6 bulan, tapi Om jangan khawatir, aku kesini bukan untuk meminta pertanggung jawaban dari Om lagi, aku akan membesarkan anak ini sendirian,'' jawab Dona ketus.


''Hmm ... Om minta maaf kalau ucapan Om waktu itu menyinggung perasaan kamu, Dona.''


''Bukan hanya menyinggung, tapi Om juga menjatuhkan harga diri aku, meskipun aku sadar, aku memang tidak punya harga diri, dan aku wanita rendahan, tapi apa yang Om lakukan padaku seolah menjatuhkan aku ke dalam kubangan lumpur. Apa Om tau gimana rasanya? hah ...'' teriak Dona.


''Maafkan Om, Dona. Om sungguh minta maaf,'' lirih Richard lemah.


''Apa ...? Maaf ...? Ha ... ha ... ha ...! Memangnya maaf Om dapat membuat rasa sakit di hati aku hilang? hah ...? Tidak, Om ... Tidak ...! Rasa sakit di hati aku gak akan pernah hilang,'' ketus Dona dengan suara lantang.


Richard terdiam, dadanya terasa sesak, bahkan kepalanya kini terasa begitu pusing, dia tidak menyangka bahwa, apa yang dia katakan waktu itu benar-benar melukai hati Dona.


''Dona ...! sekali lagi Om minta maaf.''


''Nggak, aku gak akan pernah memaafkan kamu Om Richard yang terhormat, sampai aku mati sekalipun, aku hanya bisa berharap, semoga kamu membusuk di neraka paling dalam,'' ketus Dona dengan sumpah serapahnya.


Dada Richard pun semakin merasa sesak, dia hendak mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan benar-benar meminta maaf, namun, segera di tepis oleh Dona dengan kasar.


Setelah puas mengatakan semua yang ada di dalam hatinya, Dona pun keluar dari dalam kamar dengan perasaan puas, bibirnya nampak tersenyum sinis.


Ceklek ...

__ADS_1


Dona membuka pintu kamar lalu keluar, Daniel yang memang menunggu di luar kamar pun segera masuk, tanpa menoleh ke arah Dona ataupun menyapanya.


Di dalam kamar, Richard nampak melamun, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, matanya di penuhi buliran air mata yang siap untuk di turunkan.


''Dad, apa Daddy baik-baik saja?'' tanya Daniel merasa khawatir.


''Daddy tidak baik-baik saja, Daniel. Sudah terlalu banyak orang yang Daddy sakiti, mungkin benar apa kata Dona, lebih baik Daddy mati dan membusuk di neraka,'' jawab Richard.


''Dad ...?''


''Kamu bisa memaafkan Daddy karena kamu putra Daddy, sementara Dona, dia orang lain, apa yang telah Daddy lakukan sama dia memang sudah sangat keterlaluan.''


''Hmm ... Bolehkan aku bertanya sesuatu sama Daddy?''


''Apa, katakan saja.''


''Apa bayi yang sedang di kandung oleh wanita itu adalah darah daging Daddy ...?''


Richard menganggukkan kepalanya.


''Hmm ... Jadi begitu, lalu mengapa Daddy tidak menikah saja sama dia? mungkin dengan begitu Daddy tidak akan merasa kesepian lagi, apalagi Dona sedang mengandung.''


''Seharusnya Daddy melakukan itu, tapi-''


''Akh ... sudahlah, jangan di bahas lagi, Daddy lelah, mau istirahat. Sebaiknya kamu pergi ke kantor, handle semua pekerjaan Daddy, mulai sekarang Daddy serahkan urusan pekerjaan sama kamu. Tapi ingat, bukan berarti Daddy menyerahkan perusahaan sama kamu, ya. Perusahaan itu masih milik Daddy ...'' Richard dengan penuh penekanan.


''Ha ... ha ... ha ... Daddy ini, sedang sakit kayak gini masih saja mikirin perusahaan. Iya-iya ... Aku akan mengurus perusahaan sampai Daddy sembuh, tapi setelah Daddy sembuh nanti, Daddy harus kembali ke sana, karena aku tidak sehebat Daddy dalam mengelola perusahaan, Oke ...''


