
''Siapa kamu?!'' tanya Nyonya Dahlia, menatap wajah Daniel.
''Kenalkan, Mam. Dia calon suami aku, dan kami akan segera menikah ...'' Mika mengenalkan Daniel.
''Bukannya kamu pria yang tadi, ya ...?'' tanya Nyonya Dahlia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut.
''Betul Tante, saya tidak tahu kalau putri Tante ternyata Mika, nama saya Daniel, Tante,'' Daniel mengulurkan tangannya.
''Oh, Daniel ...? kamu calon suami Mika ...?''
Daniel menganggukkan kepalanya.
''Kapan kalian menikah ...?'' tanya Dahlia, masuk kedalam rumah begitu saja, lalu duduk di kursi ruang tamu.
Mika dan Daniel saling melayangkan tatapan sebelum keduanya masuk ke dalam rumah dan duduk saling berdampingan dengan tangan yang masih saling menggenggam satu sama lain.
''Pekerjaan kamu apa? orang tua kamu punya perusahaan apa? terus berapa mahar yang akan kamu berikan kepada putri Tante? mengingat Mika adalah putri yang paling berharga, Tante ingin kamu tidak sembarangan dalam memberi mahar,'' ucap Dahlia, dengan begitu sombongnya.
''Mamah ...? Apa-apaan sih? Pake nanya-nanya kayak gitu segala, yang namanya pernikahan itu yang penting sah di mata hukum dan juga agama, masalah mahar bisa di sesuaikan dengan kemampuan,'' ucap Mika sedikit kesal.
''Mika, sayang. Mamah melakukan ini karena mamah sayang sama kamu, mamah tidak ingin kamu kekurangan setelah kamu menikah nantinya, sama seperti yang Mamah alami dulu. Ketika udah nikah cinta itu nomor dua, nomor satu itu, duit ... Gak ada duit kita gak bisa makan, apa cinta itu bisa di makan atau di jual buat beli beras, hah ...?''
''Tante jangan khawatir, orang tua saya kaya raya, dan saya juga punya banyak uang untuk memberikan mahar yang besar untuk Mika, dan yang lebih penting dari itu semua, saya sangat mencintai dia, saya akan membahagiakan putri Tante ini, dan tentunya tidak akan pernah meninggalkan dia seperti yang di lakukan oleh mantan suaminya terdahulu,'' jawab Daniel dengan penuh rasa percaya diri.
''Baguslah kalau begitu. O iya, Tante sampai lupa, mobil kamu aja mewah dan mahal, mana mungkin kamu berasal dari keluarga biasa aja, 'kan?'' jawab Nyonya Dahlia.
''Nah, tadi Tante sudah ngerasain naik mobil saya, mewah 'kan?'' ujar Daniel sedikit cengengesan.
''Oke-oke ... Jadi, kapan kalian akan menikah?''
__ADS_1
''Kami belum dapat tanggal yang pas, Mam. Lagian gak terburu-buru gitu juga ko.''
''Mika, pernikahan itu gak baik di tunda-tunda, gimana kalau Minggu depan? persiapan pernikahan'nya biar Mamah yang atur, gedung, catering dan lain sebagainya, serahkan sama Mamah, gimana?''
''Mam ... Aku gak mau pernikahan aku diadakan di gedung segala, aku ingin pernikahan kita diadakan sederhana, dan hanya mengundang kerabat dekat aja, sayang 'kan uangnya, daripada di pake nyewa gedung dan segala macam, mendingan kita pake buat kebutuhan setelah menikah, lagipula ini bukan pernikahan pertama aku,'' jawab Mika, tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.
''Mika, kamu itu sungguh naif, pernikahan itu cuma sekali seumur hidup, jadi harus berkesan dan tidak terlupakan.''
''Gak, mam. Aku ingin pernikahan aku diadakan di rumah, titik.'' Mika dengan penuh penekanan.
''Ya sudah kalau kamu maunya begitu, Mamah gak bisa berbuat apa-apa lagi,'' jawab Nyonya Dahlia menyerah dengan keinginannya.
''Tante, saya setuju pernikahan diadakan Minggu depan. Meskipun saya ingin menggelar pernikahan secara besar-besaran seperti yang tadi Tante sarankan, tapi saya akan menuruti keinginan Mika yang ingin pernikahan ini diadakan sederhana, karena bagi saya, keinginan dia adalah keinginan saya juga,'' ucap Daniel menatap wajah calon istrinya.
