
''Ha ... ha ... ha ...! Sejak kapan kamu cemburu sama Daniel? bukannya kalian sahabatan, ya?'' tawa Lusi lalu menarik selimut yang menutupi wajah Arman.
''Gak lucu?'' ketus Arman, kembali menutup wajahnya.
''Sayang ...?'' rengek Lusi.
Arman diam tidak menjawab, dirinya benar-benar merasakan sesuatu yang panas kini terasa membakar hati bahkan seluruh tubuh polosnya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, baru kali ini dia merasakan perasaan seperti ini. Cemburu ...? ya dia cemburu, dan rasa itu benar-benar terasa menyiksa hati Arman.
Lusi hendak membujuk suaminya itu agar tidak lagi merajuk, namun, ponselnya tiba-tiba saja berdering, membuatnya sontak mengangkat telpon dan mengurungkan niatnya.
📞 ''Halo ...'' jawab Lusi mengangkat telpon.
📞 ''Kamu dimana? udah jam berapa ini? kita ada meeting dadakan lho ini.''
📞 ''Sorry ... Aku bangun kesiangan, oke ... aku berangkat sekarang juga.''
Lusi segera menutup telpon, lalu kembali menatap wajah sang suami yang masih tertutup selimut dengan perasaan berat sebenarnya, untuk saat ini wanita bernama Lusiana itu belum bisa memilih antara suami atau pekerjaan.
Menjadi wanita karir adalah impiannya sedari dulu, bagi Lusiana pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang ingin dia jalani secara bersamaan.
''Sayang, aku minta maaf. Aku harus berangkat sekarang, nanti kita bicarakan lagi masalah ini, oke ...?'' Lusi mengecup pucuk kepala suaminya secara tergesa-gesa lalu benar-benar pergi ke kantor, membuat Arman semakin merasa kecewa.
'Kamu jahat Lusiana ... hiks ...' ( Batin Arman )
🍀🍀
Di kantor.
''Apa ...?''
Lusi terkejut seketika, mendengar bahwa dirinya akan menggantikan posisi Daniel, sementara Daniel akan menggantikan posisi ayahnya sebagai Presiden Direktur.
''Kenapa terkejut? seharusnya kamu senang dong,'' tanya Arman merasa heran.
'Gimana mau senang, suamiku memintaku untuk berhenti bekerja, sementara ada di posisi itu adalah sesuatu yang sudah aku impikan sejak dulu, berada di puncak karir, aku sungguh menginginkan ada di sana,' (Batin Lusi merasa dilema)
''Hey, malah ngelamun lagi. Lusiana ...?'' Daniel menaikan suaranya.
__ADS_1
''Iya ... Eu ... Anu ...''
''Anu, apa? aku yakin kamu ada masalah? apa karena percakapannya kamu dengan Daddy semalam?''
''Tidak, bukan karena itu. Tapi masalah lain?'' jawab Lusi menunduk lesu, membayangkan sosok Arman.
''Apa karena suamimu?'' tanya Daniel membuat Lasi terkejut.
''Ko tau?''
''Nebak aja. Memangnya suamimu kenapa?''
''Dia meminta aku berhenti bekerja. Dan sepertinya dia cemburu sama kamu.'' Jawab Lusi sedikit ragu-ragu untuk mengatakan hal itu sebenarnya.
''Apa ...? cemburu ...? sejak kapan dia merasa cemburu seperti itu sama aku, lucu banget si ... ha ... ha ... ha ...'' Daniel tertawa renyah.
''Aku juga gak tau kenapa dia tiba-tiba seperti ini. Aku benar-benar bingung, Daniel. Aku gak tau harus gimana lagi, sepertinya aku gak bisa memilih antara menjadi istri seutuhnya dan menjadi wanita karir dan sukses, berada di puncak karir adalah impian aku sejak lama.'' Lusi mencurahkan isi hatinya.
''Hmm ... Memang sulit sih, jika aku jadi Arman pun aku pasti akan meminta istriku untuk berhenti bekerja, tapi, jika aku menjadi kamu aku pun akan menghadapi pilihan yang sulit, antara impian yang sudah di depan mata, atau menjalani kewajiban sebagai seorang istri.''