''Iya ... Sudah cepat sana pergi ...!''


''Tapi beneran gak apa-apa kalau Daddy aku tinggal sendiri?''


''Gak apa-apa, Daddy sudah biasa sendiri.''


''Baiklah, kalau urusan di kantor sudah selesai, aku akan kembali ke sini,'' jawab Daniel sebelum berbalik dan hendak pergi.


''Tunggu, Daniel ...!''


''Apa lagi?''


''Sampaikan permintaan maaf Daddy sama istrimu,'' pinta Richard dengan sedikit malu-malu.


''Heuh ... enak aja minta aku menyampaikan maaf Daddy. Kalau Daddy mau minta maaf, ngomong langsung sama orangnya,'' ketus Daniel lalu benar-benar berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Richard pun tersenyum, entah mengapa, bisa bercanda seperti itu dengan putranya membuat hati Richard merasa senang, putranya yang dahulu pernah mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mengakui dirinya lagi sebagai seorang ayah seakan telah kembali.


Putra yang dahulu pernah dia sakiti sedemikian rupa, kini bersikap seolah dia telah memaafkan dirinya, sungguh hati Richard dipenuhi rasa syukur, dan berharap agar dia bisa cepat sembuh dan menebus semua kesalahan seperti yang dikatakan oleh putranya tersebut.


'Terima kasih, Daniel. Meskipun kamu tidak benar-benar mengatakan bahwa kamu memaafkan Daddy, tapi Daddy yakin bahwa kamu sudah memaafkan semua kesalahan yang telah Daddy perbuatan,' ( Batin Richard dengan mata yang menatap punggung sang putra yang kini perlahan berjalan keluar dari dalam kamar)


🍀🍀🍀


Lusiana menggerutu kesal, seharusnya hari ini dia masih dalam masa cuti nikah, namun, karena bos besarnya sedang dalam keadaan sakit keras, dan Daniel merasa kewalahan dalam mengelola perusahaan, terpaksa dia pun mengikuti perintah Daniel untuk memangkas waktu cuti yang seharusnya dia nikmati bersama sang suami.


Saat ini, Lusi sedang berjibaku dengan setumpuk kertas yang harus dia periksa, sementara Daniel masih belum juga datang, membuat Lusiana merasa semakin kesal sebenarnya.


''Si Daniel kemana si? sudah siang ko belum datang juga,'' gerutu Lusi kesal.


Tidak lama kemudian, orang yang sedang dia bicarakan pun datang, Daniel nampak berjalan menghampiri dengan tersenyum.


''Sorry, Lus. Aku harus memangkas waktu bulan madu kamu. Aku benar-benar kewalahan mengurus perusahaan sendiri, aku harap kamu tidak marah,'' ucap Daniel.


''Seharusnya saat ini aku sedang menikmati masa-masa bahagia sebagai pengantin baru, lha ... ini malah di sodorin setumpuk pekerjaan,'' jawab Lusi ketus.


''Iya maaf, Luisana. O iya ... Gimana obat kuat yang aku berikan? mantap 'kan?''


''Kurang ajar kamu, selangk*ngan aku sampai sakit gara-gara dia minum obat itu.''


''Ha ... ha ... ha ...! tapi enak 'kan? suamimu jadi tahan lama? Nanti aku kirimkan lagi deh obat itu sama suami kamu.''


Daniel membuka pintu ruangannya.


''Tunggu, Daniel ...!''


''Apa ...?''


''Makasih atas hadiahnya.''


''Hadiah yang mana? obat kuat itu atau mobil mewah yang aku berikan?'' tanya Daniel berdiri di depan pintu.


''Dua-duanya, aku ucapkan terima kasih.''


''Iya, sama-sama. Kalau obat kuatnya masih kurang, nanti aku belikan lagi, ya ... ha ... ha ... ha ...!'' Tawa Daniel lalu masuk ke dalam ruangan.


''Kurang ajar ...!''


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2