
Menyesal, itulah yang dirasakan oleh Daniel saat ini, seharusnya dia tidak pergi dua tahun yang lalu jika tahu bahwa sang ayah akan mencampakkan Mikaila, dia rela mengalah, pergi jauh, dan mengubur dalam-dalam perasaannya, tapi apa? ayahnya malah menyia-nyiakan wanita yang bernama Mikaila itu, mencampakkannya begitu saja sesaat setelah dirinya pergi.
Jika memang ayahnya tahu semua yang terjadi antara dirinya dengan Mika, kenapa harus menunggu dia pergi dulu baru mencampakkan wanita itu? kenapa tidak dari awal saja dia menyerah dan mengikhlaskan Mika untuk dirinya, mungkin saja, jika hal itu dilakukan dia sudah bahagia dengan wanita itu sekarang. Batin Daniel merasa kesal.
Tut ...
Lift pun berhenti di lantai tiga, dia sengaja mampir terlebih dahulu ke kamarnya karena ingin mengambil sesuatu yang lupa dia bawa waktu itu.
Daniel mulai melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kamar dengan mata yang menatap sekeliling, senyum getir pun sedikit mengembang dari kedua sudut bibirnya, karena sebenarnya, dia sangat merindukan kamar itu, kamar luas yang dia desain sendiri sesuai keinginannya, namun, sepertinya, ini adalah kali terakhir dia berada di kamar itu, membuatnya merasa sedih sebenarnya.
Perlahan dia mulai memasuki kamar yang terlihat masih tertata rapi meski pemiliknya sudah tidak ada lagi di sana, dua tahun di tinggalkan, tidak membuat kamar itu berubah, masih tetap sama, dengan seprei yang sama. Dia pun menatap sekeliling kamar, mencari sesuatu.
Ya ... Dia mencari bingkai poto yang waktu itu sempat dia lempar, beharap masih ada di sana dan belum ada yang membuang, namun, harapannya sia-sia, karena benda itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Akhirnya dia pun hanya duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya secara kasar, merasa menyesal karena telah melempar bingkai foto itu sampai hancur, padahal hanya itu satu-satunya kenangan dirinya dengan Mika yang masih dia punya, karena yang lainnya sudah dia singkirkan dua tahun yang lalu saat hubungan mereka berakhir.
Di luar kamar, tiba-tiba saja terdengar suara pelayan yang sedang membersihkan ruangan, Daniel pun keluar dan menyapa pelayan tersebut.
Sang pelayan yang sedang menyapu lantai menggunakan mesin otomatis pun merasa terkejut, karena tiba-tiba saja melihat Tuan mudanya keluar dari dalam kamar.
''Tuan, Daniel. Kapan anda pulang?'' tanya Pelayan dengan sedikit membungkuk.
''Baru saja, Bi. Ini aku mau langsung pergi lagi,'' jawab Daniel, datar.
Dia pun hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift, namun, langkahnya terhenti seketika dan kembali menatap Pelayan tersebut.
__ADS_1
''O iya, Bi. Apa bibi lihat foto yang di kamar aku? waktu aku tinggalkan bingkainya sudah pecah?''
''Nggak, Tuan. Saya sama sekali tidak pernah melihatnya.''
''Oh, ya sudah, nggak apa-apa ...''
Daniel hendak melangkah, namun lagi-lagi dia mengurungkan niatnya.
''Satu lagi, Bi. Apa bibi tahu kemana Mommy Mika pergi dua tahun yang lalu? Eu ... Maaf, Bi. Seharusnya aku nggak menanyakan hal ini kepada Bibi,'' Daniel pun melanjutkan langkahnya.
''Tunggu, Tuan. Sebenarnya saya tahu tentang kejadian waktu itu, saat Nyonya diseret dan diusir secara paksa oleh Tuan besar.''
''Apa ...? Di seret ...?''
''Daddy sungguh jahat. Ya Tuhan, kamu pasti terluka sekali, Mika,'' Daniel bergumam pelan.
''Tapi, Bi. Apa bibi tahu Mommy dimana sekarang?''
''Tidak, Tuan. Semenjak keluar dari rumah ini, saya tidak pernah bertemu dengan lagi dia.''
''Ya sudah, terima kasih atas informasinya ya, Bi. Aku pergi dulu.''
''Tapi, Tuan muda mau kemana? bukannya Tuan baru saja pulang?''
''Nggak, Bi. Aku hanya mampir sebentar,'' jawab Daniel, lalu benar-benar keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
🌹🌹
Untuk mengobati rasa sesal yang saat ini terus menggerogoti hatinya, Daniel pun pergi ke sebuah Bar, duduk sendirian di temani segelas minuman beralkohol.
Dia pun menenggak minuman itu, dengan mata yang terpejam. Malam ini, dia ingin mabuk-mabukan agar rasa sesak di dadanya sedikit berkurang.
Daniel melambaikan tangannya kepada Bartender dan meminta dia mengisi penuh gelas miliknya yang sudah terlihat kosong, namun, merasa tidak puas, dia kini meraih botol minuman itu dan menuangkannya sendiri, hingga gelas pun terisi penuh dengan minuman sampai berceceran di atas meja.
''Mas, sudah penuh ...'' ucap Bartender mengingatkan.
''A-pa ...? Penuh ...? O iya ... Aku gak lihat, ha ... ha ... ha ...'' jawab Daniel dengan suara yang meliuk-liuk layaknya orang yang sedang mabuk berat.
Tanpa basa-basi lagi, dia pun segera meminum gelas tersebut hanya dengan sekali tegukan.
''Wah ...! Rasa minuman ini masih tetap sama, manis dan segar ...! ha ... ha ... ha ...''
Dia pun hendak mengisi kembali gelas itu dengan minuman, namun, sepasang tangan tiba-tiba meraih botol tersebut dan segera menyimpannya kembali di atas meja.
''Sudah cukup, kamu sudah terlalu banyak minum,'' ucap seorang wanita cantik, berambut panjang, dia duduk di kursi tepat di samping Daniel.
Daniel pun menoleh dengan perasaan kesal, dia menyipitkan matanya, mencoba menatap wanita tersebut dengan seksama, karena dia sedang dalam keadaan mabuk berat, wajah wanita itu pun terlihat buram dimatanya, samar-samar dia mencoba mengusap kedua mata dengan telapak tangannya berharap bahwa wajah wanita itu akan terlihat jelas dimatanya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1