''Terus aku harus gimana?''
Lusi diam mematung, dirinya benar-benar dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, antara menggantikan posisi Daniel sebagai wakil Direktur atau menjadi istri seutuhnya untuk laki-laki bermana Amran.
Akh ... Lusi menarik napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas kursi kerjanya.
'*Apa yang harus aku lakukan, Arman ...' ( Batin Lusi )
🍀🍀*
Ternyata kemarahan Arman berkepanjangan, malam hari saat Lusi pulang dari kantor, suaminya itu tidak ada di rumah, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan dari semenjak mereka menikah.
''Arman kemana? tumben banget dia gak ada di rumah, apa dia masih si cafe.'' Gumam Lusi duduk di kursi ruang tamu.
Dia pun meraih ponsel dan hendak menelpon suaminya.
Tut ... Tut ... Tut ...
__ADS_1
Suara telepon yang tidak di angkat.
''Duh, kenapa telpon aku gak di angkat sih?'' gerutu Lusi merasa kesal.
Karena tubuhnya benar-benar merasa lelah, Lusi pun seketika tertidur pulas di atas kursi di ruang tamu.
Empat jam kemudian, tepatnya pukul 24.00 pintu rumahnya di gedor keras membuat Lusi yang sedang tertidur pun seketika membuka mata merasa terkejut.
Trok ... Trok ... Trok ...
Suara pintu yang di ketuk keras.
''Duh, siapa si malam-malam gini bertamu,'' gerutu Lusi mencoba membuka mata seketika.
Bangkit dan berdiri meski merasa malas sebenarnya, Lusi pun berjalan ke arah pintu dengan tubuh yang sedikit sempoyongan menahan rasa kantuk.
Ceklek ...
Lusi membuka pintu dan seketika terkejut mendapati suaminya itu masuk ke dalam rumah dengan tubuh terlihat sempoyongan bahkan dari mulut suaminya itu tercium bau alkohol.
''Arman ...? Apa-apaan ini? kamu mabuk?'' Lusi membulatkan bola matanya seketika.
''Sayang ... Istriku ... Istri cantikku ... Istri se*si aku. Kenapa kamu sudah ada di rumah? bukankah seharusnya kamu pergi ke kantor?'' racau Arman dengan tubuh yang hampir roboh, membuat Lusiana segera menopang dan memapahnya untuk duduk di kursi.
''Gila kamu, kamu benar-benar mabuk.'' Lusi merasa kesal.
Dengan setengah terpejam, Arman menatap wajah istrinya. Lalu kembali berbicara dengan nada suara yang sedikit diliukkan layaknya orang yang sedang mabuk berat.
''Lusiana ... Sayang akuuuuu ... Tidak bisakah kamu menuruti keinginan suamimu ini, hah ... Aku hanya merasa kasihan melihat kamu bekerja keras dan kelelahan. Selain itu, aku ingin segera memiliki momongan, aku ingin segera punya anak Lusi, aku ingin punya bayi lucu dan cantik seperti kamu, sa-yaaaaaang ...''
Bruk ...
Tubuh Arman ambruk tidak sadarkan diri di pangkuan Lusiana yang saat ini hanya bisa mematung menatap ulah sang suami yang baru kali ini dia saksikan, mabuk berat dan bahkan sampai pulang tengah malam, benar-benar sesuatu yang tidak pernah Arman lakukan sebenarnya.
Lusi menatap wajah suaminya lekat, menyaksikan suaminya seperti ini benar-benar membuat hati Lusiana semakin merasakan dilema, dan Lusi masih belum menentukan pilihan.
Apakah dia akan terus bekerja dan menjadi wakil Direktur. Atau menjadi istri seutuhnya dan melupakan impiannya untuk berada di puncak karir dan sukses di usianya yang masih muda.
__ADS_1
'Kenapa kamu sampai seperti ini, sayang? Melihat kamu kayak gini semakin membuat aku merasa bersalah, karena aku masih belum rela melepaskan sesuatu yang selama ini aku impikan dan saat ini sudah benar-benar berada di depan mata. Aku bingung sekali, Arman ...' ( Batin Lusi merasa dilema )
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