''Baiklah, terserah kalian saja. Mika, sayang. Dengarkan Mamah, Mamah ingin hadir di pernikahan kamu kali ini, dan Mamah ingin ikut andil dalam mempersiapkan pernikahan kamu, walau Mamah terlihat seperti ibu yang tidak peduli, namun, Mamah ingin kamu bahagia, dan pernikahan ini menjadi pernikahan kamu yang terakhir,'' ucap Nyonya Dahlia tulus, menatap wajah sang putri dengan penuh kasih sayang.
''Makasih, Mam. Sudah sejak lama aku ingin mendengar Mamah mengucapkan hal itu, aku tidak ingin merasa sendirian lagi di hari pernikahan aku,'' jawab Mika dengan mata yang berkaca-kaca, merasa terharu karena sang ibu akhirnya menunjukan kasih sayangnya.
''Bagaimana kabar suami Mamah? apa usahanya sudah pulih lagi?''
''Ya, begitulah. Usahanya harus mulai dari nol lagi, Mamah gak bisa berbuat apa-apa selain terus ada di sisi dia, umur Mamah sudah tua untuk bercerai dan menikah lagi, lagipula siapa yang mau menerima wanita tua seperti Mamah,'' jawab Dahlia menunduk menyembunyikan kesedihannya.
''Siapa bilang Tante wanita tua? Tante masih cantik ko, bahkan kalian berdua tidak terlihat seperti ibu dan anak, malah lebih terlihat seperti kakak dan adik,'' hibur Daniel membuat calon ibu mertuanya itu tersenyum.
''Jadi maksud kamu, aku terlihat tua? kalau aku di samakan sama Mamah, itu berarti aku yang kelihatan tua, begitu ...?'' timpal Mika sedikit kesal.
''Eu, bukan seperti itu maksud aku, sayang. Maksud aku tuh-''
''Sudah-sudah jangan di bahas lagi, calon pengantin di larang berdebat, Mamah pamit sekarang.''
__ADS_1
''Perlu saya antar, Tante ...?'' Daniel menawarkan.
''Tentu saja. Apa kamu tega membiarkan calon mertua kamu sendirian jalan kaki ...?''
''Mamah bisa naik taksi, 'kan?'' timpal Mika.
''Gak apa-apa, Mika. Aku bisa anterin Tante pulang, lagipula aku juga ingin tahu dimana calon ibu mertua aku yang cantik ini tinggal,'' ujar Daniel membuat Dahlia tersenyum.
''Nah, itu baru calon mantu yang baik. Udah tampan, kaya, perhatian lagi ...'' ucap Nyonya Dahlia lalu berjalan ke arah luar.
''Aku anterin Mamah kamu dulu, ya.''
''Iya, hati-hati di jalan ya.'' Jawab Mika tersenyum.
Daniel mengangguk membalas senyum manis yang dilayangkan oleh Mikaila.
''Sayang, besok Mamah balik lagi ke sini, ya. Mamah bakal atur semua pernikahan kamu, agar kamu tidak sendirian dalam mempersiapkan hari bahagia itu, oke ...?'' teriak Nyonya Dahlia yang sudah berjalan di halaman.
''Baik, Mam. Hati-hati di jalan ya,'' teriak Mika melambaikan tangan.
Mika pun hanya bisa menatap punggung sang ibu yang berjalan di ikuti oleh calon suaminya. Jujur, sebenarnya, Mika merasa begitu bahagia sekarang, karena akhirnya dia bisa mendapatkan sedikit perhatian dari sang ibu, perhatian yang sudah sejak lama dia rindukan sebenarnya.
Setelah mereka berdua benar-benar pergi, Mika pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu pelan lalu menguncinya, namun, baru saja dia akan melangkahkan kakinya menjauh dari arah pintu, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan, membuat Mika pun mengurungkan niatnya tersebut lalu kembali membuka pintu.
'Kenapa mereka balik lagi?' ( Batin Mika )
Dia pun kembali memutar kunci dan membuka pintu.
''Kenapa kalian balik la-'' Mika tidak meneruskan ucapannya karena terkejut, ternyata yang datang bukanlah Daniel ataupun ibunya, dia pun membulatkan bola matanya seketika.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️