Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Pekerjaan Rumah


__ADS_3

Lusi menatap tubuh Arman yang perlahan masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dengan sedikit kasar.


Blug ...


Suara pintu yang di tutup.


Lusi pun menghela napas panjang, bagaimana caranya agar dia bisa meredakan amarah sang suami yang kini seolah semakin menjadi-jadi.


Lusi nampak terdiam sejenak seolah sedang berfikir, setelah itu dia pun meraih ponsel dan mengirimkan pesan, kepada Daniel. Entah pesan apa yang dia kirimkan, karena setelah dia mengirimkan pesan tersebut Lusi kini berjalan ke arah dapur.


Sementara itu, Arman yang saat ini sedang mengurung diri di dalam kamar, nampak menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, meringkuk dengan mata terpejam namun, tidak tertidur, pikirannya melayang entah kemana.


'Apa yang telah aku lakukan? kenapa aku tega sekali bersikap seperti ini sama dia, aku sungguh tidak punya perasaan,' ( Batin Arman merasa menyesal )


Hampir satu jam Arman berada di dalam kamar, dia bahkan tidak tau apa yang sedang dilakukan oleh istrinya di luar sana. Sampai akhirnya Arman mencium aroma masakan yang tercium begitu nikmat menusuk hidung.


Sontak Arman pun bangkit dan mendengus'kan hidungnya.


''Siapa yang lagi masak?'' gumam Arman duduk di atas kasur.


Karena merasa penasaran, Arman pun turun dari atas kasur, lalu keluar dari dalam kamar.


Ceklek ...


Pintu kamar di buka pelan. Perlahan Arman mengeluarkan kepalanya dari balik pintu dan menatap sekeliling dengan hidupnya terus mendengus mencari sumber bau yang semakin terasa nikmat menusuk hidung dan baunya memang berasal dari dapur rumahnya.


Perlahan tapi pasti Arman mulai keluar dari dalam kamar dengan mengendap-endap seperti kucing yang hendak mencuri ikan. Mata Arman nampak tertuju ke arah pintu dapur yang memang tidak tertutup.


Arman kini berdiri di balik pintu, mengintip dari celah kecil dan mendapati sang istri terlihat sedang memasak sesuatu. Bagian atas tubuh Lusiana hanya berbalut singlet satu tali yang memperlihatkan bagian atas dadanya menyembul berbentuk hati.


Sedangkan bagian bawah tubuh istrinya itu hanya di tutup dengan celana pendek ketat, membuat lekuk bentuk tubuhnya benar-benar terlihat s*kak dan menggoda.


Arman menatap tubuh indah bak gitar spanyol itu, menatapnya lekat dari ujung rambut hingga ujung kaki lalu menelan ludah kasar, baru kemarin malam dia memainkan tubuh istrinya itu sepuasnya, dan saat ini h*srat di dalam jiwanya tiba-tiba terbangun'kan saat menatap bodi aduhai sang istri.


Akhirnya, Arman pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam dapur, meski sebenarnya dia masih merasa malu harus menunjukan batang hidungnya di depan sang istri.


''Ehem ...'' Arman ber'dehem keras, namun Lusi tidak bergeming.

__ADS_1


Arman pun berdiri tepat dibelakang tubuh sang istri lalu meletakkan kepalanya di pundak Lusi bersikap seolah tidak sedang terjadi apapun.


''Lagi ngapain, sayang?'' tanya Arman tatapan matanya mengarah ke arah masakan yang sedang di masak oleh istrinya di atas wajan.


''Kamu gak liat aku lagi apa?'' jawab Lusi datar.


''Aku minta maaf atas kejadian semalam, aku khilaf.'' Lirih Arman mengecup pundak Lusi.


''Hmm ...'' Lusi hanya bergumam pelan.


''Kenapa kamu gak pergi bekerja?'' tanya Arman lagi.


''Sebenarnya kamu maunya gimana? aku ngantor, kamu marah. Aku di rumah kamu masih nanya kenapa?'' Lusi masih dengan nada suara datar, lalu mematikan kompor.


Arman seketika membalikkan tubuh istrinya sehingga mereka kini berdiri saling berhadapan. Arman nampak menatap wajah istrinya lekat, namun, Lusi melakukan hal yang sebaliknya, kini dia memalingkan wajahnya ke arah samping.


