
Daniel perlahan mengurai pelukan, mundur dua langkah lalu membungkuk seraya mengulurkan satu tangannya, dengan telapak tangan yang di buka.
''Maukah kau berdansa denganku, sayang ...'' pinta Daniel dengan tersenyum.
''Tapi aku gak bisa berdansa, kalau nyanyi aku ahlinya,'' jawab Mika membalas senyuman.
''Hmm ... tunggu sebentar,'' Daniel berjongkok.
''Kamu mau apa?''
''Sepatu kamu buka dulu,'' pinta Daniel membuka sepatu high heels bewarna hitam yang dikenakan oleh Mika dengan tangannya.
Mika mengerutkan keningnya, menatap punggung sang suami yang kini tengah melepaskan sepatu miliknya, setelah selesai melakukan hal itu, Daniel pun kembali berdiri, kali ini dia berdiri tepat di depan Mika, dengan tubuh yang hampir menempel.
''Naikkan kakimu ke atas sepatuku,'' pinta Daniel.
''Hmm baiklah ...''
Mika mengikuti instruksi suaminya, dia meletakan kakinya di atas sepatu hitam yang dikenakan oleh suaminya tersebut.
''Begini ...?'' tanya Mika.
Daniel mengangguk pelan, lalu dia melingkarkan tangan Istrinya itu di lehernya, sementara tangannya memeluk erat pinggang ramping Mikaila, kemudian dansa romantis pun dimulai, diiringi alunan musik biola yang terdengar merdu.
''Siap ...?'' tanya Daniel.
Mika mengangguk seraya tersenyum senang.
Perlahan Daniel mulai menggerakkan kakinya, ke kiri dan kanan, mengikuti alunan music biola yang terdengar merdu.
''Apa kamu suka, sayang?''
Mika mengangguk seraya tersenyum bahagia.
''Makasih atas semua kejutan yang kamu berikan, aku benar-benar senang dan bahagia, rasa jenuh yang aku rasakan hilang sekarang,'' ucap Mika, menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
Masih dengan gerakan dansa yang terlihat pelan namun, begitu senada dengan lantunan music klasik keduanya larut dalam suasana malam yang romantis, membuat hati sepasang suami-istri itu terasa begitu tenang.
Pemain biola yang mengiringi pun nampak menatap sepasang suami-istri itu dengan tatapan iri, dia semakin larut serta menghayati setiap gesekan biola yang dia mainkan.
__ADS_1
Saat mereka sedang larut dalam gerakan dansa romantis mereka itu, tiba-tiba saja perut Daniel berbunyi, membuat Mika mengangkat kepalanya seketika dan menatap wajah sang suami dan sedikit terkekeh.
''Perut kamu bunyi?'' tanya Mika tersenyum lucu.
''He ... he ... he ...'' Daniel hanya tertawa kecil.
''Ya udah kita makan dulu, ya.''
Daniel mengangguk seraya tersenyum.
''Tunggu sebentar di sini.''
Daniel berlari kecil ke tempat dimana sepatu Mika berada, meraih lalu segera berjongkok dan memakaikannya di kaki istrinya tersebut.
''Gak usah, aku bisa pakai sendiri ko ...'' pinta Mika menundukkan kepalanya.
''Udah gak apa-apa, kamu diam aja, aku senang ko ngelakuinnya,'' ucap Daniel, meraih kaki lentik sang istri, lalu memakaikan sepatunya.
''Makasih, sayang ...'' ucap Mika sesaat setelah suaminya itu selesai.
''Sama-sama sayang, sebentar ya, aku telpon Arman dulu, biar dia siapkan makanan spesial buat kita,'' Daniel meraih ponsel dari saku celananya, lalu menelpon Arman.
Setelah itu, dia pun menggandeng tangan sang istri untuk duduk di meja bulat yang sudah terdapat lilin berwarna merah yang sudah menyala, menarik kursi dan meminta istrinya tersebut untuk duduk.
Tidak lama kemudian, Arman pun datang bersama dua Chef yang mambawa hidangan spesial dan langsung di tata rapi di atas meja.
''Wah makanannya banyak sekali ...'' ucap Mika menatap takjub berbagai makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
''Semuanya spesial buat kamu, makan yang banyak ya, biar bayi kita di dalam sana sehat.''
Mika mengangguk senang.
''Makasih, Arman ...'' ucap Daniel.
''Sama-sama, Bos.''
''Oke, kamu boleh turun sekarang,'' ucap Daniel, yang langsung di jawab dengan anggukan oleh kedua Chef dan juga Arman.
Arman pun hendak berbalik, namun, dia mengurungkan niatnya dan kembali berdiri di depan meja.
__ADS_1
''Ada apa lagi?'' tanya Daniel.
''Maaf, bos. Aku hanya ingin bertanya sesuatu, kalau boleh ...''
''Apa, katakan saja.''
''Apa Lusi sudah masuk kerja? telpon aku gak diangkat-angkat soalnya,'' tanya Arman menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
''Kenapa? apa terjadi sesuatu dengan kalian?'' tanya Daniel santai.
''Eu ... Nggak si, aku hanya sedang mengejar dia aja, he ... he ... he ...'' Arman malu-malu.
''Lakukan yang terbaik untuk mengejar dia, kalau bisa aku akan membantumu sebisa aku agar kamu bisa mendapatkan dia, nah kalau bisa langsung nikahi aja sekalian si Lusi itu,'' ucap Daniel penuh percaya diri.
''Wah, makasih banget kalau kamu mau bantu aku untuk dapetin dia, tapi sepertinya dia itu wanita yang tidak gampang ditaklukkan.''
''Gampang, hanya ada satu cara agar kamu bisa mengambil hati dia ...''
''Apa ada cara yang jitu agar dia bisa takluk di dalam pelukanku?'' tanya Arman mengerutkan keningnya.
''Gampang, kamu cukup telan*ang di depan dia, aku yakin dia akan langsung tunduk gitu aja,'' ucap Daniel dengan entengnya, membuat Mika yang sedang mengunyah makanan tersedak dan batuk seketika.
''Uhuk ... Sayang ... Apaan sih, merusak suasana aja, gak lucu tau,'' ucap Mika sedikit kesal.
''Ha ... ha ... ha ... Maaf sayang, lagian dia nanya-nanya mulu.''
''Tapi, bos. Aku sudah melakukan hal yang kamu katakan tadi, tapi dia tetap saja sulit untuk aku taklukkan,'' ucap Arman membuat Mika kembali tersedak.
''Sayang ... minum dulu ...'' Daniel menyodorkan gelas berisi air putih, dan Mika segera menerima dan meminumnya pelan.
''Kamu ini, sudah sama pergi, ganggu dinner orang aja ...'' gerutu Daniel merasa kesal juga akhirnya.
''He ... he ... he ... baik, maaf kalau aku mengganggu makan malam kalian, aku permisi.'
'Duh bikin iri aja si ...' ( Batin Arman )
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Promosi Novel lagi ya reader, jangan Lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian.
__ADS_1