''Maafkan aku, sayang. Aku menyesal. Semalam baru pertama kalinya aku merasakan minum Alkohol, sungguh ...'' Lirih Arman.


Arman meletakkan tangannya di kedua sisi pipi Lusi lalu membawa wajah istrinya itu tepat di hadapannya, hingga mau tidak mau Lusi pun kini menatap wajah suaminya.


''Aku lapar, mau makan dulu,'' jawab Lusi tidak menanggapi pertanyaan suaminya.


''Hmm ... Lusiana?'' Arman semakin merasa bersalah kini, sifat istrinya kini benar-benar berubah, membuatnya merasa tidak nyaman sebenarnya.


Lusi benar-benar mengabaikan suaminya, dia memang sengaja melakukan hal itu, mengingat bahwa Arman pasti tidak akan tahan jika dia diamkan, dan Lusi yakin, bahwa hanya dengan bersikap seperti ini hati suaminya akan luluh dan mereka akan segera berbaikan.


Setelah keadaan mereda barulah Lusi akan membicarakan perihal keinginan suaminya secara baik-baik, dan tentunya dengan kepala dingin.


Perlahan Lusi mulai mengurai jarak dia kembali membalikan badannya hingga kini menghadap kompor dan hendak menyiapkan makanan, yang baru saja dia masak.


Arman hanya bisa menatap wajah istrinya lekat, tanpa bisa mengatakan apapun lagi, dan mereka pun makan di meja makan dengan saling mendiamkan satu sama lain.


🍀🍀


Selesai makan, Lusi kini menyibukkan diri dengan berbenah rumah, cuci piring, nyapu, ngepel bahkan mencuci semua pakaian kotor, sesuatu yang jarang sekali dia lakukan sebenarnya, karena selama ini mereka berdua selalu memakai jasa pembantu panggilan yang mereka upah setiap harinya.


''Sayang ...! udah dong, beres-beresnya nanti lagi,'' rengek Arman yang sedari tadi hanya memperhatikan istrinya.

__ADS_1


''Kenapa? bukannya ini yang selama ini kamu inginkan? aku jadi istri seutuhnya, melayani suami dan mengerjakan pekerjaan rumah layaknya istri biasa yang tidak punya kegiatan lain,'' ketus Lusi seraya menjemur pakaian yang baru selesai dia cuci.


Arman terdiam sejenak, merenung dan berfikir sekaligus mencerna perkataan yang baru saja dikatakan oleh istrinya itu.


''Hmm ... sayang. Bukan seperti ini juga maksud aku.''


''Terus apa? apa yang sebenarnya kamu inginkan?'' Lusi mengibaskan keras pakaian yang hendak di jemurnya.


Arman kembali terdiam, sungguh bukan seperti itu maksud dari niatnya meminta Lusi berhenti bekerja.


Lusi kini selesai menjemur pakaian, dia perlahan masuk ke dalam rumah dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.


''Lusiana, sayang ...?'' rengek Arman mengikuti istrinya masuk ke dalam rumah.


''Sayang dengerin dulu penjelasan aku, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Sungguh ...'' Arman kembali merengek manja, membuat Lusi tersenyum diam-diam.


''Lusiana ... Cintaku ... sayangku ...''


Lusi masuk ke dalam kamar, meringkuk di atas kasur dan mengabaikan panggilan Arman yang saat ini mengikuti dirinya ke dalam kamar.


''Aku lelah ingin istirahat, ternyata mengerjakan pekerjaan rumah capek juga, heuh ...'' ucap Lusi menahan tawa sebenarnya.


''Kamu capek? aku pijitin ya, sayang ...'' Arman sigap memijit kaki istrinya lembut.


''Yang bener memijitnya, pelan-pelan.'' Ketus Lusi.


''Iya, sayang. Ini sudah pelan ko.''


''Arman ...?'' panggil Lusi dengan nada suara serius.


''Apa, sayang. Cinta ...''


''Apa kamu masih tetap ingin aku berhenti bekerja?'' tanya Lusi menatap lekat wajah Arman.


Arman pun menghentikan gerakan tangannya seketika, lalu balas menatap wajah Istrinya itu.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2